Cerpen

Undangan Pulang Datang lewat Ketaatan

215
×

Undangan Pulang Datang lewat Ketaatan

Sebarkan artikel ini
Undangan Pulang Datang lewat Ketaatan
Undangan Pulang Datang lewat Ketaatan (Al)

Ibunya mengetuk pintu tanpa jawaban. Saat pintu dibuka, Arga masih dalam posisi yang sama, seolah hanya sedang beristirahat setelah perjalanan panjang. Wajahnya tenang, lebih tenang daripada yang pernah terlihat sebelumnya.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Tagar.co – Pagi itu Arga terbangun sebelum alarm berbunyi. Tidak ada mimpi buruk, tidak pula kabar menggembirakan yang menunggunya.

Hanya rasa ringan yang asing di dadanya, seolah ada sesuatu yang pelan pelan dilepaskan dari beban panjang yang selama ini tidak ia sadari. Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap jendela yang masih gelap, lalu tanpa banyak berpikir bangkit mengambil air wudu.

Dulu, bangun sebelum subuh adalah perjuangan yang selalu kalah oleh kantuk dan alasan. Ia lebih sering menunda, merasa waktu masih panjang untuk menjadi lebih baik. Baginya kebahagiaan adalah soal keberhasilan yang bisa dilihat orang lain.

Nilai tinggi, pekerjaan mapan, penghasilan stabil, dan rencana masa depan yang tertata rapi. Semua itu pernah ia kejar dengan disiplin keras, bahkan dengan mengorbankan banyak hal yang diam diam terasa penting.

Namun semakin banyak yang ia dapatkan, semakin jelas ruang kosong yang tidak terisi. Malam malamnya dipenuhi cahaya layar dan pikiran yang tidak selesai. Ia tertawa bersama teman, tetapi pulang dengan perasaan hampa yang sulit dijelaskan.

Doa doanya terasa seperti daftar permintaan panjang, bukan percakapan hangat dengan Tuhan yang ia yakini selalu dekat.

Baca Juga:  Saatnya Mengunci Istikamah di Ujung Ramadan

Subuh itu berbeda. Gerakan salatnya lambat, seolah ia tidak ingin segera selesai. Saat sujud terakhir, ada keheningan hangat yang belum pernah ia rasakan.

Bukan tangis, bukan haru yang meledak, melainkan ketenangan yang menetap tanpa kata. Ia tidak meminta apa apa. Untuk pertama kalinya, diam terasa cukup.

Hari hari setelahnya berjalan biasa saja. Kantor tetap penuh tekanan. Target tetap menumpuk. Beberapa rencana bahkan gagal tanpa peringatan.

Tetapi ada satu perubahan kecil yang terus berulang. Setiap kali ia hendak melakukan kebaikan, jalannya terasa mudah. Bangun subuh tidak lagi berat.

Membaca beberapa ayat terasa singkat tetapi menenangkan. Menahan marah tidak lagi seperti menelan api. Memberi tanpa diketahui orang lain justru menghadirkan rasa cukup yang aneh.

Arga mulai gelisah oleh kemudahan itu. Ia takut ini hanya perasaan sementara. Ia pernah merasa dekat, lalu kembali jauh. Ia pernah berjanji berubah, lalu mengulang kesalahan yang sama.

Tetapi kali ini berbeda. Tidak ada ledakan semangat, hanya ketenangan yang pelan namun menetap.

Suatu sore di halte yang basah oleh hujan, ia duduk sendirian menunggu bus terakhir. Di sampingnya ada seorang lelaki tua berwajah teduh. Pakaiannya sederhana, tetapi matanya jernih seperti seseorang yang tidak sedang membawa beban apa pun.

“Kamu terlihat ringan,” kata lelaki itu tanpa menoleh.

Arga terkejut. Tidak banyak orang yang benar benar bertanya tanpa maksud lain. “Saya tidak merasa punya apa apa,” jawabnya pelan.

Baca Juga:  Ora Usah Nunggu Weton

“Justru itu,” kata lelaki tua tersebut. “Kadang kebahagiaan datang saat yang kita bawa semakin sedikit.”

Percakapan mereka singkat, tetapi meninggalkan gema panjang. Sebelum bus datang, lelaki itu berkata lirih, “Kalau ketaatan terasa mudah, biasanya itu tanda sedang dipanggil pulang.”

Arga ingin bertanya, tetapi lelaki itu sudah berdiri dan berjalan pergi menembus hujan yang belum benar benar reda.

Sejak malam itu, Arga menjalani hidup dengan cara berbeda. Ia mulai memperbaiki hubungan yang dulu ia abaikan. Ia menemani ibunya lebih lama di meja makan. Ia meminta maaf kepada seseorang yang pernah ia sakiti demi ambisi.

Ia menolak kesempatan yang menjanjikan keuntungan besar karena ada hal yang terasa tidak bersih. Keputusan itu membuat kariernya melambat, bahkan nyaris berhenti. Anehnya, ia tidak merasa kehilangan.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan damai yang tidak bergantung pada hasil. Hari hari terasa sederhana tetapi penuh. Waktu berjalan tanpa tergesa. Bahkan kesunyian tidak lagi menakutkan.

Tahun berganti tanpa banyak tanda. Rambutnya mulai diselipi uban tipis. Beberapa teman pergi lebih dulu meninggalkan dunia.

Setiap kabar duka tidak lagi hanya menghadirkan sedih, tetapi juga pertanyaan sunyi tentang kapan gilirannya tiba. Anehnya, pertanyaan itu tidak membuatnya takut.

Suatu malam ia bermimpi berada di tempat luas yang terang tanpa sumber cahaya. Tidak ada bangunan, tidak ada suara, hanya ketenangan yang dalam. Di kejauhan berdiri lelaki tua dari halte itu.

Baca Juga:  Ayat-Ayat di Ujung Senja

“Kamu sudah mengerti?” tanyanya lembut.

Arga mengangguk. “Bahagia bukan tentang memiliki. Bahagia saat dimudahkan taat.”

Lelaki itu tersenyum, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa dibaca. “Itu bukan akhir pemahaman,” katanya. “Itu baru awal perpisahan.”

Arga terbangun dengan napas tenang. Tidak ada rasa takut, hanya perasaan pulang yang samar. Subuh belum tiba. Ia berwudu, lalu salat lebih lama dari biasanya. Setiap ayat terasa seperti pelukan terakhir. Setiap doa mengalir tanpa permintaan dunia.

Ketika matahari naik perlahan, ia masih duduk bersandar di dinding kamar dengan senyum tipis yang damai. Mushaf kecil terbuka di pangkuannya. Tasbih berhenti di antara jari jarinya.

Beberapa jam kemudian, ibunya mengetuk pintu tanpa jawaban. Saat pintu dibuka, Arga masih dalam posisi yang sama, seolah hanya sedang beristirahat setelah perjalanan panjang. Wajahnya tenang, lebih tenang daripada yang pernah terlihat sebelumnya.

Dokter mengatakan ia pergi tanpa sakit, tanpa tanda penderitaan. Sangat sunyi. Sangat lembut.

Orang orang menyebutnya kematian yang indah.

Namun tidak ada yang tahu, kebahagiaan yang selama ini ia rasakan bukanlah akhir perjalanan. Kemudahan untuk taat itu ternyata adalah cara paling halus Tuhan memberi tahu bahwa seseorang sedang dipanggil pulang, sebelum dunia sempat benar benar ia tinggalkan. (#)

Penyunting Ichwan Arif.