Feature

Seni Memaafkan: Pesan Sejuk Sukadiono di Bondowoso

156
×

Seni Memaafkan: Pesan Sejuk Sukadiono di Bondowoso

Sebarkan artikel ini
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bondowoso menggelar pengajian Syawalan bersama Prof. Sukadiono. Ia menekankan level permaafan tertinggi, pentingnya silaturahmi tatap muka, hingga meresmikan enam fasilitas dakwah baru.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M. tausiah di Pengajian Syawalan PDM Bondowoso. (Tagar.co/Arif Efendi)

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bondowoso menggelar pengajian Syawalan bersama Prof. Sukadiono. Ia menekankan level permaafan tertinggi, pentingnya silaturahmi tatap muka, hingga meresmikan enam fasilitas dakwah baru.

Tagar.co — Suasana hangat menyelimuti Masjid Al Huda Bondowoso pada Ahad pagi, 5 April 2026. Ratusan warga Muhammadiyah berkumpul dengan raut wajah berseri, merayakan momentum Syawalan yang penuh makna.

Kehadiran Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, menjadi magnet utama yang menghidupkan spiritualitas jemaah. Dalam tausiahnya, dokter yang juga akademisi ini membedah konsep memaafkan dari sudut pandang psikologi dan spiritual yang mendalam.

Sukadiono membagi level permaafan manusia ke dalam tiga tingkatan filosofis yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Level pertama adalah Al-‘Afw. “Pada tahap ini, seseorang memaafkan namun tidak bisa melupakan. Masih ada bekas luka yang tersisa, ibarat kita menghapus tulisan pensil di atas kertas; nodanya masih nampak,” ujarnya di depan jemaah yang menyimak dengan takzim.

Naik ke level kedua, yakni At-Takfir. Sukadiono mengibaratkan level ini seperti menutupi tulisan bolpoin dengan cairan pengoreksi (tip-ex). Meski kesalahan tertutup, permukaan kertas tetap tidak rata. Seseorang sudah memaafkan, namun memori tentang kesalahan tersebut belum sepenuhnya sirna dari sanubari.

Baca Juga:  Idulfitri 20 Maret 2026, Muhammadiyah Bondowoso Siapkan 6 Lokasi Salat Id

Namun, ia mendorong warga Muhammadiyah untuk mencapai puncak tertinggi, yaitu As-Shaffah. “Warga Muhammadiyah hendaknya berada di level As-Shaffah. Ini adalah seni memaafkan sekaligus melupakan. Ibarat kita membuang kertas lama dan menggantinya dengan kertas baru yang bersih,” tegas Sukadiono.

Ia menjelaskan, Syawalan harus menjadi momentum mushafahah atau saling berjabat tangan yang tulus agar status perselisihan antarmanusia kembali menjadi “nol-nol”.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bondowoso menggelar pengajian Syawalan bersama Prof. Sukadiono. Ia menekankan level permaafan tertinggi, pentingnya silaturahmi tatap muka, hingga meresmikan enam fasilitas dakwah baru.
Prosesi penandatanganan prasasti: Prof. Sukadiono meresmikan enam bangunan sekaligus yang menjadi bukti nyata gerak dinamis PDM Bondowoso. (Tagar.co/Arif Efendi)

Rahasia Panjang Umur dan Kelapangan Hati

Tak hanya bicara soal teologi, Prof. Sukadiono memperkuat argumennya dengan tinjauan sains. Ia mengutip hasil penelitian psikolog asal Kanada, Susan Pinker, yang melakukan studi di Kepulauan Sardinia, Italia. Penelitian tersebut menemukan rahasia unik mengapa penduduk di sana rata-rata memiliki usia di atas 100 tahun. Jawabannya bukan sekadar diet atau olahraga, melainkan kualitas interaksi sosial yang sangat sehat.

Sukadiono menekankan, silaturahmi yang efektif harus berlangsung secara tatap muka (face to face), bukan sekadar melalui gawai. “Semakin ramah dan dermawan seseorang, maka ia akan semakin mudah memaafkan. Begitu pula dengan tingkat kedewasaan atau kebijaksanaan; orang yang bijak tidak akan membiarkan hatinya terbelenggu oleh dendam,” tambahnya.

Baca Juga:  Kesalehan dan Istikamah, Ujian Usai Ramadan

Dalam konteks berorganisasi, ia merangkum sebuah rantai filosofis yang menarik. Menurutnya, inti dari sebuah organisasi adalah manajemen, dan inti dari manajemen adalah komunikasi. Namun, komunikasi tidak akan berjalan tanpa silaturahmi, dan silaturahmi mustahil terjadi tanpa adanya kelapangan hati.

“Mengelola organisasi Muhammadiyah harus berlandaskan kerelaan hati. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak dalam rutinitas administratif tanpa ruh dakwah,” pesannya dengan lugas.

Baca Juga: Kado Ramadan untuk Warga Cermee

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bondowoso menggelar pengajian Syawalan bersama Prof. Sukadiono. Ia menekankan level permaafan tertinggi, pentingnya silaturahmi tatap muka, hingga meresmikan enam fasilitas dakwah baru.Ratusan warga Muhammadiyah memenuhi Masjid Al Huda Bondowoso pada Ahad pagi, 5 April 2026. (Tagar.co/Arif Efendi)

Prasasti Kemajuan Dakwah Muhammadiyah Bondowoso

Pengajian tersebut mencapai puncaknya dengan prosesi penandatanganan prasasti sebagai simbol kemajuan infrastruktur dakwah di Bondowoso. Prof. Sukadiono meresmikan enam bangunan sekaligus yang menjadi bukti nyata gerak dinamis PDM Bondowoso dalam melayani umat. Kehadiran gedung-gedung baru ini harapannya mampu memperluas jangkauan manfaat Muhammadiyah di Bumi Ki Ronggo.

Adapun enam fasilitas yang diresmikan meliputi:

  1. Gedung Dakwah Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo, yang akan menjadi pusat kendali program-program keumatan.
  2. Apotek Mentari Farma Dokter Rauf Bondowoso, sebagai pilar pelayanan kesehatan masyarakat.
  3. Gedung Panti Asuhan Putra Muhammadiyah, untuk memberikan hunian yang lebih layak bagi anak yatim.
  4. Kantor Pimpinan Daerah Aisyiyah, sebagai pusat pergerakan perempuan berkemajuan.
  5. Gedung TK Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Bondowoso, guna menunjang pendidikan anak usia dini.
  6. Renovasi Masjid Al Huda Bondowoso, yang kini tampil lebih representatif sebagai pusat ibadah.
Baca Juga:  Melatih BMB3 dalam Puasa

Penandatanganan prasasti ini menutup rangkaian Syawalan dengan optimisme tinggi. Muhammadiyah Bondowoso tidak hanya sukses membersihkan hati melalui pesan-pesan religius, tetapi juga sukses memperkuat fondasi fisik untuk terus menebar manfaat bagi masyarakat luas. (#)

Jurnalis Arif Efendi Penyunting Sayyidah Nuriyah