
Di era modern, perempuan dipaksa menjadi segalanya: sukses, cantik, tangguh, dan selalu “baik-baik saja”. Ironisnya, tuntutan ini justru menjauh dari semangat Kartini yang sejatinya memperjuangkan pilihan, bukan kesempurnaan.
Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Tagar.co – Hari Kartini selalu dirayakan dengan kebaya dan puisi. Tapi mari jujur: semangat Kartini saat ini sedang dalam bahaya. Bukan karena musuh luar, melainkan karena tuntutan yang kita ciptakan sendiri.
Perempuan masa kini tidak lagi ditahan di dapur. Mereka justru dituntut ada di mana-mana: rapat kilat, urusan anak, tren perawatan kulit, hingga menjadi pembuat konten dadakan. Inilah ironi: kemerdekaan telah berubah menjadi beban baru.
Baca juga: Surat yang Tak Pernah Usang: Kartini dan Pergulatan Perempuan Gen Z
Kartini dulu memperjuangkan agar perempuan dapat bersekolah dan bekerja. Kini, perempuan harus bekerja, cantik, ramah, produktif, dan tetap glowing—atau disebut gagal.
Tuntutan Perempuan Super: Mitos Keseimbangan Palsu
Konsep keseimbangan kerja–hidup (work-life balance) bagi perempuan urban adalah tipuan paling halus abad ini. Perempuan dituntut setara di kantor, tetapi tetap prima mengurus rumah. Ia harus high performance, namun juga high touch secara emosional. Ketika pulang kerja, ia bukan beristirahat, melainkan berganti peran menjadi ibu, istri, dan koki.
Kritik saya: keseimbangan itu fiksi. Yang ada hanyalah pilihan, dan perempuan selalu diposisikan bersalah atas pilihannya. Bekerja penuh waktu? Dibilang menelantarkan anak. Menjadi ibu rumah tangga? Dicap tidak ambisius. Hasilnya, perempuan masa kini hidup dalam utang energi: letih, tetapi takut mengaku letih.
Kartini tidak pernah berjuang untuk itu. Ia berjuang agar perempuan punya pilihan, bukan agar perempuan memikul dua dunia sekaligus.
Generasi Z: Melampaui Gender, Tersesat di Relasi
Generasi Z layak diapresiasi. Mereka melebur tembok gender: laki-laki menggunakan perawatan kulit, perempuan menjadi teknisi, dan diskusi tentang maskulinitas toksik mulai terbuka. Namun di ranah relasi, mereka justru mengalami kemunduran.
Fenomena situationship, ghosting, dan breadcrumbing adalah bukti bahwa ketika gender tak lagi relevan, yang tersisa adalah ego digital. Perempuan Generasi Z sangat memahami hak-haknya, tetapi lupa bagaimana membangun komitmen yang utuh.
Mereka cakap dalam status WhatsApp, tetapi gagap dalam kehadiran fisik. Kartini dan sahabat-sahabatnya, dengan keterbatasan surat-menyurat, justru mampu membangun relasi yang dalam dan bertanggung jawab. Ironis, bukan?
Agama: Sandaran yang Mulai Rapuh
Di tengah gempuran digital, agama masih menjadi pelabuhan terakhir perempuan. Namun, agama sering digunakan secara selektif: untuk membenarkan beban ganda, bukan membebaskan.
Banyak perempuan menerima ketimpangan domestik dengan dalih “ibu adalah madrasah pertama”, atau menerima gaji lebih rendah karena “rezeki sudah diatur Tuhan”.
Spirit Kartini justru sebaliknya. Kartini kritis terhadap tafsir agama yang patriarkal. Ia ingin agama menjadi pisau pembedah ketidakadilan, bukan penenang bagi yang tertindas. Maka, ketika agama hanya dijadikan tameng untuk mempertahankan status quo, kita telah mengkhianati Kartini.
Gincu dan Glowing: Antara Ekspresi dan Belenggu Baru
Industri kecantikan telah sukses mengubah perawatan diri menjadi kewajiban konsumtif. Glowing bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan sosial. Perempuan rela menguras dompet untuk serum, retinol, dan lipstik tertentu karena takut disebut “kusam” atau “tidak merawat diri”.
Padahal, Kartini pun gemar berhias. Namun bedanya: dahulu, gincu adalah simbol keberanian tampil di ruang publik. Kini, gincu justru menjadi alat kontrol halus. Perempuan yang tidak glowing dianggap lalai. Tren kecantikan digital ini telah menciptakan standar baru yang tidak kalah menyesakkan dibandingkan pingitan zaman dahulu.
Kartini yang Hilang: Keberanian untuk Biasa Saja
Spirit Kartini yang sesungguhnya bukanlah menjadi perempuan super (superwoman). Ia adalah keberanian untuk memilih, termasuk memilih untuk tidak sempurna.
Di tengah dunia yang semakin bising, perempuan masa kini perlu mengingat satu hal: tidak apa-apa lelah, tidak apa-apa tidak glowing, tidak apa-apa meninggalkan ruang digital demi ketenangan batin. Kartini tidak meninggalkan warisan berupa tekanan untuk menjadi segala-galanya. Ia meninggalkan warisan berupa mimpi bahwa perempuan berhak menentukan jalannya sendiri.
Maka, di Hari Kartini ini, mari berhenti memuja perempuan super. Mulailah memberi ruang bagi perempuan yang memilih pulang lebih awal, yang tidak mengikuti tren, yang membatasi diri, dan yang berani berkata: “Cukup. Aku bukan perempuan super. Aku hanya manusia.”
Itulah Kartini yang sesungguhnya. Bukan yang terpampang di poster, melainkan yang hidup dalam keberanian menjadi utuh, bukan sempurna.
Selamat Hari Kartini. Mari merdeka dengan cara kita sendiri. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












