Cerpen

Sebelum Bel Itu Benar-Benar Berbunyi

116
×

Sebelum Bel Itu Benar-Benar Berbunyi

Sebarkan artikel ini

Di sisa waktu yang hampir habis, seorang anak memilih uang yang salah—mengapa justru dari situlah semuanya berubah hari itu?

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah

Tagar.co – Menjelang siang, kelas A3 TK IT Handayani mulai kehilangan tenaga. Beberapa anak bersandar di dinding, sebagian lain menatap pintu dengan gelisah. Waktu seperti melambat, ikut letih bersama mereka.

“Ustazah, kapan pulang…” keluh Cia lirih.

Baca cerpen lainnya: Harga Mahal Sebuah Niat Baik

Napas ditarik pelan. Jarum jam sempat dilirik, lalu kembali pada wajah-wajah kecil di depan. Sayang jika sisa waktu hanya habis untuk menunggu.

“Anak-anak, kita main sebentar, ya!”

Seperti disentuh sesuatu yang tak terlihat, kepala-kepala itu terangkat. Mata mereka kembali menyala.

Dari sebuah kotak kecil, uang mainan berwarna-warni dikeluarkan: seribu, dua ribu, lima ribu, hingga dua puluh ribu. Lembaran-lembaran itu ditata di atas tampah.

“Hari ini kita belajar berdagang ala Rasulullah. Tapi sambil bermain.”

“Harus jujur, ustazah!” jawab Qansa cepat.

“Betul. Siapa yang tidak jujur, nanti permainannya tidak seru.”

Baca Juga:  Tempat Baris Zaquan

Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok putra dipimpin Nathan, kelompok putri oleh Cia. Mereka berbaris memanjang, tangan kecil bertumpu di pundak teman di depan.

“Ambil uang… lima ribu!”

Dua anak terdepan berlari. Tangan-tangan mungil bergerak cepat. Tawa mulai pecah, memecah sisa lesu yang tadi menggantung.

Namun di putaran berikutnya, suara tangis muncul.

“Aku benar, ini lima ribu!” protes seorang anak sambil menggenggam uang dua ribu.

Temannya menggeleng. Beberapa suara ikut bersahutan. Barisan sempat goyah, seperti kehilangan arah.

Langkah didekatkan, tubuh direndahkan hingga sejajar.

“Kita lihat sama-sama, ya…”

Perbedaan angka ditunjukkan perlahan. Anak itu terdiam. Matanya berkaca.

“Salah tidak apa-apa. Yang penting jujur dan mau belajar.”

Ia menatap sejenak, lalu mengangguk. Uang itu berpindah tangan. Suasana perlahan kembali utuh.

Permainan dilanjutkan. Kali ini lebih hati-hati. Beberapa anak mulai saling membantu, memastikan sebelum memilih.

“Yang ini lima ribu, lihat angka lima…” bisik seorang anak.

Putaran demi putaran berjalan semakin hidup.

“Semangat! Kita pasti bisa!” teriak Nathan.

Baca Juga:  Amplop Kosong di Hari Lebaran

Di babak terakhir, mereka duduk berjajar. Uang berpindah dari tangan ke tangan, seperti estafet kecil yang tak ingin terputus.

“Kita hitung sama-sama, ya…”

Semua mata tertuju pada kotak.

Sorak kemenangan pecah dari kelompok putri. Kelompok putra hanya tersenyum.

“Kan cuma permainan ya, ustazah,” ujar Alvano santai.

Senyum mengembang. Kelas terasa hangat—bukan karena siapa yang menang, melainkan karena mereka tetap bersama.

Saat waktu hampir habis, Qansa mengangkat tangan.

“Besok kita main lagi ya, Ustazah…”

Anggukan kecil diberikan.

Di atas tampah, uang-uang mainan itu kini tak lagi rapi. Beberapa terlipat, sebagian kusut, berpindah-pindah tanpa jejak yang jelas—seperti tangan-tangan kecil yang tadi saling memberi, saling mengoreksi, lalu belajar melepaskan.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Anak-anak berhamburan, meninggalkan kelas dengan tawa yang masih tersisa.

Di atas tampah, sesuatu tampak tertinggal—bukan uang itu, melainkan sesuatu yang tak ikut beranjak, yang entah bagaimana, akan tinggal lebih lama dari bunyi bel siang itu. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…