
Sungai Martapura menjadi ‘jantung’ kota. Bentuknya berkelok layaknya ular piton. Di sungai ini pulalah, ekonomi warga bergantung. Dengan perahu kecil mereka terus mengail, menjemput perahu kelotok yang membawa uang.
Tagar.co – Ini adalah pengalaman pertama mengijakkan kaki di Kota Seribu Sungai Banjarmasin. Maka, karena pertama, menikmati Sungai Martapura dengan perahu kelotok tidak boleh dilupaka.
Ketika pagi masih buta, Sabtu (15/11/2025) sekitar pukul 05.15 WITA, usai shalat subuh berjemaah, Bersama dengan ketiga teman dan 4 bapak-bapak dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik naik perahu kelotok.
Langit masih gelap, hanya sinaran lampu yang menjulur dari rimbun pohon dan beberapa lampu di pinggir jalan yang masih menyala setia.
Bunyi mesin perahu menderu di telinga. Perahu pun melaju membelaj jantung kota. Melewati perahu yang bersandar, melintasi bawah jembatan, dan air air Sungai yang berwarna coklat.
Aku pun menikmati dengan setia jantung Kota Banjarmasin. Tidak sampai 20 menit, aku pun bepindah duduk. Yang awalnya di dalam perahu, aku pun pindah ke atas perahu. Sambil mengenakan topi warna cream, cara pandangku semakin luar. Sungai Martapura seperti kelokan ular raksasa.
Perahu pun terus melaju setengah kencang. Hampir 1 jam lebih sepuluh menit, aku pun sampai di tempat yang kunanti-nantikan, yaitu pasar apung. Ya, pasar apung yang biasa hanya bisa kusaksikan lewar layer kaca, sekarang menjadi nyata di depan mata. Sungai Martapura, denyut nadimu sekarang bersama ibu-ibu yang naik perahu kecil menjajakan makanan, minuman, bahkan cedera mata khas Banjar.

Sungai Martapura
Sungai Martapura merupakan sebuah sungai yang merupakan anak Sungai Barito yang muaranya terletak di Kota Banjarmasin dan di hulunya berlokasi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Sungai ini dahulu bernama Sungai Banjar Kecil atau Sungai Kayutangi dan karena banyaknya aktivitas pedagang Tionghoa di hilir sungai pada zaman dahulu maka disebut juga Sungai Cina (China river).
Nama sungai ini diambil dari nama Kota Martapura, yang terletak di sebelah hulu kota Banjarmasin. Nama Martapura diberikan oleh raja Banjar ke-4 Sultan Mustain Billah sebagai ibu kota yang baru didirikan kira-kira pada tahun 1630 setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayu Tangi, tepatnya di sebelah timur dari Kayu Tangi didirikan keraton baru yang disebut Martapura.

Karena itu nama kuno sungai Martapura adalah sungai Kayutangi. Nama lainnya yang dahulu digunakan adalah Sungai Tatas, mengacu kepada delta Pulau Tatas daerah yang pada 13 Agustus 1787 menjadi milik VOC-Belanda (kotta-Blanda) dan sekarang merupakan pusat kota Banjarmasin modern. Nama lain kota Banjarmasin adalah kota Tatas.
Sungai Martapura adalah sungai terpanjang di Kalimantan Selatan. Fakta menarik yang pertama dari sungai ini adalah panjangnya. Sungai ini memiliki panjang mencapai 600 km yang menjadikannya sebagai sungai terpanjang di Kalimantan Selatan.
Sungai ini mengalir dari Kabupaten Banjar sebagai bagian hulunya dan Kota Banjarmasin sebagai bagian hilirnya hingga ke induknya Sungai Barito.

Keunikan kedua, Sungai ini menjadi jalur perdagangan sejak zaman Kerajaan. Sungai ini menyimpan jejak sejarah panjang yang terukir sejak berabad-abad silam. Dahulu, sungai ini menjadi jalur perdagangan utama bagi Kerajaan Banjarmasin, menghubungkannya dengan berbagai wilayah di Kalimantan dan luar pulau.
Jejak sejarah ini masih dapat dilihat di beberapa situs bersejarah di sepanjang bantaran sungai, seperti Benteng Mataram dan Makam Sultan Adam. Tidak hanya itu pada zaman dahulu banyak sekali aktivitas para pedagang Tiongkok di hilir sungai ini, sehingga sempat dijuluki Sungai China.
Ketiga, sungai ini menjadi sumber kehidupan Masyarakat. Bagi masyarakat Banjar, sungai ini memiliki peran vital dalam kehidupan sehari-hari. Sungai ini menjadi sumber air bersih, tempat mencari ikan, dan jalur transportasi utama.
Di sepanjang sungai, terdapat banyak rumah-rumah penduduk yang dibangun di atas air, sehingga menciptakan pemandangan yang unik dan khas. Terakhir, Sungai ini juga dijadikan tempat festival budaya pasar terapung.
Setiap tahun, diadakan Festival Budaya Pasar Terapung di Sungai Martapura, di mana pengunjung dapat merasakan kearifan lokal dan menikmati berbagai kuliner khas Banjar. (#)
Jurnalis Ichwan Arif












