Cerpen

Mbah Kasminah dan Bantal Kayu Langgar Al-Muhsin

53
×

Mbah Kasminah dan Bantal Kayu Langgar Al-Muhsin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mbah Kasminah

Kasus pemuda di Sibolga yang tewas karena tidur di masjid menampar nurani kita. Di langgar kayu kecil Al-Muhsin, Mbah Kasminah dulu mengajarkan Islam dengan cara paling sederhana: menyambut orang letih dengan teh hangat dan tempat rebah. Kini, keramahan itu makin langka.

Cerpen oleh Qosdus Sabil; Pemerhati masalah sosial-budaya.

Tagar.co – Berita itu membuat dadaku serasa diremas. Seorang pemuda yang hanya ingin numpang tidur di sebuah masjid di Sibolga, dipukuli hingga meninggal. Ia datang membawa lelah, tapi pulang membawa ajal. Yang lebih menyedihkan, semua terjadi di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi umat: rumah Allah.

Beberapa masjid sekarang dipenuhi tulisan besar bertinta tebal: “DILARANG TIDUR DI MASJID.” Setelah salat berjemaah, lampu dan pendingin ruangan segera dimatikan.

Tak jarang, pintu dikunci rapat tak lama setelah imam membaca salam. Jemaah yang hendak beriktikaf, musafir yang butuh rebah, atau siapa pun yang hanya mencari tenang, seperti tidak lagi dianggap bagian dari rumah ibadah itu.

Baca juga: Kisah si Santri Mbeling: Wafatnya Yangti Apik

Saat membaca berita itu, ingatanku langsung terbang pada satu sosok: Mbah Kasminah—perempuan sepuh yang dulu menjaga sebuah langgar kecil di kampung kami.

Ia bukan ustazah, bukan pengurus takmir, bukan pula tokoh yang sering muncul di panggung ceramah. Tapi dari tangannya, aku belajar tentang wajah Islam yang paling lembut: keramahan kepada sesama manusia.

Langgar Al-Muhsin bukan bangunan besar. Hanya bangunan panggung dari kayu jati, beratap genteng, lantainya memancarkan aroma kayu tua yang bersih. Di situlah Mbah Kasminah mengabdikan hampir seluruh hidupnya.

Setiap ada orang asing datang—entah buruh tani, musafir, pedagang keliling, atau anak-anak perantau yang kelelahan—beliau selalu menyambut mereka seperti keluarga jauh yang baru pulang dari perjalanan panjang.

“Sudah mandi, Le? Mau minum hangat?” begitu kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya.

Tamu-tamu itu kadang datang dengan sepeda onthel, pakaian lusuh, rambut yang dipangkas sendiri, dan wajah penuh debu perjalanan. Mereka bukan jemaah tetap, bukan warga kampung. Tapi pintu langgar tak pernah menolak mereka.

Baca Juga:  Doa yang Tak Pernah Pensiun

Sambil membawa nampan kecil, Mbah Kasminah menyodorkan teh hangat atau singkong rebus. Tidak pernah banyak, tapi selalu terasa cukup. Sesudah itu, barulah ia bertanya pelan:

“Kerja di mana, Le? Mau menginap berapa hari?”

Lalu tamu itu menjawab dengan sopan. Sering kali mereka malu, tapi justru dengan pertanyaan sederhana itu mereka merasa semakin diuwongke (dimanusiakan).

Abah kami pun tidak jarang ikut menemani mereka berbincang. Kalau tamu itu takut tidur di langgar karena suasana malam terlalu sunyi—sementara kadang orang menganggap langgar ini angker—Abah akan mengajaknya ke rumah.

Tikar pandan digelar di ruang tamu, bantal seadanya, dan pintu tidak pernah dikunci. “Semoga berkah,” begitu kata Abah, “siapa tahu salah satu dari mereka adalah malaikat yang sedang menyamar.”

Dulu, kami—anak-anak laki-laki kampung—sering memilih tidur di langgar. Bahkan jadi bahan ejekan kalau kami hanya nyaman tidur enak di rumah sendiri.

Di sana kami bercakap hingga larut, berguling di lantai kayu, bermain catur atau petak umpet, membaca buku cerita, atau sekadar mendengarkan suara jangkrik yang sedang menyanyikan malam.

Rasanya seperti hidup di tengah keluarga besar yang tidak pernah menanyakan apa status sosialmu.

Dan satu benda yang paling kuingat dari masa itu: bantal kayu buatan Mbah Moenari, suami Mbah Kasminah.

Bantal-bantal itu dibuat dari kayu waru dan randu yang sudah dikeringkan. Dipahat sedikit melengkung di bagian tengahnya agar leher pas ditopang. Untuk ukuran kayu, bantal itu tergolong empuk. Tidak mudah bau, tidak rusak meski dipakai puluhan tahun. Bahkan rayap pun tak berani memakannya.

“Kalau tidur lalu leher menjadi tengeng, bantal kayu paling mujarab,” kata Mbah Moenari sambil tertawa. “Lehermu bisa balik normal.”

Dan betul saja. Saat lelah setelah main bola, atau kecapekan setelah ikut membantu si Mbah bekerja di sawah, atau dalam perjalanan jauh, kami tidur dengan kepala di atas bantal kayu itu—dan entah bagaimana, bangun-bangun badan rasanya segar.

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

Meski begitu, Mbah Kasminah tetap menyimpan beberapa bantal kapuk untuk tamu yang belum terbiasa. “Jangan sampai karena bantalnya keras, orang kapok tidur di langgar,” katanya.

Apa yang beliau lakukan mungkin tampak sederhana. Tapi di situlah nilai besarnya: ia tahu bahwa mengistirahatkan orang lain adalah bagian dari ibadah, meski tidak pernah ia sebut sebagai ibadah. Ia tidak pernah bicara soal fikih tamu masjid, tapi tindakannya menjawab semua dalil.

Saat ada anak kecil kebelet kencing lalu tumpah ambyar di lantai, Mbah Kasminah hanya tersenyum.

“Namanya bocah, ya biarlah,” katanya sembari mengambil seember air. Tidak ada teriakan. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada pengusiran.

Aku baru paham bertahun-tahun kemudian, bahwa beliau sedang mempraktikkan apa yang pernah dilakukan Nabi Saw. kepada seorang Badui yang kencing di masjid Nabawi. Saat para sahabat marah dan mengusir Badui itu, Nabi mencegah mereka. Beliau membiarkan Badui itu menyelesaikan hajatnya, lalu mengajarinya dengan kasih, bukan dengan bentakan.

Dulu, aku pikir kisah itu hanya dongeng untuk anak TPA. Tapi dalam diri Mbah Kasminah, kisah itu hidup. Tanpa papan larangan, tanpa pengeras suara yang tegas, tanpa karpet tebal yang harus dijaga suci berlebihan. Ia menjaga kesucian hati dulu, baru bangunan.

Kini aku bertanya-tanya: apakah kita telah mengubah masjid menjadi museum dari kerapian, bukan tempat pulang bagi orang yang letih?

Ketika aku membaca berita tentang pemuda yang tewas hanya karena ingin tidur di masjid, rasanya seperti ada yang patah di dalam diriku. Masjid seharusnya menjadi tempat paling aman bagi umat yang berpindah-pindah tempat tinggal: musafir, perantau, pekerja kasar, dan siapa pun yang sedang mencari tenang. Tapi kini, yang sering kita jaga justru karpetnya atau keramiknya, bukan manusianya.

Aku rindu masjid yang hidup seperti rumah. Masjid yang lebih dulu menghidangkan air minum daripada memasang CCTV. Masjid yang menyalakan lampu untuk orang yang butuh kehangatan, bukan mematikannya demi menghemat listrik. Masjid yang tidak hanya rapi dipel, tetapi juga luas dipeluk.

Baca Juga:  Tuduhan di Hari Raya

Aku rindu suasana langgar kayu itu.
Rindu wajah teduh Mbah Kasminah.
Rindu bantal kayu yang keras, namun membuat tidur terasa damai.
Rindu malam-malam penuh tawa, tanpa gembok di pintu dan tanpa tulisan larangan di dinding.
Rindu Islam yang tidak hanya diajarkan lewat kitab, tapi lewat sikap: lembut, mengasihi, dan murah hati.

Dan entah kenapa, sampai hari ini, bantal kayu itu tetap menjadi kenangan. Warnanya mungkin sudah makin kusam, tapi tiap kali dulu kutiduri, ada sesuatu yang kembali pulih dalam diriku—seolah aku sedang meletakkan kepala di pangkuan masa lalu yang masih percaya bahwa setiap orang berhak diselamatkan oleh istirahat.

Mbah Moenari telah lama kembali ke pangkuan Allah. Mbah Kasminah menyusul beberapa tahun kemudian. Langgar Al-Muhsin sekarang sudah direnovasi, karena papan lantainya pernah ambrol saat menanggung beban berat jemaah salat jenazah yang berdesakan. Lantainya kini diganti keramik, lampunya LED, karpetnya tebal. Tetapi pintunya tetap tidak pernah terkunci di malam hari.

Tak ada lagi bantal kayu.

Tapi mungkin masih ada yang bisa kita jaga: warisan keramahan yang dulu pernah kita miliki. Islam yang tidak kaku pada bentuk, tetapi hidup dalam tindakan. Islam yang tidak sekadar mengajarkan cara sujud yang benar, tetapi juga cara menyambut tamu yang letih.

Karena sebelum masjid menjadi megah oleh bangunannya, ia harus lebih dulu menjadi luas oleh hatinya.

Dan bila suatu hari nanti ada orang asing yang mengetuk pintu masjid—bukan untuk mencuri, tapi hanya untuk tidur—semoga kita tidak lupa: mungkin di situlah malaikat sedang menguji siapa yang masih memegang agama ini dengan kasih, bukan sekadar aturan.

Bantal kayu pernah mengajariku bahwa istirahat juga bagian dari ibadah.
Bantal kayu, aku kini sangat merindukanmu…. (#)

Ciputat 15 Jumadilawal 1447/6 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni