Buku

Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

286
×

Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

Sebarkan artikel ini

Memadukan kearifan lokal dengan nilai-nilai Islam, buku ini menghadirkan dakwah yang sejuk, menghibur, dan sarat makna. Pujian dari Cak Kartolo menegaskan kekuatan parikan sebagai media komunikasi spiritual yang dekat dengan hati rakyat.

Tagar.co – Di tengah dinamika metode dakwah yang semakin beragam, buku Dakwah Merakyat lewat Parikan karya H. Soedjono, M.Pd. hadir sebagai oase yang menyegarkan. Buku ini menawarkan pendekatan dakwah yang unik dengan memanfaatkan parikan, bentuk pantun khas Jawa Timur yang sarat humor dan kearifan lokal.

Melalui pendekatan ini, penulis yang mendapat julukan Dai Segudang Parikan ini berhasil menjembatani nilai-nilai keislaman dengan budaya lokal, sehingga pesan dakwah menjadi lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Kesuksesan buku ini terlihat dari terbitnya dua cetakan dalam waktu relatif singkat, yakni cetakan pertama pada November 2025 dan cetakan kedua pada April 2026, yang menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap karya ini.

Berbasis Parikan

Buku ini merupakan kumpulan artikel mini bertajuk Parmin The Series yang berisi parikan, ayat Al-Qur’an, hadis, doa, serta refleksi kehidupan sehari-hari. Penulis terinspirasi dari kebiasaannya membagikan pesan dakwah melalui “Tahajud Call” setiap dini hari kepada masyarakat melalui berbagai media sosial.

Struktur buku disusun secara tematis dengan lebih dari seratus judul yang membahas berbagai aspek kehidupan, seperti syukur, kesabaran, keikhlasan, hingga pentingnya menjaga akhlak. Setiap bab diawali dengan parikan yang berfungsi sebagai pengantar sekaligus penarik perhatian pembaca. Misalnya, pada bab awal terdapat parikan:

“Ngombe es jus tomat
nang warunge Pak Samad
Yen pingin uripmu berkat
kudu niat lan semangat.” (hlm. 1)

Parikan tersebut kemudian diikuti dengan penjelasan yang mengaitkan nilai spiritual dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini menjadikan buku terasa ringan namun tetap sarat makna.

Selain itu, prolog buku menggambarkan secara konkret bagaimana penulis menyampaikan dakwah melalui ceramah yang diselingi puluhan parikan, sehingga suasana menjadi cair dan pesan keagamaan lebih mudah diterima oleh jamaah (hlm. xxi–xxiv).

Antara Dakwah dan Budaya Lokal

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada integrasi antara dakwah dan budaya lokal. Penulis berhasil menunjukkan bahwa Islam dapat disampaikan melalui media yang akrab dengan masyarakat tanpa kehilangan substansi ajarannya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep dakwah kultural yang menekankan pentingnya kearifan lokal sebagai sarana penyampaian pesan agama.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana, komunikatif, dan penuh nuansa humor. Hal ini membuat pembaca dari berbagai latar belakang pendidikan dapat dengan mudah memahami isi buku. Parikan yang disajikan tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai media mnemonic yang memudahkan pembaca mengingat pesan moral.

Keunggulan lainnya adalah konsistensi tema spiritual yang menekankan pentingnya hubungan manusia dengan Allah serta sesama. Misalnya, dalam pembahasan tentang syukur, penulis mengutip firman Allah yang menegaskan bahwa rasa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat (hlm. 3–4). Hal ini menunjukkan bahwa buku ini tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga memiliki landasan teologis yang kuat.

Selain itu, buku ini turut berperan dalam pelestarian budaya lokal, khususnya parikan yang mulai tergerus oleh arus globalisasi. Dengan mengangkat kembali tradisi ini, penulis tidak hanya berdakwah, tetapi juga menjaga identitas budaya bangsa.

Pujian Cak Kartolo

Salah satu aspek yang memperkuat nilai kultural buku yang diterbitkan Kanzun Books ini adalah apresiasi dari tokoh seni tradisional Jawa Timur, Cak Kartolo, maestro ludruk yang dikenal luas sebagai pelestari parikan.

Dalam endorsement-nya, Kartolo menilai bahwa buku ini “memang bagus” karena memadukan misi dakwah dengan humor-humor segar yang bermakna serta menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna oleh semua lapisan masyarakat (hlm. v).

Komentar tersebut bukan sekadar pujian, melainkan penegasan atas keberhasilan penulis dalam mengangkat parikan dari ranah hiburan tradisional menuju medium dakwah yang efektif. Sebagai bagian integral dari kesenian ludruk, parikan selama ini dikenal sebagai sarana komunikasi rakyat yang bersifat jenaka dan reflektif.

Dengan latar belakang Kartolo sebagai praktisi budaya, apresiasi ini memberikan legitimasi kultural terhadap pendekatan dakwah yang ditawarkan oleh H. Soedjono.

Lebih jauh, pengakuan dari Kartolo menunjukkan bahwa buku ini tidak hanya relevan dalam konteks keagamaan, tetapi juga berperan penting dalam pelestarian budaya lokal. Parikan yang sebelumnya identik dengan panggung ludruk kini mengalami transformasi fungsi menjadi media penyampaian pesan spiritual yang menyentuh hati tanpa kesan menggurui.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah yang inklusif dan merangkul, sebagaimana tercermin dalam berbagai artikel mini yang disajikan penulis.

Bagiamana Pembaca Luar Jawa?

Meskipun memiliki banyak keunggulan, buku ini tidak luput dari beberapa catatan kritis. Pertama, struktur pembahasan yang berupa artikel-artikel pendek terkadang terasa repetitif, terutama dalam penyampaian pesan moral yang serupa di berbagai bab. Hal ini dapat menimbulkan kesan monoton bagi pembaca yang mengharapkan variasi analisis yang lebih mendalam.

Kedua, penggunaan bahasa Jawa dalam parikan, meskipun menjadi kekuatan utama buku, dapat menjadi kendala bagi pembaca yang tidak memahami bahasa tersebut. Akan lebih baik apabila disertakan terjemahan atau penjelasan yang lebih rinci agar pesan yang disampaikan dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Secara keseluruhan, buku karya Kepala SD Negeri Putat Gede 1 Surabaya ini merupakan karya yang inspiratif dan inovatif dalam khazanah literatur dakwah di Indonesia. Buku ini berhasil menghadirkan dakwah yang sejuk, membumi, dan menyenangkan melalui pendekatan budaya lokal. Kehadirannya tidak hanya memberikan pencerahan spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam pelestarian tradisi parikan sebagai warisan budaya bangsa.

Dengan gaya bahasa yang mengalir, humor yang segar, serta pesan moral yang kuat, buku ini layak dibaca oleh para dai, pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin memahami dakwah dengan pendekatan yang lebih humanis dan kontekstual. Terbitnya dua cetakan dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa buku ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. (#)

Data Buku

  • Judul: Dakwah Merakyat lewat Parikan
  • Penulis: H. Soedjono, M.Pd.
  • Penerbit: Kanzun Books
  • Tahun Terbit: Cetakan I November 2025; Cetakan II April 2026
  • Tebal: xxx + 230 halaman
  • Ukuran: 20×14 cm
  • Kertas isi: Book Paper
  • ISBN: 978-623-6250-83-9
  • Info pemesanan: +62 815-5208-891 (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni