
Ribuan jemaah memadati Alun-Alun Sidayu dalam salat Idulfitri 1447 H. Khatib Achmad Althaf menekankan pentingnya konsistensi ibadah pasca-Ramadan untuk meraih derajat hamba yang rabani dan bertakwa.
Tagar.co – Udara pagi di Sidayu terasa berbeda, Selasa itu. Semburat cahaya matahari seolah ikut menyambut ribuan jemaah yang berbondong-bondong memadati Alun-Alun Sidayu. Mereka hadir dengan satu tujuan suci: menunaikan salat Idulfitri 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sidayu, Jum’at, 20 Maret 2026.
Suasana khusyuk begitu terasa saat Muhammad Faruq, S.Pd., memandu jalannya salat sebagai imam. Di barisan depan, jemaah tampak khidmat mengikuti setiap gerakan. Tak lama setelah salat usai, perhatian tertuju pada sosok khatib, Achmad Althaf, Lc., asal Lamongan, yang bersiap menyampaikan pesan-pesan spiritual di hadapan khalayak.
Sebelum khotbah bermula, Sujari, yang mewakili PCM Sidayu, naik ke mimbar untuk melaporkan capaian Lazismu KLL Sidayu selama bulan suci. Sujari memaparkan data yang membanggakan sekaligus mengharukan.
“Kami menerima sebanyak 3.633 kilogram beras serta uang senilai Rp140.297.500 yang bersumber dari zakat, infak, dan sedekah,” ujarnya tegas. Ia memastikan, seluruh amanah tersebut telah tersalurkan kepada pihak-pihak yang berhak menerima.
Baca Juga: Khotbah di Masjid At-Taqwa Hasan Ungkap Definisi Jenius Sesungguhnya
Menjaga Spirit Ramadan di Hari Kemenangan
Achmad Althaf mengawali khotbahnya dengan lantunan takbir yang menggetarkan jiwa. Ia mengutip ayat Al-Qur’an, wali tukabbirullah ‘ala ma hadakum, sebagai pengingat akan pentingnya rasa syukur. Baginya, keberhasilan menuntaskan rangkaian ibadah selama sebulan penuh—mulai dari puasa, salat tarawih, qiyamul lail, hingga tadarus Al-Qur’an—sepenuhnya merupakan karunia Allah SWT.
Dalam paparannya, Althaf menyentuh sisi emosional jemaah saat ia membandingkan keutamaan orang yang wafat setelah berjumpa dengan bulan Ramadan dengan mereka yang berpulang sebelum bulan suci tiba. Ia menekankan, “Ketika kita sudah meninggalkan bulan Ramadan, jangan sampai kita hanya menjadi sosok ‘Ramadhani’ yang hanya rajin beribadah saat bulan suci saja.”
Ia mengajak jemaah untuk berjuang menjadi sosok ‘Rabani’. Artinya, semangat ibadah yang telah dipupuk selama Ramadan harus tetap berlanjut di hari-hari berikutnya. Althaf mengingatkan bahwa hubungan dengan Sang Pencipta tidak boleh putus begitu saja saat bulan Ramadan berakhir.
Mengenai kedekatan hamba dengan Tuhannya, ia merujuk pada ayat wa idza sa-alaka ‘ibadi. Althaf meyakini Allah selalu mengabulkan doa bagi hamba yang Dia kehendaki. Khotbah tersebut ditutup dengan untaian doa agar seluruh jemaah dapat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan pada tahun mendatang. “Keutamaan beribadah di bulan tersebut sungguh terasa, sehingga tidak ada salahnya kita merindukan bulan penuh berkah ini,” ucapnya lirih.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, panitia salat Idulfitri mengumumkan perolehan infak dari para jemaah yang mencapai angka Rp62.000.000. Mewakili segenap panitia, ia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga kontribusi nyata ini membawa kebermanfaatan luas bagi mereka yang membutuhkan di wilayah Sidayu dan sekitarnya. (#)
Jurnalis Habib Amrullah Penyunting Sayyidah Nuriyah












