
Bantuan kebencanaan berbasis hak penyintas, bukan asal bersih-bersih lemari. Kebanyakan bantuan yang disalurkan hanya untuk laki-laki, sementara kebutuhan perempuan terabaikan
Tagar.co – Saat terjadi bencana, seperti yang sekarang terjadi di Sumatra, seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat umum bergerak untuk membantu. Sehingga tak jarang semua barang yang mereka anggap layak pakai didonasikan untuk penyintas bencana.
Alih-alih memberikan donasi pakaian layak pakai, justru mereka menggunakan kesempatan berdonasi untuk bersih-bersih lemari. Oleh karena itu, pengiriman bantuan ke lokasi bencana sebaiknya berbasis pada hak dan kebutuhan penyintas.
Dewan Pakar Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Rahmawati Husein, menyampaikan hal itu dalam wawancara yang ditayangkan Muhammadiyah Channel, Selasa (2/12/2025).
Menurut Rahmawati Husein, semangat berperan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia perlu dikelola sebab memiliki dampak ke para penyintas.
“Maka para donatur, atau siapapun yang memiliki perhatian terhadap isu kebencanaan untuk tetap menggunakan perspektif gender. Ini supaya donasi bantuan yang disalurkan bisa dimanfaatkan oleh semua penyintas, termasuk perempuan,” ujarnya dilansir dari muhammadiyah.or.id, Jumat (5/12).
Tak Lagi Galang Pakaian Layak Pakai
Mengisahkan pengalamannya ketika menjadi relawan Muhammadiyah untuk bencana Tsunami Aceh, Rahmawati menemukan, karena diabaikannya perspektif gender, bantuan yang disalurkan hanya untuk laki-laki saja. Sementara kebutuhan perempuan terabaikan.
“Belajar kebencanaan itu kita memperbaiki terus menerus. Apa saja yang dibutuhkan termasuk kebutuhan perempuan. Tidak hanya pembalut, pakaian dalam, bahkan kerudung itu jadi masalah,” ungkapnya.
Menolong para penyintas, lanjutnya, selain dengan strategi juga harus berbasis hak-hak yang terdampak. “Jangan berbasis kita membersihkan lemari, karena ada pakaian pantas pakai maka dibersihkan lemarinya,” pesannya.
Setelah kenyang pengalaman menggalang donasi pakaian pantas pakai, namun kenyataan berkata lain. Pakaian yang diterima banyak yang rusak, Muhammadiyah kemudian tidak lagi melakukan penggalangan pakaian layak pakai.
“Karena rata-rata orang memberikan pakaian pantas pakai itu tidak pantas dipakai lagi. Ada yang resletingnya rusak, kancingnya tidak ada, sudah lusuh, sobek. Mereka tidak memeriksa dengan teliti, yang penting membersihkan lemari,” jelasnya.
Pakaian pantas pakai, sambungnya, lebih baik diuangkan untuk membeli kebutuhan pokok yang mendesak, sesuai dengan kebutuhan penyintas. (#)
Jurnalis Sugiran.












