
Di balik gemuruh mesin tua PG Madubaru Yogyakarta, mahasiswa Teknik Industri UMLA belajar langsung proses pengolahan tebu menjadi gula dan spiritus. Tak sekadar studi banding, kunjungan ini membuka wawasan nyata tentang sistem produksi terintegrasi dalam industri agro yang penuh sejarah.
Tagar.co — Asap tipis mengepul dari cerobong tua di Jalan Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin 28 Juli 2025. Di balik pagar besi yang mulai berkarat itu, mesin-mesin besar Pabrik Gula dan Spiritus Madubaru (PG Madukismo) masih bergemuruh, menandai denyut industri pengolahan berbasis hasil pertanian yang tak pernah padam.
Di sinilah, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) datang belajar. Dalam kunjungan industri yang berlangsung Selasa lalu, mereka tak hanya melihat, tetapi menyelami langsung bagaimana pabrik berusia lebih dari setengah abad itu memproses tebu menjadi gula, dan molase menjadi spiritus.
Baca juga: Belajar Langsung di Jantung Industri: Mahasiswa TI Umla Kunjungi PT MAK
Charismanda Adilla Tristianto, S.T., M.T., dosen pendamping yang turut mendampingi rombongan, menyebut kunjungan ini sebagai jembatan antara teori di kelas dan praktik lapangan. “Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana sistem produksi terintegrasi dijalankan, terutama di industri agro seperti Madubaru. Ini bukan sekadar studi banding, tapi pengalaman belajar yang otentik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa wawasan yang didapat mahasiswa tak hanya terbatas pada proses teknis. “Kami ingin mereka juga memahami bagaimana efisiensi produksi, pengendalian mutu, hingga manajemen sumber daya manusia bekerja secara simultan dalam sebuah sistem industri,” katanya.
Kedatangan rombongan UMLA disambut hangat oleh Mahfud Syansuri, Humas PG Madubaru. Dalam sambutannya, Mahfud menyampaikan bahwa PG Madubaru, yang telah berdiri sejak masa kolonial Belanda, selalu terbuka menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa teknik.
“Semoga yang dilihat dan dialami langsung oleh adik-adik mahasiswa hari ini dapat memperkaya pemahaman mereka tentang proses industri yang sesungguhnya, sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus belajar dan berinovasi,” tuturnya.

Selama kunjungan, para mahasiswa diajak menyusuri jalur produksi dari hulu ke hilir. Mereka melihat tumpukan tebu yang masuk ke stasiun gilingan, menyimak proses pemasakan dan klarifikasi, hingga menyaksikan bagaimana molase diolah menjadi spiritus melalui fermentasi dan distilasi.
Bagi sebagian mahasiswa, ini adalah kali pertama mereka menyaksikan secara langsung mesin-mesin industri bekerja dalam skala besar. Riuh mesin dan aroma khas fermentasi menjadi pengalaman tak terlupakan.
Di akhir kegiatan, tak sedikit mahasiswa yang mencatat dan berdiskusi antusias. “Ternyata praktik di lapangan jauh lebih kompleks daripada diagram di buku,” ujar salah satu peserta sambil menunjukkan catatan skematik alur produksi.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa belajar tak hanya dari papan tulis dan presentasi, tetapi juga dari dunia nyata yang bergerak dengan segala tantangan dan peluangnya. Dan bagi mahasiswa Teknik Industri Umla, PG Madubaru adalah salah satu tempat terbaik untuk itu. (#)
Jurnalis Anggaeta Tegar Prasetya Penyunting Mohammad Nurfatoni












