
Belajar dari kebiasaan Nabi Muhammad Saw banyak dilakukan sahabat karena ingin mendapat keberkahan dan meniru keteladanannya.
Tagar.co – Kita harus mempelajari kebiasaan sehari-hari Rasulullah Muhammad Saw. Tujuannya agar bisa meniru perilaku dan sifatnya.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Dakwah Lumajang, Suharyo AP, kepada jemaah pengajian Dusun Ponjen, Desa/Kecamatan Yosowilangun, Kamis (7/8/2025) malam.
Suharyo menyebut kebiasaan harian Rasulullah yang begitu indah, seperti istikamah menjaga salat malam atau Tahajud.
”Bahkan Nabi Saw suka membangunkan istrinya untuk munajat di keheningan malam,” jelasnya.
Kebiasaan berikutnya, kata dia, Nabi suka melakukan tafakkur Al-Qur’an. Yaitu merenungi kandungan Al-Qur’an. Dari sana banyak nasihat bisa diambil.
Nabi menyatakan, ada dua penasihat yang ada di bumi yaitu penasihat yang banyak bicara dan penasihat yang tidak banyak bicara.
Penasihat yang banyak bicara adalah Al-Qur’an. Semakin banyak dibaca semakin banyak pencerahan yang kita peroleh.
Penasihat kedua yang tidak banyak bicara, yaitu kematian.
”Ketika kita mendengar ada orang meninggal atau berpapasan dengan jenazah menuju ke pemakaman, hati kita bergetar dan sadar bahwa setiap orang pasti mengalami mati seperti orang itu,” tuturnya.
Bagian lain kebiasaan Nabi, sambung dia, adalah menjaga salat jemaahnya. Ini bukan hanya untuk pribadinya, umatnya juga dianjurkan melaksanakan.
Pagi hari Nabi biasa melaksanakan salat Duha. Bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, bahkan delapan rakaat. Sedang umatnya boleh dua rakaat atau lebih.
”Salat Duha itu dalam rangka membuka pintu langit supaya Allah gerojokan rezeki kepada hambaNya,” ujarnya.
Rezeki yang dimaksud, kata Haryo, bukan sekadar finansial atau uang. Semua yang kita rasakan baik kesehatan, kesuksesan, berfungsinya panca indra, dan lain-lain adalah rezeki dari Allah.
Kebiasaan berikutnya, Nabi setiap pagi bertanya kepada dirinya, saya hari ini akan berbuat baik apa kepada orang lain.
”Kita juga harus begitu kalau ingin mendapat perlakuan baik dari orang lain, berbuat baiklah kepada mereka,” tuturnya.
Kalau kita berbelanja pada tukang sayur jangan berlama-lama menawar, katanya. Nabi tidak suka hal itu terjadi pada pengikutnya.
”Senangkan orang lain, Allah akan menyenangkan kita,” jelas Suharyo.
Nabi Muhammad juga selalu menjaga wudunya supaya tidak gampang batal. Kalau batal langsung berwudu lagi.
Secara berkelakar Suharyo mengatakan, ada beda tipis antara Nabi dengan kita. ”Kalau Nabi batal segera wudu lagi. Sedang kita setelah wudu batal lagi,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Pengajian tema belajar dari kebiasaan Nabi berlangsung santai dan khidmat. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












