Opini

Hari Pertama Masuk Sekolah, Sebuah Renungan

167
×

Hari Pertama Masuk Sekolah, Sebuah Renungan

Sebarkan artikel ini
Hari pertama masuk sekolah setelah liburan Ramadan dan Idulfitri membawa semangat dan energi baru. Guru dan siswa kembali menapaki hari mencetak generasi
Siswa dan guru MIM 2 Campurejo Panceng Gresik mengadakan halalbihalal. (Tagar.co/Nurkhan)

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan Ramadan dan Idulfitri membawa semangat dan energi baru. Guru dan siswa kembali menapaki hari mencetak generasi bangsa yang cerdas dan saleh.

Oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng Gresik.

Tagar.co – Pagi itu terasa berbeda. Langit masih sama, halaman madrasah masih sama, bahkan bangunan kelas pun tak berubah. Suasana di dalamnya terasa lebih hangat, lebih hidup. Ada energi baru yang mengalir di setiap sudut.

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan Ramadan dan Idulfitri, Senin (30/3/2026), di MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng Gresik bukan sekadar kembali ke rutinitas, tetapi kembali dengan hati yang telah ditempa.

Anak-anak datang dengan wajah cerah, sebagian masih menggenggam tangan orang tuanya. Ada yang berlari kecil menemui temannya, ada pula yang tersenyum malu sambil menyalami guru satu per satu.

Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” terdengar sederhana, namun sesungguhnya itulah fondasi penting dalam kehidupan madrasah: saling memaafkan, menguatkan, dan memulai kembali tanpa beban.

Baca Juga:  Menko Pangan Tinjau Koperasi dan Stabilitas Harga di Gresik

Di madrasah ini, kehidupan tidak hanya tentang belajar membaca dan berhitung. Ia adalah ruang pembentukan jiwa. Ramadan yang telah dilalui menjadi madrasah kehidupan yang sesungguhnya.

Anak-anak belajar menahan lapar, menahan emosi, belajar sabar, dan belajar berbagi. Kini, setelah Idulfitri, semua pelajaran itu diuji. Nilai-nilai islami itu harus hidup dalam keseharian.

Seorang guru yang berdiri di depan kelas hari itu tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menghidupkan kembali semangat. Ia tahu bahwa hari pertama ini adalah momentum.

Momentum untuk menanamkan kembali adab sebelum ilmu. Menyapa siswa dengan senyum, memulai pelajaran dengan doa, dan mengajak mereka mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari selama Ramadan.

Di sudut lain, terdengar anak-anak saling berbagi cerita. Tentang puasa mereka yang bolong atau penuh, tentang pengalaman tarawih, tentang baju baru di hari raya.

Semua cerita itu sederhana, namun di situlah kehangatan madrasah tumbuh. Madrasah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat pulang kedua bagi anak-anak.

Kehidupan sehari-hari di madrasah setelah Ramadan sejatinya adalah kelanjutan dari ibadah itu sendiri. Disiplin datang tepat waktu adalah bagian dari latihan menepati waktu salat.

Baca Juga:  Fokal Mutwo: Energi Baru Alumni MI Mutwo

Saling membantu teman adalah wujud nyata dari sedekah. Menghormati guru adalah bentuk adab yang diajarkan dalam setiap doa dan zikir.

Namun tantangannya adalah menjaga semangat itu tetap menyala. Tidak mudah. Hari-hari akan kembali biasa, rutinitas akan terasa berat, dan godaan untuk kembali pada kebiasaan lama selalu ada.

Di sinilah peran madrasah menjadi sangat penting: sebagai penjaga nilai, sebagai pengingat, dan sebagai rumah yang terus menumbuhkan kebaikan.

Hari pertama masuk sekolah setelah Idulfitri mengajarkan kita satu hal penting: bahwa setiap manusia selalu diberi kesempatan untuk memulai kembali.

Seperti lembaran putih yang bersih, madrasah menjadi tempat menuliskan kembali cerita-cerita kebaikan. Guru, siswa, dan seluruh warga madrasah adalah penulisnya.

Di balik langkah kecil anak-anak yang masuk gerbang madrasah pagi itu, tersimpan harapan besar: agar nilai-nilai Ramadan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi kebiasaan. Agar Idulfitri tidak hanya dirayakan, tetapi benar-benar dimaknai sebagai kemenangan.

Karena sejatinya, kembali ke madrasah setelah Ramadan bukan sekadar kembali belajar. Tetapi kembali menjadi pribadi yang lebih baik sedikit demi sedikit, hari demi hari.

Baca Juga:  Merajut Harmoni Lintas Generasi: Spirit Idulfitri dalam Manajemen Madrasah

Hari-hari setelah Idulfitri di madrasah juga menjadi waktu yang tepat untuk menata kembali niat. Niat belajar. Untuk apa kita datang ke madrasah setiap pagi? Ramadan telah mengajarkan keikhlasan beribadah bukan karena dilihat manusia, tetapi karena Allah.

Semangat itu seharusnya terbawa ke dalam kelas: belajar bukan sekadar mengejar nilai, tetapi sebagai bentuk ibadah.

Ketika seorang siswa membuka bukunya dengan niat yang benar, ketika guru mengajar dengan hati yang tulus, di situlah madrasah tidak hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga generasi yang berakhlak dan berjiwa kuat. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto