Opini

Bersih-Bersih Bea Cukai

56
×

Bersih-Bersih Bea Cukai

Sebarkan artikel ini
Bersih-bersih Bea Cukai dilontarkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Jargon yang berulang dari para menteri sebelumnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa di antara pegawai Bea Cukai.

Bersih-bersih Bea Cukai dilontarkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Jargon yang berulang dari para menteri sebelumnya. Semoga kali ini bersih beneran.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, penulis tinggal di Kabupaten Semarang

Tagar.co – Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berjanji akan menangkap besar-besaran para mafia selundupan, publik menahan napas antara percaya dan skeptis.

Di negeri yang korupsinya sering berpakaian resmi, kata bersih-bersih terdengar seperti musik yang indah tapi sering putus di tengah lagu. Yang ditunggu kini: nada akhir tindakan nyata atau harmoni semu.

Di depan gedung kementerian yang berdinding kaca, Purbaya Yudhi Sadewa berbicara dengan nada tegas. “Yang suka main selundup, saya tangkap. Bentar lagi ada penangkapan besar-besaran. Saya enggak peduli di belakangnya siapa,” ujarnya kepada wartawan, Jumat, 17 Oktober 2025.

Kalimat yang seolah membelah udara Jakarta siang itu menjadi dua: antara harapan dan kenangan akan janji-janji yang serupa sebelumnya.

Purbaya berbicara di tengah gelombang isu penyelundupan yang kian mencoreng citra perdagangan nasional.

Dari alkohol hingga perhiasan. Dari part motor gede hingga jam tangan mewah. Dari emas impor berkode HS-0 asal Singapura hingga produk Cina yang melenggang tanpa surat.

Semua menunjukkan satu hal: sistem kepabeanan masih berlubang seperti jaring usang yang dibiarkan menua di lautan kepentingan.

Beberapa laporan media dan analis perdagangan bahkan mencatat adanya celah besar dalam lalu lintas ekspor-impor Indonesia.

Tambang Ilegal

Data UN Comtrade 2024 menunjukkan selisih signifikan antara ekspor logam mulia dari Singapura ke Indonesia dan data impor yang tercatat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Baca Juga:  Meruntuhkan Tamak dengan Cukup

Perbedaan itu mencapai lebih dari dua ton logam per tahun ruang cukup bagi jaringan selundupan untuk menari tanpa suara.

Ironinya, sebagian emas yang “datang dari luar” justru berasal dari tambang ilegal di dalam negeri. Sebuah lingkaran setan yang memutar keuntungan haram, tapi tetap tercatat rapi di laporan resmi sebagai “emas impor legal”.

Inilah absurditas ekonomi modern: hukum yang dikurung dalam berkas, dan kejahatan yang mengenakan jas rapih serta tanda pengenal.

Namun Purbaya tampak tak ingin berhenti di retorika. Ia menyebut akan ada reformasi total di tubuh Bea Cukai.

Ucapan menteri keuangan itu disambut publik dengan tawa getir bukan karena tak percaya pada niatnya, tapi karena sejarah reformasi birokrasi di negeri ini sering berakhir di ruang rapat, bukan di ruang sidang pengadilan.

Program Berulang

Selama dua dekade terakhir, setiap menteri keuangan hampir selalu punya momen bersih-bersih Bea Cukai.

Tahun 2006, Sri Mulyani memulai audit besar-besaran yang mengguncang jantung birokrasi fiskal. Tahun 2013, Chatib Basri membentuk satuan pengawas integritas yang kini tak lagi terdengar kabarnya.

Tahun 2018, Sri Mulyani kembali mencoba menertibkan pungli di pelabuhan, tapi publik hanya mengingat headline, bukan hasil.

Kini giliran Purbaya mengangkat sapu besar itu lagi. Pertanyaannya: akankah sapu ini benar-benar menyapu, atau sekadar menggeser debu?

Beberapa pengamat ekonomi menilai langkah Purbaya berani tetapi berisiko. “Ia sedang bermain di wilayah abu-abu antara hukum dan kekuasaan. Jika tidak didukung penuh oleh presiden, operasi bersih-bersih ini bisa berhenti di tengah jalan,” ujar analis kebijakan publik dari Universitas Indonesia.

Baca Juga:  Menebar Nasi, Menjaga Hati: Antara Sedekah dan Riya di Era Konten

Kecurigaan publik juga mengarah pada rantai panjang oknum di lapangan. Di media sosial, beredar tudingan bahwa praktik manipulasi Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan penghindaran pajak dilakukan oleh sejumlah perusahaan ekspedisi dan importir besar.

Namun sejauh ini, belum ada bukti hukum yang dikonfirmasi oleh pemerintah. Seperti biasa, rumor berlari lebih cepat dari penyelidikan.

Sementara itu, dunia industri tekstil lokal menjerit. Para pelaku UMKM mengaku kalah bersaing dengan produk impor murah yang lolos bea.

“Kami kalah bukan karena kualitas, tapi karena hukum yang bisa dinegosiasikan,” ujar seorang pengusaha tekstil di Bandung.

Ironi industri ini makin jelas: negara kehilangan pajak, rakyat kehilangan pekerjaan, sementara para pemain besar menikmati bonus dari “permainan celah”.

Bukan hanya emas dan tekstil yang menjadi sorotan. Isu penyelundupan nikel juga bergulir. Data ekspor Indonesia tak mencatat jutaan ton nikel yang muncul di laporan impor China.

“Data bayangan” ini mengindikasikan potensi kejahatan terstruktur lintas negara. Di tengah sorotan global terhadap transisi energi, skandal semacam ini bukan sekadar soal uang, tapi juga soal integritas nasional.

Sinis

Di sisi lain, komentar publik di dunia maya menunjukkan sinisme yang mendalam. Ada yang menulis, “Kita lihat saja, berani nggak tangkap importir gelap yang bikin industri tekstil kita hancur?”

Baca Juga:  Undangan Pulang Datang lewat Ketaatan

Ada pula yang berkomentar,“Kalau mau bersih, ya sekalian hancur dulu biar bisa bangun dari nol.” Nada-nada seperti itu menunjukkan keletihan sosial sebuah kelelahan kolektif menghadapi janji yang terlalu sering diulang tanpa bukti.

Namun tetap ada seberkas optimisme. Di antara skeptisisme itu, beberapa ekonom menilai gaya Purbaya berbeda.

Ia tak datang dari birokrasi lama, dan belum punya beban politis sebesar pendahulunya. “Jika ia konsisten, ini bisa jadi momentum paling penting dalam pembenahan arus barang nasional,” tulis harian Kompas, 17 Oktober 2025.

Tapi tentu saja, di negeri ini, integritas kerap diuji oleh satu hal: seberapa kuat seseorang bertahan ketika ‘telepon dari atas’ mulai berdering.

Bersih-bersih memang terdengar heroik, tapi membersihkan sistem yang kotor dari dalam sering kali justru membuat tangan ikut kotor.

Di sinilah seni kepemimpinan diuji: antara menjaga idealisme atau mengelola kompromi. Dan sejarah Indonesia tahu yang bertahan biasanya bukan yang paling suci, tapi yang paling cerdik.

Jika langkah Purbaya benar-benar berlanjut, publik layak memberi dukungan. Tapi jika ini hanya drama politis, rakyat juga berhak menertawakan.

Karena di negeri ini, “penangkapan besar-besaran” terlalu sering berakhir dengan “tindakan kecil-kecilan.”

Pada akhirnya, publik hanya berharap satu hal: ketika sapu bersih-bersih mulai diayunkan, jangan berhenti karena debu terbang ke arah orang penting. Biarlah bersin-bersin sebentar, asal rumah benar-benar bersih. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto