Feature

Lautan Manusia, Lautan Air Mata: Ramadan yang Menggetarkan di Makkah

157
×

Lautan Manusia, Lautan Air Mata: Ramadan yang Menggetarkan di Makkah

Sebarkan artikel ini

Saat doa menggema dan tangis pecah di malam ganjil, Ramadan di Makkah bukan sekadar ibadah—ia adalah perjalanan pulang menuju Allah.

Catatan Perjalanan dari Tanah Suci oleh Riza Agustina Wahyu Setyawati

Tagar.co – Ramadan di Indonesia selalu hadir dengan suasana yang akrab: aroma kue lebaran, hiruk-pikuk baju baru, serta geliat ekonomi yang mendadak hidup. Lapak-lapak daring bermunculan, penjual dan pembeli bertemu dalam satu irama: mengais rezeki sekaligus meraih berkah. Seolah tidak ada yang sepi di bulan suci—semakin banyak penjual, semakin ramai pula pembelinya.

Namun, Ramadan di Makkah menghadirkan lanskap yang berbeda. Di kota suci ini, kesibukan tidak lagi berpusat pada transaksi, melainkan pada ibadah. Jutaan manusia datang dari berbagai penjuru dunia, bergerak dalam satu tujuan yang sama: mengejar pahala dan meraih Lailatulqadar.

Baca juga: 12 Juta Orang Menutup Tahun dengan Umrah

Sejak awal Ramadan, arus manusia ke Makkah tidak pernah surut. Kepadatan menjadi pemandangan sehari-hari. Aparat keamanan bekerja tanpa henti, menyusun strategi demi menjaga keselamatan para jemaah. Di tengah lautan manusia itu, setiap langkah terasa seperti bagian dari perjalanan spiritual yang agung.

Baca Juga:  Lailatulqadar: Malam ketika Malaikat Turun Berbondong-bondong

Bagi banyak muslim, datang ke Makkah pada bulan Ramadan bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah panggilan istimewa. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw. disebutkan, “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadan seperti berhaji bersamaku” (Bukhari No. 1863). Keutamaan ini menghadirkan kesadaran bahwa setiap detik di tanah haram memiliki nilai yang berlipat, meski tidak menggugurkan kewajiban haji.

Bagi saya, berada di Makkah 12 Maret – 27 Maret 2026 adalah anugerah yang tak ternilai. Haji adalah kewajiban, umrah adalah panggilan, dan umrah di bulan Ramadan adalah keistimewaan. Apalagi ketika kesempatan itu datang untuk kedua kalinya, menghadirkan pengalaman yang lebih matang sekaligus lebih dalam.

Pada Ramadan, setiap aktivitas terasa sebagai pelajaran. Bahkan, sekadar memasuki Masjidilharam membutuhkan strategi. Kepadatan jemaah membuat sistem pengaturan terus berubah. Tidak jarang, setelah berhasil masuk, kami masih harus berjuang mencari tempat salat yang nyaman—dan siap berpindah ketika petugas mengatur ulang posisi jemaah.

Ruang-ruang di masjid diatur sedemikian rupa. Ada area khusus perempuan, ada pula area laki-laki yang dibatasi, terutama bagi yang mengenakan ihram. Semua bergerak dalam ritme yang sama: tertib, padat, dan penuh kesabaran.

Baca Juga:  Menghidupkan Lailatulqadar setiap Waktu

Salat tarawih menjadi pengalaman tersendiri. Berdiri lama bukan lagi sekadar ujian fisik, melainkan latihan kesungguhan. Setiap malam, satu juz Al-Qur’an dilantunkan oleh imam, mengalirkan ayat-ayat suci yang menembus keheningan hati.

Waktu di Makkah terasa berbeda. Salat Isya dimulai sekitar pukul 20.30 dan berakhir mendekati pukul 22.00. Setelah itu, jemaah beristirahat sejenak sebelum kembali bangun untuk salat malam pada pukul 01.00 hingga 03.00. Subuh datang sekitar pukul 05.10. Dalam siklus waktu seperti itu, istirahat menjadi barang mewah yang harus diatur dengan cermat.

Banyak hari saya habiskan dengan iktikaf, dari selepas Asar hingga larut malam. Hari-hari di Makkah terasa sederhana, namun sarat makna: mengejar salat, dari satu waktu ke waktu berikutnya. Seolah hidup hanya berporos pada ibadah.

Jemaah berbuka puasa di Masjidilharam dengan paket takjil yang dibagikan gratis oleh pengelola Masjidilharam Ahad, 15 Maret 2026 (Tagar.co/Riza Agustina Wahyu Setyawati, )

Puncak Harapan

Keindahan Ramadan di Makkah juga terasa saat berbuka. Setiap hari, paket takjil disiapkan dan dibagikan kepada jemaah. Kebersamaan itu menghadirkan rasa hangat yang sulit dilukiskan—orang-orang yang tidak saling mengenal, duduk berdampingan, berbagi makanan, dan doa.

Di kota ini, batas antara siang dan malam seakan mengabur. Sepanjang waktu, manusia bergerak menuju masjid. Tidak ada jeda dari arus ibadah yang terus mengalir.

Baca Juga:  Strategi Menghadapi 10 Hari Terakhir Ramadan

Memasuki sepuluh malam terakhir, suasana berubah semakin khusyuk. Malam ke-27 Ramadan menjadi puncak harapan. Jutaan manusia berkumpul, termasuk mereka yang datang dari berbagai wilayah daratan sekitar Arab Saudi, menempuh perjalanan panjang demi satu tujuan: meraih Lailatulqadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Di antara lautan manusia itu, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap. Ketika Abdurrahman Al-Sudais memimpin doa, suaranya menggema, menyentuh relung hati. Tangis pecah di mana-mana. Lautan manusia berubah menjadi lautan air mata.

Ramadan di Makkah bukan sekadar pengalaman ibadah, melainkan perjalanan batin. Ia mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan dalam bentuk yang paling nyata.

Dan ketika 1 Syawal tiba, kemenangan itu terasa begitu dalam. Bukan hanya karena berhasil menahan lapar dan dahaga, tetapi karena berhasil menaklukkan diri—dalam kesibukan mengejar pahala di tanah suci.

Di sanalah, seorang hamba benar-benar belajar: bahwa perjalanan menuju Allah tidak selalu mudah, tetapi selalu indah untuk dijalani. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni