
Riset bukan seharusnya menjadi pajangan akademik. Kepala BRIN Arif Satria memikul tugas besar: menghidupkan kembali semangat peneliti, menghubungkan laboratorium dengan kebutuhan rakyat, dan membumikan ilmu menjadi manfaat nyata.
Catatan Ahmadie Thaha; Kolumnis
Tagar.co – Bayangkan suasana di gedung BRIN: tak sedikit moral para peneliti nyaris hancur lebur, seperti gelas kaca yang terjatuh dari rak tinggi. Mereka puluhan tahun nyaman di lembaga penelitian masing-masing, dengan jabatan dan ruang kerja, bangga dengan laboratorium, tim, dan tumpukan data yang rapi.
Namun kemudian semua itu diangkut, dipaksa bersatu dalam satu badan jumbo bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di lembaga baru ini, nama-nama mereka tak jarang hanya jadi pajangan di direktori; wajah-wajah di papan organogram yang lebih menyerupai stempel birokrat ketimbang ilmuwan.
Baca juga: Rumoh Geudong: Dari Pos Penyiksaan ke Memorial Perdamaian
Anda tahu, posisi pimpinan BRIN sekarang ini banyak diisi oleh figur yang lebih piawai bermain politik daripada meramu hipotesis dan angka-angka statistik. Para peneliti semakin terpojok di antara tuntutan rakyat yang mengharapkan uang pajak mereka tidak dihambur-hamburkan untuk menggaji mereka.
Frustrasi berlapis-lapis mengendap di sudut-sudut laboratorium. Tumpukan laporan menumpuk tanpa disentuh. Dan burung-burung hantu yang sejak lama menjadi lambang kecerdasan seolah hidup, menempati rak-rak tinggi, seakan mengangguk setuju: “Ya, ini tempatnya ilmuwan jadi dekorasi.”
Masuklah Arif Satria ke sana, segera seusai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana (11/11/2025). Ia bukan peneliti kaleng-kaleng. Akademisi kelahiran Pekalongan (1971) ini kolektor hak cipta dan paten puluhan buah, pemenang Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (2009) dan Yamamoto Award (2008).
Bukan sekadar akademisi yang duduk manis di laboratorium, ia maestro invensi yang kini ditantang mengubah BRIN dari markas burung hantu menjadi markas inovasi hidup. Ribuan peneliti, ilmuwan, dan inovator ada di bawah komandonya—menunggu untuk dihidupkan kembali semangatnya, dipandu dari rasa lesu menjadi energi produktif.
Pangan, Energi, dan Air
Dalam wawancara usai pelantikan, Arif menegaskan fokusnya yang jelas sesuai arahan Prabowo: pangan, energi, dan air. Tiga pilar vital yang sering kita abaikan sampai listrik padam, air habis, atau nasi di meja hanya tinggal kenangan. Tiga sasaran utama program-program besar Prabowo.
Arif menekankan konsolidasi horizontal antarkementerian dan perguruan tinggi, serta konsolidasi vertikal dari pemerintah pusat sampai daerah. Bayangkan, setiap provinsi punya science technopark yang tersambung ke industri lokal. Pengalamannya membangun science technopark di IPB siap direplikasi di seluruh Indonesia.
Ia membayangkan masalah-masalah lokal bisa diatasi tanpa menunggu Presiden inspeksi sambil memegang kacamata hitam ala agen rahasia. Ia menekankan hilirisasi riset: dari invensi menjadi inovasi. Jangan sampai paten canggih hanya jadi wallpaper laboratorium, sementara rak-rak penuh burung hantu mengangguk pasrah.
Jumlah peneliti kita diakuinya masih sedikit, sehingga manajemen talenta menjadi penting. Orang-orang dengan passion harus diberi ruang; jangan sampai ide cemerlang mati di meja kerja, terperangkap di antara tumpukan jurnal dan rak-rak berdebu.
Anggaran? Memang baru tersedia 0,2 persen dari PDB—ya cukuplah untuk beli pena dan kertas, mungkin juga sepasang teropong untuk mengawasi burung hantu. Tapi Arif punya jurus: bermitra dengan industri dan sektor swasta. Filosofinya: industri tanpa inovasi berat, riset tanpa implementasi sia-sia.
Jembatan antara Sains dan Kebijakan
BRIN sudah seharusnya menjadi jembatan antara sains dan kebijakan, laboratorium dan ladang, kampus dan desa. Kalau berhasil, indeks global tersenyum, PDB per kapita berkilau, dan rakyat bisa makan sambil tersenyum. Kalau gagal, lucu: akademisi jadi nakhoda negara, pidato penuh jargon, dan rakyat pun menatap rak berdebu.
Visi Arif: memperkuat ekosistem riset, mempercepat invensi menjadi inovasi, menjadikan sains sebagai tulang punggung pembangunan peradaban, bukan sekadar pajangan akademik. Peradaban besar sejatinya memang lahir dari riset yang membumi, dirasakan manfaatnya oleh warga dunia.
Bayangkan: para khalifah dulu membiayai astronomi, kedokteran, dan matematika demi peradaban besar. Sekarang, kita harus membiayai birokrasi riset agar burung hantu di rak BRIN berubah menjadi merpati inovasi—berterbangan menyebar solusi—dan rakyat bisa berkata, “Akhirnya ilmu itu bisa makan!”
Tapi jangan lupa, Arif harus menghadapi diplomasi ala sinetron ilmiah. Ia paham betul bagaimana kementerian saling tarik tambang anggaran, birokrat sibuk dengan rapat berantai, dan burung hantu menonton dari rak, seolah menilai setiap langkah dengan tatapan menghakimi.
Di sinilah Arif harus bermain akrobat: mengayun riset dari laboratorium ke ladang, dari paten ke produksi, dari teori ke nasi di meja rakyat—sambil meyakinkan semua pihak bahwa inovasi bukan sekadar jargon, tetapi senjata utama kemajuan bangsa. Negeri kita besar; selama ini hanya menjadi pasar produk inovasi bangsa lain.
Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 12 November 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












