Feature

Di Malaysia, Dr. Dian Rahma Santoso Bongkar Mitos “Talking Time” dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Anak Usia Dini

106
×

Di Malaysia, Dr. Dian Rahma Santoso Bongkar Mitos “Talking Time” dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Anak Usia Dini

Sebarkan artikel ini
Dr. Dian Rahma Santoso saat memaparkan hasil penelitiannya tentang strategi “Talking Time” dalam pembelajaran bahasa Inggris anak usia dini pada forum internasional di Universiti Malaya, Malaysia, 14 April 2026. (Tagar.co/Istimewa)

Dalam forum internasional di Malaysia, Dr. Dian Rahma Santoso mengungkap bahwa “Talking Time” bukan sekadar soal guru berbicara lebih banyak, melainkan strategi kunci untuk mendorong kemampuan bahasa Inggris anak usia dini secara aktif dan efektif.

Tagar.co — Isu klasik dalam pembelajaran bahasa Inggris di jenjang pendidikan anak usia dini kembali menjadi sorotan. Kali ini, Dr. Dian Rahma Santoso, dosen Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mengangkatnya dalam forum internasional di Universiti Malaya, Selasa 14 April 2026

Dalam kegiatan kuliah tamu yang menjadi bagian dari konferensi internasional bertajuk Madani Global Inbound Mobility Program, Dian memaparkan hasil penelitiannya berjudul Talking Time: Fostering English Speaking Skill for Preschool Teachers.

Baca juga: Rektor Hidayatulloh: RSU Umsida Beroperasi Agustus 2026

Penelitian ini menyoroti bagaimana strategi komunikasi guru berperan penting dalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris, khususnya bagi pengajar anak usia dini.

“Guru prasekolah di Indonesia umumnya menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan kemampuan bahasa Inggris dasar seperti tata bahasa dan pelafalan,” tuturnya saat membuka sesi di hadapan hampir 200 peserta dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Baca Juga:  Teknologi Rudal Balistik, Usulan Din Syamsuddin untuk Prodi Baru di Umsida

Ia juga menyoroti fenomena yang kerap terjadi di ruang kelas, yakni praktik mencampur bahasa Inggris dengan bahasa ibu.

“Kecenderungan mencampur bahasa Inggris dengan bahasa ibu dalam proses pembelajaran juga banyak dilakukan oleh para guru yang berdampak pada kelelahan mengajar dan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan,” jelasnya.

Dalam paparannya, Dian menekankan dua konsep kunci dalam pengajaran bahasa, yaitu Teacher Talking Time (TTT) dan Student Talking Time (STT). Ia mengingatkan bahwa dominasi guru dalam berbicara sering kali justru membatasi kesempatan siswa untuk berkembang.

“Guru sering kali terlalu dominan dalam berbicara. Padahal, untuk meningkatkan kemampuan bahasa, siswa perlu lebih banyak kesempatan untuk berlatih secara langsung,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa TTT tidak selalu berdampak negatif. Berdasarkan penelitiannya terhadap 30 calon guru prasekolah, penggunaan TTT yang berkualitas justru mampu membantu pemahaman siswa, terutama jika disampaikan secara berulang dan kontekstual.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, rekaman video, wawancara, serta catatan lapangan. Analisis dilakukan menggunakan Flanders Interaction Analysis Categories System (FIACS) untuk mengidentifikasi pola komunikasi dalam pembelajaran.

Baca Juga:  Hafal Mars Sang Surya, Sekda Sidoarjo Bikin Haru Warga Muhammadiyah

Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi guru mulai bergeser ke arah yang lebih interaktif. “Temuan ini mengindikasikan bahwa guru mulai mengadopsi pendekatan yang lebih interaktif dalam mengajar,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kategori indirect talk seperti pujian, dorongan, dan pertanyaan mendominasi dengan persentase 55,10 persen, dibandingkan direct talk sebesar 44,90 persen. Salah satu bentuk komunikasi yang paling efektif adalah pemberian pujian sederhana seperti “Good job” atau “Wow, that’s great”, yang terbukti meningkatkan kepercayaan diri siswa.

Selain itu, teknik bertanya dinilai mampu menjaga keterlibatan siswa sekaligus memancing respons aktif. Pengulangan juga menjadi strategi penting, terutama dalam membantu anak memahami kosakata tanpa harus bergantung pada terjemahan.

“TTT bukan berarti guru mendominasi kelas tanpa memberi ruang kepada siswa, melainkan bagaimana guru menggunakan bahasa secara strategis untuk memfasilitasi pemahaman dan mendorong siswa berbicara,” jelasnya.

Rasio Ideal

Dian juga menyebutkan rasio ideal antara TTT dan STT berada di angka 30:70, dengan porsi lebih besar pada siswa. Meski demikian, dalam konteks pendidikan anak usia dini, peran guru tetap krusial sebagai fasilitator sekaligus model bahasa yang benar.

Baca Juga:  Antusiasme Tinggi Warnai Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo, Ribuan Warga Sambut Din Syamsuddin

Menutup paparannya, ia berharap forum internasional ini dapat memperkuat kolaborasi lintas negara dalam bidang pendidikan.

“Harapan saya, seminar ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat kolaborasi internasional dalam bidang pendidikan,” terangnya.

“Kegiatan ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman lintas negara sehingga mahasiswa Umsida juga mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa, sekaligus mendorong inovasi dalam praktik pengajaran di berbagai konteks pendidikan,” sambungnya.

“Ringkasnya, kegiatan internasional ini menjadi kontribusi akademisi Indonesia dalam kancah global, khususnya dalam pengembangan strategi pembelajaran bahasa yang efektif dan adaptif terhadap kebutuhan zaman,” ujarnya. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni