
Di tengah arus mudik yang padat dan hujan yang tak henti, seorang polisi tetap berdiri di jalan—menahan rindu, menjaga keselamatan, dan memastikan orang lain bisa pulang dengan selamat.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co – Hujan turun tipis sejak pagi di persimpangan Jalan Panglima Sudirman. Aspal mengilap seperti cermin retak, memantulkan lampu kendaraan yang mulai memadati arah menuju Tol Jomo. Klakson bersahutan, memanjang seperti keluhan yang tak selesai.
Di tengah riuh itu, lampu strobo biru-merah berdenyut.
Briptu Andik Firmansyah berdiri tegap.
Klik dan baca: Kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari
Jas hujan tipis yang dikenakannya sudah setengah basah. Air merembes sampai ke seragam. Flu sejak semalam belum juga reda, membuat tenggorokannya terasa perih setiap kali ia meniup peluit.
Namun peluit itu tetap nyaring.
Tangannya terangkat, memberi aba-aba. Arus kendaraan yang semrawut perlahan tertata.
Di sampingnya, Briptu Yoga menepuk bahunya.
“Ndik, wajahmu pucat. Sudah minum obat?”
Andik tersenyum tipis.
“Sudah. Yang belum sembuh macetnya.”
Yoga terkekeh kecil.
“Operasi ini memang ujian. Ingat temanya? Mudik Aman, Keluarga Bahagia.”
Andik mengangguk, tapi tatapannya tetap lurus ke jalan.
Di dalam hati, kalimat itu berbalik arah:
Semoga keluarga saya juga bahagia.
Menjelang siang, hujan reda. Matahari muncul tiba-tiba, memanaskan aspal yang masih basah. Uap tipis naik bersama bau bensin dan debu.
Tenggorokan Andik semakin kering.
Seorang pengendara motor menerobos lampu merah. Andik sigap menghentikannya.
“Pak, saya buru-buru. Anak saya sudah menunggu di kampung,” kata pengendara itu dengan nada tinggi.
Andik menahan napas sejenak, lalu berbicara lebih pelan.
“Kalau ingin cepat sampai, justru harus lebih hati-hati, Pak.”
Pengendara itu terdiam.
Andik menepuk bahunya ringan.
“Kami di sini supaya Bapak sampai rumah dengan selamat.”
Nada suaranya tidak menggurui, hanya lelah—dan jujur.
Laki-laki itu menunduk.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Andik kembali ke tengah jalan. Peluit kembali terdengar.
Keringat dan sisa air hujan bercampur di wajahnya.
Sore hari, ia sempat beristirahat di pos pelayanan dekat pusat perbelanjaan. Motor dinas Yamaha FJR1300P terparkir di sampingnya, lampu sirine berkedip redup.
Yoga menyodorkan sebotol air mineral.
“Minum dulu.”
Andik menggeleng pelan.
“Masih puasa.”
Yoga menatapnya sebentar, lalu duduk di sebelahnya.
Beberapa detik hening.
“Kadang saya iri,” kata Andik akhirnya. “Mereka pulang. Saya justru menjauh dari rumah.”
Yoga menarik napas panjang.
“Justru karena kamu di sini, banyak orang bisa sampai rumah.”
Andik menatap jalan yang mulai padat lagi.
Kalimat itu tidak langsung menguatkannya. Tapi cukup untuk membuatnya berdiri lagi.
Ia meraih peluit.
Kembali ke tengah arus kendaraan.
Menjelang magrib, ponselnya bergetar.
Panggilan video dari rumah.
Wajah kecil Erlangga Rendra muncul di layar. Matanya sembap.
“Ayah kapan pulang?”
Andik tidak langsung menjawab.
Ia menggeser posisi, menjauh sedikit dari keramaian.
“Ayah masih tugas, Nak.”
Bibir anak itu bergetar.
“Teman-teman sudah mudik… Erlangga mau ke rumah nenek…”
Andik menelan ludah. Tenggorokannya terasa lebih kering dari tadi siang.
“Ayah jahat… Ayah lebih sayang orang lain…”
Jari Andik mengerat di sisi ponsel.
“Tidak begitu, Nak…” suaranya pelan. “Ayah cuma ingin semua orang bisa sampai ke rumahnya.”
Anak itu terdiam.
“Lebaran nanti kita pergi, ya?” suaranya lirih.
Andik memejamkan mata sejenak.
“Janji.”
Layar berpindah. Wajah istrinya, Minarni, muncul.
“Mas, Erlangga cuma kangen. Jaga kesehatan.”
Andik mengangguk.
Tidak banyak kata. Tapi cukup.
Malam turun bersama hujan yang kembali deras.
Tenda pos bergoyang diterpa angin. Jalanan di sekitar simpang dipenuhi kendaraan yang merayap pelan.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di tengah persimpangan.
Seorang laki-laki turun dengan wajah panik.
“Pak! Tolong, Pak! Istri saya…!”
Di kursi belakang, seorang ibu hamil meringis menahan sakit.
Andik tidak bertanya panjang.
Ia langsung menyalakan sirine.
Motor dinas melesat membuka jalan.
Lampu merah dilanggar. Klakson tak lagi terdengar—sirine menguasai ruang.
Hujan menampar wajahnya, dingin dan tajam.
Mobil di belakangnya mengikuti.
Beberapa menit terasa seperti lebih lama dari biasanya.
Sesampainya di rumah sakit, pintu belakang mobil dibuka cepat. Perawat berlari membawa tandu.
Laki-laki itu menggenggam tangan Andik.
“Terima kasih, Pak… kalau tidak ada Bapak…”
Andik hanya mengangguk. Napasnya masih berat.
“Semoga ibu dan bayinya sehat.”
Ia berbalik. Hujan belum reda.
Namun entah kenapa, tubuhnya terasa lebih ringan.
Menjelang tengah malam, ponselnya kembali berdering.
Ibunya.
Wajah tua itu muncul di layar, pucat tapi tersenyum.
“Alhamdulillah, operasinya lancar, Ndik.”
Andik menunduk sedikit.
“Maaf, Bu… belum bisa menjenguk.”
“Tidak apa-apa,” jawab ibunya pelan. “Ibu bangga kamu tetap bertugas.”
Andik tidak langsung menjawab.
“Doakan Andik, Bu.”
Ibunya mengangguk.
“Menolong orang itu ibadah. Allah tidak tidur.”
Layar perlahan meredup.
Andik menatap kosong beberapa detik sebelum memasukkan ponsel ke saku.
Jam menunjukkan pukul 23.37.
Arus kendaraan mulai berkurang, tapi belum benar-benar sepi.
Sebuah mobil kecil menepi di dekat pos.
Andik mendekat.
“Kenapa, Pak?”
“Ban belakang bocor.”
Tanpa banyak bicara, Andik jongkok. Tangannya cekatan membuka baut, mengganti ban, meski seragamnya kembali basah oleh genangan air.
Beberapa menit kemudian, selesai.
“Sudah, Pak.”
Pengemudi itu tersenyum lega.
“Terima kasih banyak.”
Dari pintu belakang, seorang perempuan setengah baya turun.
“Terima kasih, Pak Polisi… karena Bapak, kami bisa lanjut perjalanan.”
Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
“Untuk teman-teman di pos.”
Andik menerimanya. Tangannya sedikit gemetar.
Dalam bayangannya, wajah ibunya kembali muncul.
Ia menatap jalan yang masih basah, lampu-lampu yang berkilau di aspal, dan kendaraan yang terus bergerak menuju rumah masing-masing.
Peluit kembali ia angkat.
Suara nyaring itu memecah malam.
Dan di tengah hujan yang belum selesai, ia tetap berdiri—menjaga jalan pulang orang lain. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












