Opini

Air Mata Gaza, Pertanyaan untuk Kemanusiaan Kita

35
×

Air Mata Gaza, Pertanyaan untuk Kemanusiaan Kita

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Tangisan anak-anak Gaza bukan sekadar kabar duka, melainkan ujian nurani dunia. Palestina memperlihatkan siapa yang memilih berdiri bersama kemanusiaan dan siapa yang rela berpihak pada kezaliman.

Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri ADI Jawa Timur

Tangisan anak-anak di Gaza bukan lagi berita baru. Tangan-tangan kecil mereka menggenggam puing rumah yang hancur, tubuh ringkih mereka digendong keluar dari reruntuhan, dan air mata mereka membasahi bumi yang setiap hari dicekam dentuman bom.

Dunia menyaksikan, tetapi sebagian memilih diam. Bahkan, ada yang dengan lantang membela sang penindas.

Palestina, Cermin Kemanusiaan Dunia

Palestina bukan sekadar tanah kecil di Timur Tengah. Ia adalah cermin kemanusiaan dunia. Dari tragedi yang berlangsung di sana, kita dapat melihat siapa yang masih berpegang pada nurani, dan siapa yang tega menutup mata demi kepentingan politik atau materi.

Israel berulang kali membombardir Gaza, memutus akses listrik, air, makanan, bahkan bantuan kemanusiaan. Yang tersisa bagi rakyat Palestina hanyalah kesabaran, doa, dan keteguhan hati melawan penindasan.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace yang Berubah Menjadi “Board of War”

Namun, yang paling menyayat hati bukan hanya bom dan peluru, melainkan pengkhianatan sebagian bangsa Arab sendiri. Mereka yang seharusnya menjadi saudara dalam iman dan kemanusiaan, justru memilih bersekutu dengan Israel.

Demi kursi kekuasaan, demi keamanan semu, demi kontrak dagang. Nyawa anak-anak Palestina seakan ditukar dengan dolar.

Pertanyaan Nurani

Bagaimana hati manusia bisa begitu keras? Bagaimana mungkin ada yang membela negara penjajah yang secara sengaja membunuh rakyat tak bersalah dan menghapus satu bangsa dari peta dunia?

Bukankah setiap agama, setiap nurani, mengajarkan bahwa membunuh satu jiwa sama artinya dengan membunuh seluruh umat manusia?

Hari ini, Palestina mengajarkan kita bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh orang-orang berakal sehat. Ada yang rela menukar kebenaran dengan kepalsuan, menjual rasa kemanusiaan demi kepentingan sesaat.

Tetapi di sisi lain, kita juga menyaksikan cahaya: jutaan manusia di seluruh dunia yang tidak pernah berhenti bersuara. Mereka bukan orang Arab, bukan Muslim, bahkan mungkin tidak mengenal Palestina sekalipun. Mereka bersuara karena masih memiliki hati.

Baca Juga:  Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Luka Dunia, Ujian Nurani

Palestina adalah luka dunia, tetapi juga ujian bagi nurani kita semua. Apakah kita akan menjadi penonton pasif, atau berdiri bersama mereka yang tertindas? Sejarah telah mencatat bahwa penjajahan tidak akan pernah abadi.

Israel mungkin berkuasa dengan senjata dan miliaran dolar, tetapi mereka tidak akan mampu membungkam doa-doa dari langit dan suara hati manusia di bumi.

Pada akhirnya, Palestina akan merdeka. Dan ketika hari itu tiba, dunia akan tahu siapa yang berdiri di sisi kemanusiaan, dan siapa yang memilih berpihak pada kezaliman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni