Opini

Habis Lebaran Menunggu Lonjakan Ekonomi

131
×

Habis Lebaran Menunggu Lonjakan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Habis Lebaran
Ilustrasi

Habis Lebaran dompet sudah menipis. Pekerjaan juga menanti. Hari-hari mulai normal. Ekonomi mulai menggeliat pelan. Berharap janji presiden menjadi macan Asia terwujud.

Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – Habis Lebaran biasanya semuanya terasa reda. Harga naik dimaklumi, dompet menipis dianggap wajar, yang penting suasana hangat.

Lebaran lewat  hari-hari kembali normal, yang tersisa tinggal angka. Dan angka tidak pernah ikut suasana.

‎Kalau melihat data, Indonesia sekarang  memang terlihat aman. Tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto berada di kisaran 78–82%. Survei lembaga Indikator Januari 2026 mencatat 79,9%.

Namun ketika dibedah, yang benar-benar merasa sangat puas hanya sekitar 13%.

Sisanya adalah cukup puas. Artinya, tidak ada masalah besar, tapi juga belum ada alasan kuat untuk merasa bangga.

Yang lebih penting, angka ini bukan hal baru. Di akhir masa Joko Widodo, tingkat kepuasan juga berada di rentang 70–82%.

Jadi yang terjadi bukan lonjakan kepercayaan, melainkan kelanjutan dari stabilitas yang sudah ada. Kita tidak melihat perubahan mendasar, hanya kesinambungan.

Baca Juga:  MBG dan Ujian Negara: Dari Dapur Rakyat hingga Mahkamah Konstitusi

‎Gambaran ini makin jelas ketika masuk ke ekonomi. Selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan Indonesia bertahan di sekitar 5%. Proyeksi terbaru pun hanya bergerak tipis ke 5,2–5,3%.

Angka ini tidak buruk, bahkan tergolong kuat. Tapi persoalannya sederhana: tidak berubah.

‎Ekonomi kita tidak jatuh, tetapi juga tidak mempercepat diri. Berjalan, tapi di jalur yang sama.

Struktur pertumbuhan masih ditopang oleh konsumsi domestik, komoditas, dan belanja pemerintah.

Efek MGB

Hilirisasi sudah berjalan. Tetapi efeknya belum cukup dalam untuk menciptakan lonjakan besar. Sementara sektor yang seharusnya jadi mesin baru, industri maju, inovasi, dan teknologi, belum benar-benar mengambil peran utama.

Di level masyarakat, tanda-tanda kecil mulai terlihat. Kelas menengah masih belanja, tapi lebih hati-hati. Tidak lagi seagresif sebelumnya.

Ini bukan krisis, melainkan perubahan pelan yang sering luput dari perhatian, padahal justru di situlah arah ekonomi mulai berubah.

‎Contoh paling konkret bisa dilihat dari program makan bergizi gratis (MBG). Dengan anggaran sekitar Rp335 triliun di 2026 dan jangkauan puluhan juta penerima, program ini jelas terasa langsung di masyarakat.

Baca Juga:  Hari Pertama Lebaran di Kampung, Cerita Lama yang Tidak Pernah Kehilangan Rasa

Konsumsi terdorong, rasa puas meningkat, dan kehadiran negara terasa. Bahkan dalam fase awal pelaksanaannya, belanja negara ikut meningkat, memperlihatkan efek cepat ke perputaran ekonomi.

Defisit Anggaran

‎Namun di balik itu, ada batas yang tidak bisa diabaikan. Defisit anggaran tetap dijaga di bawah 3%, ruang fiskal tidak luas, dan setiap tambahan belanja harus diimbangi penyesuaian di sisi lain.

Artinya, negara tidak benar-benar leluasa untuk terus memperbesar langkah tanpa konsekuensi.

‎Di titik ini terlihat jelas satu hal:‎keinginan besar berjalan berdampingan dengan kapasitas yang terbatas.

Secara analitik, pola besarnya tidak sulit dibaca. Kepuasan publik tinggi karena efek kebijakan langsung terasa.

Ekonomi tetap tumbuh karena konsumsi dijaga. Namun di saat yang sama, tidak ada perubahan struktur yang cukup kuat untuk mendorong lompatan.

Produktivitas tidak melonjak, mesin baru belum matang, dan ketergantungan pada pola lama masih dominan.

‎Inilah yang membuat Indonesia hari ini tampak stabil, tetapi sebenarnya datar. Tidak ada krisis. Tidak ada keguncangan besar.

Baca Juga:  Diplomasi dalam Badai

Tapi juga tidak ada percepatan yang berarti. Dan di situlah letak tantangannya. Karena ketika semua terasa cukup, dorongan untuk berubah biasanya melemah. Tidak ada tekanan yang mendesak, tidak ada urgensi yang terasa.

Padahal dunia di luar tidak menunggu. Terus bergerak, terus naik, terus bersaing. Risikonya bukan krisis mendadak. ‎Risikonya lebih halus tapi justru lebih berbahaya: kita tetap berjalan, tapi perlahan tertinggal.

‎Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi apakah Indonesia bisa bertahan, itu sudah terbukti.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kita berani keluar dari ritme yang sama ini, dan benar-benar memaksa diri untuk naik kelas ‎sebelum momentum itu hilang tanpa kita sadari. Habis Lebaran jangan sampai putus harapan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto