Opini

Hisab, Rukyat, dan KHGT

135
×

Hisab, Rukyat, dan KHGT

Sebarkan artikel ini
Hisab
Peredaran matahari, bumi, bulan, dan benda angkasa tetap, pasti, dan dapat dihitung.

Hisab, rukyat, dan KHGT tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan. Ketiganya lahir dari kehendak yang sama: menandai awal bulan hijriah secara bertanggung jawab. Dalilnya pakai hadis yang sama tapi tafsir dan metode berbeda.

Oleh R. Arif Mulyohadi, Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim.

Tagar.co – Menjelang 1 Syawal, umat Islam Indonesia kembali memasuki ruang diskusi yang selalu hadir dari tahun ke tahun: kapan Idulfitri ditetapkan?

Di tengah perkembangan astronomi yang semakin maju, otoritas keagamaan yang terus bekerja, dan dinamika masyarakat yang semakin terbuka, perbincangan tentang hisab, rukyat, dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) kembali mengemuka.

Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sebagai persoalan teknis penanggalan. Namun, sejatinya, persoalan ini jauh lebih dalam. Ia menyentuh cara umat memadukan ilmu, ijtihad, dan akhlak dalam kehidupan beragama.

Perbedaan penetapan awal Syawal sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah Islam. Yang baru justru cara sebagian umat menyikapinya di ruang publik.

Di era media sosial, perbedaan yang seharusnya dipahami sebagai kekayaan ijtihad sering berubah menjadi bahan sindiran, ejekan, bahkan penghakiman.

Padahal, perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hijriah bukanlah tanda lemahnya agama, melainkan bukti bahwa Islam memiliki tradisi ilmu dan ijtihad yang hidup.

Ilmu sebagai Jalan Memahami Tanda-Tanda Allah

Islam tidak pernah menempatkan ilmu sebagai lawan iman. Sebaliknya, ilmu adalah jalan untuk membaca ayat-ayat kauniyah Allah di alam semesta.

Dalam konteks penentuan awal bulan hijriah, peredaran bulan, posisi matahari, dan kemungkinan terlihatnya hilal adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dipelajari secara ilmiah.

Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 5: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Ayat ini menegaskan bahwa perhitungan waktu, termasuk penanggalan, merupakan bagian dari keteraturan ciptaan Allah. Karena itu, penggunaan hisab astronomi tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang asing dalam Islam.

Baca Juga:  Sidang Isbat: Kritik Kebijakan di Era Hisab Presisi

Ia justru merupakan bentuk ikhtiar manusia untuk memahami hukum-hukum Allah yang berlaku di alam.

Dalam pandangan banyak pakar falak, hisab memberi kepastian perhitungan yang sangat akurat. Data astronomi modern memungkinkan manusia mengetahui posisi bulan, tinggi hilal, elongasi, hingga peluang keterlihatan hilal secara ilmiah.

Di titik ini, ilmu bukan ancaman bagi agama, tetapi alat untuk menertibkan ibadah. Maka, mempertentangkan sains dengan agama dalam soal ini sesungguhnya merupakan cara pandang yang tidak produktif.

Ruang Ijtihad

Meski demikian, ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri. Dalam Islam, penetapan awal Ramadan dan Syawal juga terkait erat dengan nash dan tradisi fikih.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika ia tertutup atasmu, maka sempurnakan bilangannya menjadi tiga puluh hari.

Hadis ini menjadi dasar normatif utama dalam penentuan awal puasa dan hari raya. Namun, dari hadis yang sama lahir ragam pendekatan.

Ada yang lebih menekankan rukyat sebagai pengamatan langsung terhadap hilal. Ada yang menggunakan hisab sebagai alat bantu sekaligus dasar penetapan.

Ada pula yang mengembangkan kriteria imkanur rukyat sebagai jalan tengah antara observasi dan kalkulasi. Sementara itu, KHGT muncul sebagai upaya membangun kalender hijriah yang lebih seragam secara global.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan penentuan 1 Syawal berada dalam wilayah ijtihad. Dalam wilayah ijtihad, perbedaan bukanlah penyimpangan, melainkan konsekuensi dari cara membaca dalil dan realitas.

Karena itu, tidak tepat jika satu metode diposisikan seolah-olah paling islami, sedangkan metode lain dianggap kurang sahih.

Selama berangkat dari dasar keilmuan, argumentasi syar’i, dan tanggung jawab akademik, semua pendekatan tersebut memiliki tempat dalam khazanah Islam.

Guru besar astronomi dan pakar falak, Prof. Thomas Djamaluddin, misalnya, berulang kali menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam membaca posisi hilal serta perlunya titik temu yang terus diupayakan demi kemaslahatan umat.

Baca Juga:  Salat Idulfitri 20 Maret 2026, Muhammadiyah Situbondo Siapkan 15 Lokasi

Sementara tokoh-tokoh keagamaan seperti KH Cholil Nafis juga mengingatkan bahwa perbedaan hendaknya disikapi secara dewasa, bukan dengan memperuncing jarak di antara sesama muslim.

Pendapat seperti ini menunjukkan bahwa para ahli yang berkompeten justru mengarahkan umat pada keteduhan, bukan permusuhan.

Kedewasaan Diuji saat Berbeda

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada ada atau tidaknya perbedaan, tetapi pada cara kita mengelolanya.

Dalam masyarakat yang matang, perbedaan ijtihad tidak berubah menjadi konflik sosial. Ia cukup ditempatkan sebagai keragaman pandangan yang lahir dari proses berpikir yang serius.

Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 10: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

Ayat ini memberi arah yang sangat jelas: persaudaraan harus tetap dijaga, bahkan ketika terdapat perbedaan. Persaudaraan dalam Islam tidak dibangun di atas keseragaman mutlak, melainkan di atas iman, adab, dan takwa.

Karena itu, kedewasaan umat justru terlihat ketika hasil ijtihad tidak sama. Mudah bagi kita untuk terlihat rukun ketika semua pihak berada pada keputusan yang seragam. Akan tetapi, ketika metode berbeda dan hasilnya tidak selalu sejalan, di situlah kualitas akhlak diuji.

Apakah kita tetap menghormati? Apakah kita tetap menjaga ucapan? Apakah kita tetap mampu menempatkan sesama muslim sebagai saudara, bukan lawan?

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini semakin penting. Indonesia bukan hanya negara dengan jumlah muslim terbesar, tetapi juga bangsa yang dibangun di atas kemajemukan. Karena itu, stabilitas sosial, keteduhan ruang publik, dan penghormatan terhadap otoritas keagamaan adalah hal yang tidak boleh diremehkan.

Perbedaan hari raya tidak semestinya dijadikan bahan olok-olok. Sebaliknya, ia harus menjadi momentum pendidikan publik bahwa beragama membutuhkan keluasan hati.

Baca Juga:  Memulai Puasa Ramadan di Tanggal Global

Akhlak dan Ego Metode

Pada akhirnya, hisab, rukyat, dan KHGT tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan. Ketiganya lahir dari kehendak yang sama: menandai awal bulan hijriah secara bertanggung jawab.

Yang membedakan hanyalah jalan metodologis yang ditempuh. Dalam keadaan seperti ini, yang paling penting bukanlah memenangkan metode, melainkan menjaga akhlak.

Allah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 59: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu.

Ayat ini memberi pelajaran bahwa dalam urusan yang menyangkut ketertiban bersama, umat memerlukan rujukan, kebijaksanaan, dan kedisiplinan sosial.

Ketaatan di sini bukanlah ketaatan buta, melainkan sikap dewasa dalam menempatkan kehidupan bersama di atas ego kelompok.

Karena itu, menyambut 1 Syawal semestinya tidak diwarnai semangat saling mengalahkan. Tidak ada gunanya merasa paling benar jika akhirnya yang tumbuh justru caci maki, sindiran, dan keretakan.

Idulfitri bukan hanya perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum penyucian hati. Maka, tidak pantas jika hari suci itu justru diawali dengan suasana batin yang panas dan penuh permusuhan.

Umat Islam perlu kembali belajar bahwa ilmu harus melahirkan kerendahan hati. Ijtihad harus melahirkan tanggung jawab. Dan perbedaan harus melahirkan kedewasaan.

Jika itu yang dikedepankan, maka apa pun hasil penetapan 1 Syawal, umat akan tetap sampai pada satu kemenangan yang lebih penting: kemenangan atas ego diri sendiri.

Pada akhirnya, hilal memang dicari di langit, tetapi kematangan umat justru diuji di bumi. Di antara hisab, rukyat, dan KHGT, yang paling menentukan masa depan kehidupan beragama kita bukan hanya ketepatan metode, melainkan kemampuan menjaga ilmu tetap jernih, ijtihad tetap terhormat, dan ukhuwah tetap utuh.

Selamat Idulfitri. Taqabbalallohu minna waminkum taqabbal yaa karim. Mohon maaf lahir dan batin. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto