Telaah

Belajar Bahagia, Syukuri Apa yang Ada

38
×

Belajar Bahagia, Syukuri Apa yang Ada

Sebarkan artikel ini
Ustaz Soedjono

Kenduri nang omahe Pak Jono,
nggawa roti diwadhahi baki,
Syukuri opo wae sing wis ono,
supaya ati ora iri lan dengki.

Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan

Tagar.co – Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lupa menghitung nikmat yang telah diberikan Allah. Kita sibuk mengejar apa yang belum dimiliki, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada.

Padahal, rasa syukur adalah kunci ketenangan hati dan pintu datangnya nikmat baru. Allah Swt. telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrahim: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sikap hidup. Orang yang bersyukur akan menerima setiap keadaan dengan lapang dada. Ia tidak iri pada rezeki orang lain, karena yakin bahwa setiap orang punya bagian dan waktunya sendiri.

Baca juga: Dalam Nama Allah, Tiada Bahaya di Langit dan Bumisoedjo

Ketika hati penuh syukur, hidup terasa ringan. Cobaan tampak sebagai ujian kasih sayang, bukan hukuman. Nikmat sekecil apa pun terasa besar karena dilihat dengan mata iman, bukan dengan kacamata dunia.

Baca Juga:  Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

Mari kita panjatkan doa bersama:

“Ya Allah, ya Rabb, jadikanlah kami hamba-Mu yang selalu bersyukur dengan apa yang telah ada, agar hidup kami tenteram, hati ini tenang, dan jauh dari rasa iri, dengki, serta ambisi berlebihan yang terkadang menghalalkan segala cara. Amin.”

Dan sebagai wujud rasa syukur itu, monggo nderekaken salat tahajud. Sebab dalam heningnya malam, syukur terasa paling tulus, dan doa paling dekat dengan Sang Pemberi Nikmat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni