Feature

Sehat Sesaat sebelum Wafat? Dokter Ungkap Fenomena Aneh Jelang Kematian

193
×

Sehat Sesaat sebelum Wafat? Dokter Ungkap Fenomena Aneh Jelang Kematian

Sebarkan artikel ini
Terminal Lucidity. dr. Ahmad Nurdin, Sp.P. menyampaikan materi bertema “Kematian: Tinjauan Syariat dan Medis” dalam Kajian Ahad Pagi,(19/4/2026), di Masjid At-Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri Kebomas. (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Dalam kajian di Majid At-Taqwa Giri, dr. Ahmad Nurdin menjelaskan fenomena terminal lucidity—kondisi ketika pasien tampak pulih sesaat sebelum meninggal, memicu tanda tanya antara sains dan takdir.

Tagar.co — Banyak orang mengira tanda kesembuhan adalah harapan hidup. Namun dalam beberapa kasus, justru itu menjadi pertanda akhir.

Fenomena seseorang yang tiba-tiba tampak sehat, mampu berbicara lancar, bahkan terlihat pulih—padahal sebelumnya kritis—dibahas dalam Kajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebomas di Masjid At-Taqwa Giri, Gresik, Jawa Timur, Ahad (19/4/2026).

Baca juga: Berdakwah pada Jin: Misbahul Munir Kupas Gejala, Penyebab, dan Praktik Deteksi

Pemateri, dr. Ahmad Nurdin, Sp.P., dokter spesialis paru Rumah Sskit Muhammadiyah Gresik (RSMG), menyebut kondisi tersebut dalam dunia medis dikenal sebagai terminal lucidity.

“Ini sering terjadi pada pasien gangguan otak berat seperti stroke atau tumor. Mereka tampak membaik sesaat, tapi setelah itu meninggal dunia,” jelasnya.

Fenomena ini kerap mengejutkan keluarga. Harapan yang sempat muncul, seketika berubah menjadi duka.

Baca Juga:  Raker Dikdasmen PRM Kedanyang Ungkap Masalah Ini

Namun, menurut dr. Nurdin, kematian sejatinya bukan peristiwa yang datang tiba-tiba tanpa tanda. Dalam kajiannya bertema “Kematian: Tinjauan Syariat dan Medis”, ia mengajak jemaah melihat kematian dari dua sisi: ilmiah dan spiritual.

Ia mengawali dengan Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun: 12–16 yang menjelaskan perjalanan manusia sejak penciptaan hingga kematian.

“Allah sudah menjelaskan siklus hidup manusia dengan sangat rinci. Dari awal diciptakan, hingga pasti akan mati dan dibangkitkan kembali,” ujarnya.

Dari sisi medis, ia memaparkan tentang sudden death atau kematian mendadak—kondisi ketika fungsi vital seperti jantung, paru-paru, dan batang otak berhenti secara tiba-tiba.

Kondisi ini, menurutnya, sering terjadi pada penderita penyakit jantung, dehidrasi berat, atau akibat konsumsi obat tertentu secara berlebihan, seperti obat tidur.

Meski demikian, dr. Nurdin menekankan bahwa kematian tidak hanya soal berhentinya organ tubuh. Dalam Islam, proses menjelang wafat memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.

Ia menjelaskan pentingnya talkin, yakni membimbing seseorang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat lailahaillallah.

“Itu bagian dari ikhtiar agar seseorang meninggal dalam keadaan husnul khatimah,” katanya.

Baca Juga:  Belajar Berbeda Pendapat tanpa Ribut, Begini Siswa SD Almadany Berdebat

Dalam keyakinan Islam, lanjutnya, seseorang yang akan meninggal juga diperlihatkan tempatnya di akhirat, bahkan dapat menyaksikan proses pencabutan roh oleh Malaikat Izrail.

Kondisi Indra saat Sakaratul Maut

Diskusi semakin menarik saat sesi tanya jawab. Ketua Takmir Masjid At-Taqwa, H. Agus Wahyudi, menanyakan kondisi indra seseorang saat sakaratul maut.

Menjawab itu, dr. Nurdin menyampaikan bahwa Allah dapat menguatkan kemampuan melihat dan mendengar seseorang di detik-detik terakhir kehidupannya.

“Karena itu, orang yang akan meninggal bisa melihat sesuatu yang tidak kita lihat,” ujarnya.

Di penghujung kajian, ia mengingatkan jamaah bahwa kematian bukan sesuatu yang jauh.

Bisa datang kapan saja—bahkan saat seseorang tampak sehat.

“Kita perlu memperbanyak amal, memperbaiki hubungan, dan saling memaafkan. Karena kita tidak tahu kapan Malaikat Izroil datang menjemput,” pesannya.

Kajian pagi itu pun bukan sekadar ilmu, tetapi juga menjadi pengingat sunyi: bahwa hidup yang berjalan hari ini, suatu saat pasti berhenti. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni