
Ratusan jemaah merayakan Idulfitri dengan khidmat di Masjid At-Taqwa Hasan Blitar, lengkap dengan keceriaan anak-anak yang berebut balon warna-warni usai menyimak pesan mendalam sang khatib.
Tagar.co — Sinar matahari pagi baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon di Dusun Jatinom, Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Namun, keriuhan sudah terasa di Masjid At-Taqwa Hasan sejak pukul 06.00 WIB. Hari itu, Jumat (20/3/2026), menjadi momen istimewa bagi warga RT 03 RW 02 untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Lebih dari seratus jemaah memadati area masjid. Pihak takmir mengatur saf dengan rapi: jemaah laki-laki memenuhi bagian dalam bangunan utama. Sementara jemaah perempuan menempati halaman masjid yang telah beralaskan karpet.
Ada pemandangan unik yang mencuri perhatian di area luar. Puluhan balon warna-warni tergantung cantik dengan ikatan tali, bergoyang pelan tertiup angin pagi. Dekorasi ini sengaja panitia siapkan untuk memberi kesan semarak.
Tepat pukul 06.30 WIB, kumandang takbir mereda seiring mulainya salat Idulfitri. Suasana berubah menjadi sunyi dan khusyuk. Takmir mengemas acara dengan efisien namun tetap bermakna hingga berakhir pukul 07.00 WIB.
Begitu salam terakhir terucap, keceriaan pecah. Panitia membagikan balon-balon tadi kepada anak-anak yang hadir. Gelak tawa bocah-bocah yang berebut balon menjadi penutup manis prosesi ibadah, mengubah nuansa sakral menjadi penuh sukacita kekeluargaan.
Pesan Ustaz Zen
Setelah rangkaian salat usai, jemaah tidak beranjak. Mereka menyimak khotbah dari Ustaz Ali Zainal Abidin, atau yang akrab warga sapa sebagai Ustaz Zen. Sang khatib berdiri di mimbar dengan pesan-pesan yang menggugah nalar. Ia mengingatkan, berakhirnya Ramadan bukanlah akhir dari sebuah pengabdian, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya untuk menjaga konsistensi.
“Setelah menjalani satu bulan Ramadan dengan baik, maka kita harus bisa melanjutkan kebaikan itu. Jangan sampai kita terlena,” tegas Ustaz Zen dengan nada mantap di hadapan para jemaah.
Ustaz Zen juga melontarkan definisi menarik mengenai kecerdasan manusia. Baginya, kepintaran bukan sekadar tentang pencapaian duniawi atau gelar akademik. Ia menekankan, visi jauh ke depan melampaui kematian adalah tolok ukur utama kualitas berpikir seseorang.
“Orang jenius adalah orang yang bersiap untuk kehidupan akhirat. Sedangkan orang yang tidak jenius adalah yang hanya memikirkan dunia,” tambahnya. Pesan ini menjadi pengingat bagi warga agar tetap menginjak bumi namun tetap menatap langit dalam menjalani rutinitas harian di desa.
Waspada Propaganda Setan dan Dosa
Melanjutkan pesannya, Ustaz Zen menyoroti tantangan zaman yang kian memudar batas moralnya. Ia mengajak jemaah untuk menghidupkan kembali akal sehat dalam membedakan mana yang hak dan yang batil. Menurutnya, saat ini dunia sedang berada di fase di mana banyak orang mulai abai terhadap asal-usul rezeki maupun perbuatan mereka.
“Kembali bersiap menghadapi godaan, jalani hari dengan akal yang sehat. Dosa jangan dianggap biasa, karena ada zaman di mana orang tidak peduli dengan apa yang didapat itu baik atau buruk,” jelasnya secara lugas.
Kemudian ia mendorong jemaah untuk mempelajari syariat secara mendalam. Termasuk mengenali dosa besar seperti syirik agar bisa menghindarinya dengan saksama.
Sebagai penutup, ia mengutip Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 21 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh berbuat keji dan mungkar.”
Ustaz Zen menutup khotbahnya dengan pesan agar jemaah senantiasa menjaga diri dari bisikan keburukan dan mampu mengendalikan hawa nafsu. “Hati-hati terhadap bisikan keburukan dan kendalikan nafsu. Jangan sampai kita terkena propaganda setan,” pungkasnya sebelum memimpin doa penutup yang mengakhiri seluruh rangkaian Idulfitri di Masjid At-Taqwa dengan penuh makna. (#)
Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Sayyidah Nuriyah












