Telaah

Sebentar di Dunia, Selamanya di Akhirat

134
×

Sebentar di Dunia, Selamanya di Akhirat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Manusia hidup hanya sebentar di dunia, tetapi akan tinggal selamanya di akhirat. Ironisnya, banyak yang menghabiskan hidup untuk sesuatu yang fana, namun sedikit mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Dunia ini hanyalah persinggahan yang singkat, sementara akhirat adalah kehidupan yang kekal tanpa batas. Namun, sering kali manusia terpedaya oleh gemerlap dunia hingga melupakan tujuan utamanya.

Padahal, setiap detik yang berlalu adalah kesempatan berharga untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi. Kesadaran inilah yang semestinya menuntun langkah seorang hamba dalam menjalani hidupnya.

Baca juga: Doa yang Menembus Tiga Lapis Kegelapan

Untuk yang masih lalai dan mengabaikan kehidupan akhirat, ingatlah bahwa waktu kita di dunia ini hanyalah sebentar. Allah menciptakan kehidupan ini bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai ujian dan ladang amal.

Setiap nikmat yang diberikan bukan untuk disia-siakan, tetapi untuk dimanfaatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Dunia bukan tempat tinggal yang hakiki, melainkan jembatan menuju kehidupan yang kekal abadi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa dunia sering memperdaya manusia dengan kenikmatan sementara sehingga lupa akan kehidupan yang sesungguhnya. Kesenangan yang tampak indah itu bisa menjadi sebab kelalaian jika tidak disikapi dengan iman dan kesadaran.

Sadarlah bahwa kita akan hidup di akhirat bukan sekadar 100 tahun atau 1.000 tahun, melainkan selama-lamanya. Kehidupan tanpa akhir itu ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat ini. Jika kita mengisi hari-hari dengan ketaatan, maka kebahagiaan abadi menanti. Namun, jika kita larut dalam kelalaian, penyesalan panjang akan menjadi teman yang tak terpisahkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmizi)

Hadis ini menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukanlah pada banyaknya harta atau kedudukan, melainkan pada kemampuan mempersiapkan diri untuk akhirat.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:

Baca Juga:  Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

إنما أعطاكم الله الدنيا لتطلبوا بها الآخرة ولم يعطيكموها لتركنوا إليها

“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada kalian untuk mencari bekal akhirat. Allah tidak memberikannya kepada kalian agar kalian condong kepadanya.”

Perkataan ini begitu dalam maknanya. Dunia hanyalah alat, bukan tujuan. Ketika seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, ia akan tersesat. Namun, ketika dunia dijadikan sarana, ia akan selamat.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala juga berkata:

ما خرجنا لنعيش في الدنيا كما تعيش البهائم نأكل ونشرب وننام فقط، ولكن خرجنا لكي نعد الزاد للأخرى

“Tidaklah kita hidup di dunia ini sebagaimana hewan ternak hidup; makan, minum, dan tidur saja. Akan tetapi, kita hidup di dunia ini untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat.”

Perkataan ini menggugah kesadaran bahwa hidup bukan sekadar rutinitas tanpa makna. Ada tujuan besar yang harus diperjuangkan, yaitu meraih rida Allah dan keselamatan di akhirat.

Maka, pergunakanlah waktu yang singkat ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terjebak dalam kelalaian yang membuat hati menjadi keras. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap amal sekecil apa pun akan diperhitungkan. Tidak ada yang sia-sia di sisi Allah selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Baca Juga:  Catatan Kecil di Dompet Arman

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka, barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Az-Zalzalah: 7–8)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada amal yang luput dari perhitungan. Bahkan, sesuatu yang sangat kecil pun akan diperlihatkan kelak.

Sebab, penentunya adalah bagaimana masa-masa kita menjalani hidup di dunia saat ini. Apakah kita memilih jalan ketakwaan atau jalan kelalaian? Apakah kita sibuk memperbaiki diri atau justru tenggelam dalam kesenangan yang melupakan Allah?

Semoga dengan mengingat kembali tentang akhirat dan tujuan hidup di dunia, hati kita menjadi lebih lembut, lebih sadar, dan lebih bersemangat dalam melakukan amal saleh. Jangan menunda kebaikan, karena kita tidak tahu kapan kesempatan itu akan berakhir. Jadikan setiap langkah sebagai bekal, setiap waktu sebagai peluang, dan setiap napas sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju akhirat semakin dekat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni