
Kesalehan orang-orang yang lulus puasa Ramadan membawa berkah bagi banyak orang. Untuk meraihnya harus diperjuangkan melalui mujahadah secara istikamah.
Oleh Yekti Pitoyo, Amil Lazismu
Tagar.co – Ramadan telah berlalu, tetapi semangatnya tidak boleh ikut usai. Syawal bukan sekadar bulan kemenangan, melainkan momentum pembuktian: apakah nilai-nilai ibadah yang telah ditempa selama sebulan mampu bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa secara jelas. “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Dengan demikian, ukuran keberhasilan Ramadan bukan hanya pada banyaknya ibadah, tetapi pada kesinambungan ketakwaan setelahnya.
Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, setiap orang tua menyimpan harapan yang sama: anak cucu hidup dalam keberkahan dan kesejahteraan.
Harapan ini memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Kisah Nabi Khidir memberi pelajaran penting bahwa kesalehan orang tua berdampak pada generasi berikutnya.
“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim… dan ayahnya adalah seorang yang saleh” (QS. Al-Kahfi: 82).
Ayat ini menjadi isyarat bahwa kesalehan bukan hanya berdampak personal, tetapi juga meluas hingga keluarga. Karena itu, menjadi pribadi saleh bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Kesalehan harus diperjuangkan melalui mujahadah—kesungguhan yang terus menerus.
Pertama, menjaga kejujuran. Ini adalah fondasi utama dalam kehidupan. “Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur” (QS. At-Taubah: 119).
Kejujuran melahirkan kebaikan, sementara kebohongan membuka jalan kerusakan. Praktik penipuan, apalagi korupsi, bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga menghilangkan keberkahan dalam keluarga. Kejujuran, sekecil apa pun, adalah jalan menuju kemuliaan.
Kedua, mendekatkan diri dengan Al-Qur’an. Tidak cukup hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan.
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus” (QS. Al-Isra: 9).
Dalam ayat lain disebutkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11).
Dari sinilah, Al-Qur’an menjadi sumber cahaya yang menerangi kehidupan, termasuk bagi keluarga.
Ketiga, menjaga salat tahajud. Ibadah malam ini memiliki kedudukan istimewa.
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud…” (QS. Al-Isra: 79).
Ramadan sering menjadi latihan terbaik untuk qiyamul lail. Tantangannya adalah menjaga kebiasaan itu setelah Ramadan.
Keempat, membangun kepedulian sosial melalui sedekah. “Bukanlah kebajikan itu hanya menghadapkan wajahmu… tetapi memberikan harta yang dicintainya…” (QS. Al-Baqarah: 177).
Orang yang beriman kepada hari akhir akan ringan berbagi. Dari sinilah keberkahan harta tumbuh dan meluas.
Kelima, aktif dalam amar makruf nahi mungkar. “Kamu adalah umat terbaik… menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar” (QS. Ali Imran: 110).
Kesalehan tidak cukup untuk diri sendiri. Perlu ada peran sosial, bahkan dalam ruang kepemimpinan. Karena itu, menyiapkan generasi yang berintegritas untuk hadir dalam posisi strategis menjadi bagian penting dari perjuangan.
Keenam, menjadi yang terdepan dalam kebaikan. “Mereka bersegera dalam kebaikan-kebaikan” (QS. Al-Mu’minun: 61).
Tidak sekadar mengikuti, tetapi memulai. Dari sinilah kebaikan meluas dan memberi dampak lebih besar.
Di sinilah pentingnya mujahadah: berjuang menjadi pribadi saleh agar keberkahan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi terus mengalir kepada anak cucu di masa depan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












