Cerpen

Tempat Baris Zaquan

224
×

Tempat Baris Zaquan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Setiap pagi anak-anak langsung berbaris rapi, kecuali Zaquan. Ia berdiri lama, menoleh ke mana-mana, bertanya pada dunia kecilnya: sebenarnya, di mana tempatku berdiri hari ini?

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handayani, Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co — Di sekolah saya tidak ada bunyi bel, tetapi tepat pukul tujuh pagi, saat saya atau guru yang lain berdiri di tengah lapangan, anak-anak seolah melihat alarm berbunyi dan segera berbaris di halaman.

Barisan itu selalu rapi: barisan kelas A di sebelah pohon mangga dan kelas B di dekat tiang bendera. Mereka sudah hafal betul tempat mereka berdiri, kecuali Zaquan.

Baca juga: Kotak Bekal Azka

Zaquan, anak laki-laki bertubuh kecil dengan rambut kemerahan, selalu tampak kebingungan. Ia berdiri di tengah halaman, menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu melangkah pelan seolah takut salah.

“Posisiku di mana, Bu Guru?” selalu pertanyaan itu yang ia ucapkan setiap hari.

“Zaquan, barisannya di sini!” teriak seorang teman.

Zaquan melangkah mendekat, tetapi baru beberapa detik berdiri, ia kembali ragu. Ia melihat barisan lain, lalu pindah lagi. Kadang ia berdiri di barisan kelas A, lalu menyadari anak di depannya bukan teman satu angkatannya. Kadang ia justru berdiri paling belakang, sendirian, menunduk sambil memainkan ujung bajunya.

Baca Juga:  Kanaya, Tumbuh tanpa Tergesa

Saya tahu, Zaquan bukan anak nakal, ia hanya mudah bingung, terutama saat banyak suara dan anak-anak bergerak bersamaan.

“Zaquan, ayo sini, berdiri di sebelah Bagas,” mendengar suara saya, barulah ia melangkahkan kakinya mendekati Bagas sambil tersenyum kecil.

Namun, keesokan harinya, hal yang sama terulang lagi. Setiap pagi seperti teka-teki baru bagi Zaquan: di mana tempat barisanku?

Beberapa teman mulai berbisik-bisik, “Zaquan selalu salah baris.” “Kenapa sih dia tidak hafal-hafal?”

Zaquan mendengar kasak-kusuk itu, tetapi ia pura-pura tidak tahu. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tidak bisa menjelaskan kebingungannya dengan kata-kata. Yang ia tahu, halaman sekolah selalu terasa terlalu ramai.

Suatu pagi, saya membawa sesuatu yang berbeda. Saya sengaja mengikat pita biru kecil di tas Zaquan.

“Ini tanda khusus untuk Zaquan,” tutur saya sambil tersenyum. “Kalau melihat pita biru, Zaquan ingat ya, barisannya di dekat tiang bendera.”

Zaquan mengangguk. Matanya berbinar.

Keesokan harinya, saat waktu berbaris tiba, Zaquan sempat berhenti di tengah halaman. Namun, kali ini, ia meraba pita biru di tasnya. Ia melihat tiang bendera, lalu berjalan ke sana. Bagas melambaikan tangan.

Baca Juga:  Dari Api Menjadi Bara: Pelajaran Cinta dalam 17 Tahun Pernikahan

“Di sini, Zaquan!”

Zaquan berdiri. Kali ini lebih lama. Tidak lagi berpindah-pindah tempat.

Hari demi hari, Zaquan mulai lebih percaya diri. Kadang ia masih ragu, tetapi kini ia tahu harus melihat pita biru dan tiang bendera. Teman-temannya pun mulai membantu, bukan mengejek.

Dan di halaman sekolah ini, Zaquan akhirnya menemukan satu hal penting: bukan hanya tempat barisannya, tetapi juga rasa aman bahwa kebingungan bukanlah kesalahan. Karena setiap anak hanya perlu sedikit waktu dan sedikit bantuan untuk menemukan tempatnya sendiri. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni