
Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi kebutuhan utama manusia. Tanpa bimbingannya, hidup terasa sempit dan tak bermakna. Temukan bagaimana Al-Qur’an menjadi kunci keseimbangan dan kebahagiaan sejati.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Oleh Ridwan Ma’ruf: Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo
Tagar.co – Kehidupan manusia sejak dahulu hingga akhir zaman selalu membutuhkan keseimbangan, kesejahteraan, dan keadilan. Konflik, peperangan, perbudakan, dan berbagai bentuk kezaliman sering terjadi akibat manusia mengabaikan, bahkan meninggalkan wahyu Allah, yaitu Al-Qur’an. Padahal, seluruh syariat dalam Al-Qur’an membawa kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Rahman 7-9):
وَالسَّماءَ رَفَعَها وَوَضَعَ الْمِيزانَ أَلاَّ تَطْغَوْا فِي الْمِيزانِ وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزانَ
“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”
Baca juga: Ramadan, Momentum Perlawanan terhadap Kemalasan
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menegakkan keadilan dan keseimbangan dalam hidup demi terciptanya kesejahteraan. Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an memberikan petunjuk agar manusia selalu berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan.
Allah juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Al-Qur’an adalah cahaya yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik, memberikan arah agar manusia tidak tersesat dalam mengambil keputusan.
Kesulitan Hidup Berawal dari Mengabaikan Al-Qur’an
Allah menginginkan kemudahan bagi manusia, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah 185:
يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ ….
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
Namun, kesulitan dan kesempitan hidup akan terus menyertai mereka yang menjauh dari Al-Qur’an. Allah memperingatkan dalam Surah Taha 124:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Ahli tafsir menjelaskan bahwa “penghidupan yang sempit” dalam ayat ini berarti seseorang yang hidup dalam kegelisahan, kebimbangan, dan ketidaktenangan, meskipun secara lahiriah ia memiliki kekayaan dan kemewahan. Hati yang jauh dari Al-Qur’an akan selalu merasa kosong dan gelisah.
Maka, kebutuhan manusia terhadap Al-Qur’an jauh lebih besar daripada kebutuhan akan makan dan minum. Seseorang bisa bertahan tanpa makan selama beberapa waktu dengan hanya meminum air, tetapi tanpa petunjuk dari Al-Qur’an, ia akan binasa di dunia dan akhirat.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (H.R. Malik, Baihaqi)
Kesimpulan
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, melainkan pedoman hidup yang mengandung keseimbangan, keadilan, dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Jauh dari Al-Qur’an berarti jauh dari ketenangan dan keberkahan hidup.
Oleh karena itu, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan adalah suatu keharusan agar manusia tidak tersesat dan hidup dalam kesempitan.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni








