
Metode Iqro’ tak lahir dalam sekejap. Ia buah dari perjalanan panjang, sakit, dan semangat dakwah As’ad Humam. Karya ini membuat jutaan anak Indonesia mampu membaca Al-Qur’an dengan cepat dan menyenangkan.
Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya
Tagar.co – K.H. As’ad Humam adalah penemu dan kemudian membukukan Metode Iqro’: Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an. Sangat boleh jadi, pada awalnya ia tidak membayangkan bahwa karyanya akan menyebar sampai ke Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika.
Selanjutnya, mari baca berita pada 26 Februari 2020 ini: “Pencipta Metode Iqro’ Raih Lifetime Achievement Award IBF”. Disebutkan bahwa Panitia Islamic Book Fair (IBF) 2020 memutuskan memberi penghargaan kepada (almarhum) As’ad Humam sebagai penulis buku Iqro’.
Hal ini karena karyanya melegenda bagi kemajuan bangsa, terutama bagi anak-anak generasi penerus dalam belajar membaca Al-Qur’an. Penghargaan tersebut berupa Lifetime Achievement Award.
Baca juga: Sejarah Lahirnya Metode Iqro’ di Mata Mitsuo Nakamura
Itu semua menunjukkan nilai manfaat yang sangat luar biasa dari karya lelaki asal Yogyakarta itu. Rasanya, nilai manfaatnya masih akan berumur sangat panjang.
Buku Iqro’ terdiri dari enam jilid, disusun secara praktis dan sistematis. Hal itu memudahkan bagi setiap orang yang belajar dan mengajarkan membaca Al-Qur’an dalam waktu yang relatif singkat.
Sejak tahun 1950-an As’ad Humam telah menekuni bidang pengajaran Al-Qur’an. Ia berpengalaman menggunakan berbagai metode yang dalam kenyataannya belum sempurna.
Atas dasar pengalaman yang cukup lama dan permintaan dari berbagai pihak, maka berkat hidayah Allah, kerja keras, dan bantuan banyak pihak, tersusunlah buku Iqro’ yang melegenda itu.
Buah Ketekunan
Mari perhatikan sampul buku yang terdiri dari enam jilid itu. Di bagian belakang sampul, terdapat gambar seorang lelaki tua. Ia berperawakan kurus, berkacamata, memakai jas hitam, dan berpeci.
Lelaki itu adalah As’ad Humam, penemu Metode Iqro’. Ia berasal dari Kotagede, Yogyakarta, lahir tahun 1933. Nama Humam merujuk kepada ayahnya, Humam Siradj, seorang pedagang sukses di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.
Ia tumbuh di keluarga dan lingkungan Muhammadiyah. Ia suka belajar. Pendidikannya dimulai di SD Muhammadiyah Kleco, Yogyakarta. Lalu, SMP Negeri di Ngawi, kemudian Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, As’ad Humam berhenti di kelas II karena sakit pada tahun 1963. Ia mengalami pengapuran tulang belakang dan harus dirawat setengah tahun.
Sejak itu ada fungsi fisik yang berkurang. Lehernya tidak bisa digerakkan. Untuk berjalan, ia mesti menggunakan tongkat sebagaimana tampak pada gambar di sampul belakang buku Iqro’.
Ia lalu berhenti dari pendidikan formal, tetapi terus mendapat pelajaran dari banyak orang di sekitarnya, termasuk ayahnya yang seorang guru di SD Muhammadiyah Kleco dan mubalig ternama.
As’ad Humam tetap bersemangat. Ia sempat belajar di Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak, Yogyakarta. Di pesantren yang terkenal dengan keunggulannya dalam pengajaran Al-Qur’an itu, ia belajar selama dua tahun.
Ia juga belajar langsung kepada KH Dachlan Salim Zarkasyi. Tentang sosok ini, Akhmad Ayub menulis:
“KH Dachlan Salim Zarkasyi mempunyai peran penting dalam pengembangan pembelajaran membaca Al-Qur’an di Indonesia. Melalui metode Qiroati yang ditemukannya dan lembaga TK Al-Qur’an yang didirikannya, ia meletakkan dasar lembaga pendidikan nonformal Al-Qur’an pertama di Indonesia, yang kemudian berkembang menjadi TPQ/TPA. Metode Qiroati memengaruhi munculnya metode membaca Al-Qur’an setelahnya.”
Metode Iqro’ ditemukan As’ad Humam. Saat itu, ia ditemani aktivis Muhammadiyah lainnya, M. Jazir ASP (kini Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta). Visi As’ad Humam adalah memberikan metode yang paling mudah, cepat, dan efektif dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an, khususnya bagi anak-anak.
Menemukan metode Iqro’ tidaklah sekejap, melainkan butuh bertahun-tahun. Setelah menemukan metode tersebut, As’ad Humam bersama M. Jazir ASP dan dibantu Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musala (AMM) Yogyakarta mendirikan TK Al-Qur’an AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986.
Tahun 1988, di rumahnya di Kampung Selokraman, Kotagede, Yogyakarta, didirikan Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) untuk anak usia 4–6 tahun. Setahun kemudian berdiri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) untuk anak usia 7–12 tahun. Dari sinilah Iqro’ mulai menyebar luas.
Berbeda dengan metode sebelumnya, Iqro’ yang terdiri dari enam jilid tidak lagi dieja, melainkan menyajikan bacaan dengan sistem suku kata. Mula-mula dipilih kata-kata yang akrab bagi anak, seperti ba-ta, ka-ta, ba-ja, dan sebagainya.
Setelah itu dilanjutkan dengan kata lebih panjang, kemudian kalimat pendek, lalu mempelajari kata yang ada dalam surah-surah pendek. Semuanya disajikan sederhana sehingga anak-anak mudah mempelajarinya.
Menurut As’ad Humam, ada “10 Sifat Buku Iqro’”, yaitu: bacaan langsung, CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), privat/klasikal, modul, asistensi, praktis, sistematis, variatif, komunikatif, dan fleksibel.

Berkembang dan Berkembang
Setelah berhasil di Kotagede, Yogyakarta, sistem Iqro’ berkembang ke Gresik dan Semarang. Pada tahun 1988, metode Iqro’ mendapatkan pengakuan dari Menteri Agama sehingga mulai didistribusikan secara nasional pada 1992.
Metode ini dinilai memiliki banyak kelebihan, seperti kemudahan dan akurasi. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa metode ini efektif mengajarkan membaca Al-Qur’an bagi pemula. Sebuah kajian menyebutkan, tingkat keberhasilannya mencapai 89,9 persen bagi anak usia TK dalam waktu enam hingga 18 bulan.
Pemerintah Malaysia mengadopsi metode Iqro’ secara resmi pada akhir 1990-an. Sejak itu, Iqro’ menyebar ke Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika.
Pahlawan Penyelamat
Atas jasanya yang besar, As’ad Humam mendapat banyak penghargaan dari pemerintah. Pada 1991, Menteri Agama Munawir Sjadzali menobatkan TKA-TPA asuhan As’ad Humam sebagai Balai Penelitian dan Pengembangan LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Nasional. Kehadiran Iqro’ pun menyedot perhatian umat Islam seantero nusantara, bahkan mancanegara.
As’ad Humam wafat pada Ramadan, Jumat 2 Februari 1996, sekitar pukul 11.30 WIB. Jenazahnya disalatkan ribuan jemaah di Masjid Baiturrahman, Selokraman, Kotagede, Yogyakarta.
Banyak kalangan berduka. Banyak yang semakin merasakan besarnya jasa As’ad Humam setelah tokoh sederhana itu berpulang.
“Lewat sistem Iqro’ yang diciptakannya, KH As’ad Humam telah menyelamatkan masyarakat dari kebutaan terhadap Al-Qur’an. Beliau adalah pahlawan penyelamat Qur’an,” kata Menteri Agama saat itu, Tarmizi Taher, dalam upacara pemakaman Kiai As’ad Humam.
Rasanya cukup proporsional menyebut As’ad Humam sebagai penyelamat masyarakat dari kebutaan terhadap Al-Qur’an. Terutama bagi anak-anak, belajar Al-Qur’an menjadi lebih mudah dan menyenangkan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












