
Radia, Tatang, dan Ika adalah tiga dari sekian guru yang akhirnya bisa punya rumah sendiri. Program Rumah untuk Guru Indonesia membawa harapan baru bagi para pendidik di negeri ini.
Tagar.co – Wajah Radia Nurjanah berseri-seri pagi itu. Di tengah deretan rumah baru di Perumahan Pesona Kahuripan 11, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ia memandangi kunci rumah yang baru saja diterimanya. Sebagai guru taman kanak-kanak yang telah mengabdi selama 21 tahun, kepemilikan rumah menjadi pencapaian besar dalam hidupnya.
“Saya sebelumnya tidak punya rumah dan alhamdulillah pemerintah telah memfasilitasi guru-guru untuk memiliki rumah. Harapan saya, semoga Pemerintah lebih terus memperhatikan kesejahteraan guru-guru, terutama mereka yang belum memiliki hunian yang layak,” tutur Radia penuh haru, Selasa (25/3/24).
Baca juga: 20 Ribu Rumah Subsidi untuk Guru, Pemerintah Mulai Serahkan Kunci
Program yang membuat Radia bisa memiliki rumah sendiri adalah “Rumah untuk Guru Indonesia”, hasil kolaborasi antara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), PT Bank Tabungan Negara (BTN), Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), dan Badan Pusat Statistik. Dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sekaligus serah terima kunci yang dihelat hari itu, para guru penerima manfaat mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka.
Tak jauh dari tempat Radia berdiri, Tatang Riyanto, guru SMA Negeri 1 Cileungsi, juga tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Selama delapan tahun mengajar, guru asal Brebes ini tinggal di kos-kosan bersama istri. Kini, dengan rumah baru yang lokasinya hanya sepelemparan batu dari sekolah tempatnya mengajar, ia merasa hidupnya jauh lebih ringan.
“Rumah yang saya ambil di sini jaraknya dekat dengan tempat saya mengajar. Dengan begitu, saya tidak merasa kelelahan menempuh perjalanan ke sekolah dan dengan kondisi segar, saya bisa lebih bersemangat mengajar anak-anak,” ujarnya.
Kebahagiaan serupa dirasakan Ika Mustikawati, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Negeri 1 Kramatwatu. Sebelumnya, setiap hari Ika harus menempuh perjalanan selama satu setengah jam dari rumahnya ke sekolah. Melelahkan, namun tak menyurutkan semangatnya untuk hadir di kelas.
“Terkadang melelahkan namun anak-anak adalah semangat saya untuk datang ke sekolah,” ungkap Ika, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Rabu (26/3/25) sore.
Keinginan untuk lebih dekat dengan tempat mengajar membuat Ika akhirnya memberanikan diri mengajukan Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Kini, rumah impiannya telah ia miliki—lebih dekat dengan sekolah, lebih banyak waktu untuk mempersiapkan materi ajar, dan tentu saja, hadir dalam kondisi yang lebih bugar.
“Alhamdulillah, sekarang saya punya rumah. Ini seperti mimpi yang menjadi nyata karena sekarang saya memiliki rumah yang dekat dengan sekolah. Untuk teman-teman guru seperjuangan, tetap semangat,” ucapnya.
Program Rumah untuk Guru Indonesia hadir sebagai bentuk penghargaan bagi para pendidik yang selama ini berjibaku dalam dunia pendidikan tanpa pamrih. Bagi Radia, Tatang, dan Ika, program ini bukan sekadar bantuan tempat tinggal. Ini adalah bukti bahwa pengabdian mereka tak luput dari perhatian. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












