Feature

Rektor UMG Ingatkan Lulusan Smamdela: Ijazah Saja Tak Cukup Hadapi 2030

118
×

Rektor UMG Ingatkan Lulusan Smamdela: Ijazah Saja Tak Cukup Hadapi 2030

Sebarkan artikel ini
Rektor UMG Prof. Dr. Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd saat memberikan pesannya di Haflah Akhirisanah Ke-36 dan Tahfizul Qur’an Ke-5 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Ahad, 10 Mei 2026 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Rektor UMG Prof. Khoirul Anwar menyebut tantangan generasi 2030 semakin kompleks. Karena itu, siswa diminta menjadi pembelajar sepanjang hayat yang adaptif dan berkarakter.

Tagar.co – Kelulusan bukan sekadar seremoni akademik. Di balik senyum para siswa, ada doa panjang orang tua, kesabaran guru, dan kerja bersama yang membentuk perjalanan mereka hingga titik ini.

Pesan itu yang ditekankan Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Prof. Khoirul Anwar di acara Haflah Akhirisanah Ke-36 dan Tahfizul Qur’an Ke-5 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Ahad, 10 Mei 2026.

Baca juga: Kepala Smamdela: Prestasi Saja Tak Cukup, Lulusan Harus Menjadi Teladan

Dalam ceramahnya, Prof. Khoirul menyebut momen kelulusan sebagai “hari perayaan keberhasilan bersama”. Menurutnya, keberhasilan siswa tidak lahir dari perjuangan individu semata, melainkan hasil kolaborasi antara keluarga, sekolah, guru, dan lingkungan pendidikan.

“Hari ini bukan hanya tentang wisuda. Ini adalah momentum moral, sosial, dan pendidikan. Keberhasilan anak-anak kita tidak lahir dari perjuangan sendiri, tetapi dari doa, kesabaran, dan kerja bersama,” ujarnya.

Dia mengajak seluruh hadirin untuk bersyukur karena masih diberi kesehatan dan kesempatan berkumpul dalam suasana bahagia. Ia juga menyapa para siswa sebagai “bintang-bintang sekolah” yang diharapkan tumbuh menjadi generasi berilmu, berakhlak, dan mampu meraih cita-cita tinggi.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya melahirkan generasi cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang menjadikan akhlak sebagai kompas kehidupan.

Prof. Khoirul memberikan penghormatan khusus kepada para orang tua yang selama ini mendampingi anak-anak dengan penuh perjuangan. Ia menyebut keberhasilan siswa hari ini tidak lepas dari doa yang terus dipanjatkan, perhatian tanpa henti, hingga pengorbanan membiayai pendidikan.

“Tepuk tangan untuk para wali siswa. Mereka adalah pahlawan di balik keberhasilan anak-anak hari ini,” katanya disambut antusias hadirin.

Apresiasi juga diberikan kepada pihak sekolah dan para guru yang dinilai berhasil membangun atmosfer pendidikan yang baik selama tiga tahun terakhir.

Ia menyebut para guru telah mendampingi siswa bukan hanya dalam proses belajar, tetapi juga dalam pembentukan karakter hingga akhirnya berhasil lulus 100 persen dan banyak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dalam pidatonya, Prof. Khoirul menegaskan bahwa kolaborasi merupakan kunci utama keberhasilan pendidikan. Pendidikan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Kolaborasi adalah kata kunci pendidikan. Generasi yang baik lahir dari kerja bersama,” tegasnya.

Untuk menggambarkan pentingnya pendidikan dalam membangun peradaban, ia mencontohkan Uzbekistan yang baru saja dia kunjungi, yang pernah melahirkan ilmuwan besar dunia Islam seperti Ibnu Sina, Imam Al-Bukhari, dan para ilmuwan astronomi Muslim lainnya.

Menurutnya, kejayaan sebuah bangsa lahir dari tradisi ilmu pengetahuan yang kuat dan pendidikan yang dijaga secara serius.

Ia juga mengingatkan bahwa sebuah bangsa dapat kehilangan kekuatan peradabannya ketika pendidikan dan nilai-nilai keilmuan tidak lagi dijaga. Karena itu, pendidikan disebutnya sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga masa depan bangsa dan generasi mendatang.

“Masa depan Indonesia lima puluh tahun mendatang ditentukan oleh pendidikan hari ini. Karena itu pendidikan, terutama pendidikan Islam, harus terus diperkuat,” ujarnya.

Dia menguarikan tantangan generasi muda ke depan semakin kompleks. Dalam presentasinya, Prof. Khoirul menampilkan data World Economic Forum yang menunjukkan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerjaan diperkirakan berubah pada 2030. Selain itu, tingkat pengangguran muda global pada 2024 mencapai 12,6 persen, jauh di atas rata-rata umum sebesar 5 persen.

Ia juga menampilkan hasil studi yang menunjukkan lulusan dengan kombinasi keterampilan kerja, motivasi, dan kualitas diri memiliki peluang kerja yang lebih baik.

“Ijazah penting, tetapi tidak cukup. Nilai akademik penting, tetapi tidak cukup. Generasi muda perlu daya pikir, disiplin, komunikasi, literasi digital, etika kerja, dan ketahanan mental,” tegasnya dalam presentasi yang ditampilkan di layar utama auditorium.

Menghadapi tantangan tersebut, Prof. Khoirul mengingatkan para siswa agar tidak berhenti belajar setelah lulus sekolah. Ia mendorong generasi muda untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terus berkembang, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menghadapi tekanan zaman.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, kreatif, memiliki kepemimpinan, serta ketahanan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Miliki ketahanan menghadapi tekanan, latih kepemimpinan, terus berpikir kreatif, dan bangun empati dengan etika sebagai fondasi utama,” pesannya.

Di akhir ceramahnya, Prof. Khoirul Anwar mengingatkan bahwa masa depan yang kuat tidak lahir dari kenyamanan semata, melainkan dari proses panjang, perjuangan, dan nilai-nilai akhlak yang terus dijaga.

“Masa depan yang tangguh tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari proses, perjuangan, dan akhlak yang menjadi kompas kehidupan,” tuturnya.

Sebelum menutup sambutan, ia menyampaikan pantun yang disambut tepuk tangan para hadirin. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni