Feature

Ada Wow di Pelatihan Jurnalistik MIM 28

32
×

Ada Wow di Pelatihan Jurnalistik MIM 28

Sebarkan artikel ini
Ada wow dalam sebuah peristiwa membuat berita menjadi menarik dibaca karena mengandung kejutan atau sesuatu yang luar biasa.
Sugeng Purwanto mengisi pelatihan jurnalistik di MI Muhammadiyah 28 Surabaya. (Tagar.co/Rizky Syarifuddin)

Ada wow dalam sebuah peristiwa membuat berita menjadi menarik dibaca karena mengandung kejutan atau sesuatu yang luar biasa.

Tagar.co – Ruang kelas di MI Muhammadiyah 28 Surabaya berubah menjadi ruang redaksi dadakan, Jumat (11/7/2025).

Sebanyak 16 guru mengikuti Pelatihan Jurnalistik yang dipandu oleh narasumber berpengalaman, Drs Sugeng Purwanto, Jumat (11/7/2025).

Di ruang itu peserta berdiskusi dan praktik menulis berita dipandu oleh narasumber. Penyampaian materi berlangsung santai dan gamblang. Setiap uraian diberi contoh cara menuliskan kalimat.

Membuka paparannya, Sugeng Purwanto, menjelaskan, berita jurnalistik adalah laporan pengamatan suatu peristiwa yang dikonfirmasi dengan mewawancarai orang-orang yang terlibat dalam peristiwa itu.

”Berita harus berdasarkan fakta peristiwa. Lantas ada wawancarai narasumber yang kompeten untuk mengonfirmasi sehingga berita menjadi valid. Bukan hoaks,” kata dia menjelaskan.

Peristiwa itu ditulis menjadi reportase berita dengan memakai unsur 5W + 1H. Artinya What, Who, When, Where, Why, dan How.

”Reportase berita memuat apa peristiwanya , siapa yang terlibat, di mana kejadiannya, kapan, mengapa peristiwa itu terjadi, dan bagaimana kronologi,” ujar mantan wartawan Surabaya Post ini.

Baca Juga:  Pelatihan Jurnalistik Kebencanaan MDMC Lumajang, Catatan Peserta

Namun Sugeng Purwanto, tak berhenti di situ. Dia menyampaikan, masih ada alasan penting kenapa sebuah berapa itu ditulis.

”Ada satu W lagi yang perlu ditambahkan karena penting. Yaitu berita ditulis harus ada Wow!,” tandasnya disambut tawa peserta.

”Ada Wow itu maksudnya peristiwa itu sangat menarik yang membuat pembaca terkesima, ada kejutannya karena peristiwa yang luar biasa,” ujarnya.

Setelah itu dia menjelaskan memilih angle berita. Berita menarik, sambung dia, kalau penulisnya bisa mencari angle atau sudut pandang yang bagus.

Dia mencontohkan, saat pelantikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi Menteri ATR/ Kepala BPN di sisa akhir rezim Joko Widodo tahun 2024, semua media melaporkan pelantikan itu. Tapi ada media yang memuat berita dengan angle lain. Yaitu tas yang dibawa Anisa Pohan, istri AHY, senilai Rp115 juta.

”Angle itu menarik karena melaporkan gaya hidup istri pejabat dengan barang yang mahal. Berita seperti ini lebih disukai pembaca,” ujarnya. ”Berita itu ada wow.”

Peserta antusias menyimak penjelasan narasumber yang juga menerangkan cara menulis straight news, soft news, feature, dan opini sekaligus pemakaian gaya bahasanya.

Baca Juga:  Di Samping Menara Pisa, PRNA Suci Dampingi Kader IPM Belajar Jurnalistik

Kepala MI Muhammadiyah 28 Surabaya, Rohim, S.HI., menjelaskan, pelatihan jurnalistik ini bagian dari upaya sekolah meningkatkan literasi dan dokumentasi para guru.

”Madrasah kita banyak kegiatan yang harus ditulis dan dipublikasikan. Saya berharap dari pelatihan ini melahirkan penulis andal sehingga mendukung branding MI Muhammadiyah 28 Surabaya,” katanya. (#)

Jurnalis Tiris Ahmada Penyunting Sugeng Purwanto