
Aliansi BEM Surabaya menggelar sarasehan ngabuburit kebangsaan di Universitas Wijaya Putra. Mahasiswa lintas kampus membahas penguatan demokrasi, integritas gerakan mahasiswa, dan kontribusi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Tagar.co – Suasana Ramadan dimanfaatkan mahasiswa Surabaya untuk memperkuat refleksi kebangsaan. Aliansi BEM Surabaya menggelar Sarasehan Ngabuburit Kebangsaan dan Buka Bersama di Universitas Wijaya Putra Surabaya, Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Surabaya yang tergabung dalam Aliansi BEM Surabaya.
Baca juga: Reformasi Belum Usai: Aliansi BEM Surabaya Gugat Arah Demokrasi
Acara diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Hymne Wijaya Putra, dan Mars Mahasiswa. Kegiatan kemudian resmi dibuka Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya sekaligus Presiden Mahasiswa, Nasrawi.
Memasuki sesi utama, forum sarasehan kebangsaan menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas tema “Refleksi Kebangsaan di Bulan Ramadan: Menguatkan Demokrasi dan Partisipasi Mahasiswa untuk Surabaya Menuju Indonesia Emas 2045.”
Diskusi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merumuskan arah gerakan dalam mengawal kebijakan publik sekaligus memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Meneguhkan Kembali Nilai-Nilai Kebangsaan
Narasumber pertama, Muhammad, SH., perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya, menilai Ramadan merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebangsaan.
“Refleksi kebangsaan di bulan Ramadan menjadi momentum bagi kita untuk kembali meneguhkan nilai persatuan, integritas, dan tanggung jawab sebagai generasi muda. Melalui forum ini, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat demokrasi serta meningkatkan partisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa, khususnya di Surabaya,” ujarnya.
Ia juga berharap mahasiswa terus berkontribusi dalam pembangunan kota dengan semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap masyarakat, mahasiswa diharapkan terus berkontribusi dalam mewujudkan Surabaya yang maju menuju Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Peran Strategis Mahasiswa
Sementara itu, Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya periode 2021–2022 sekaligus Presiden Mahasiswa, Ahmad Yusuf Alhakim, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai representasi suara masyarakat.
“Mahasiswa memiliki peran penting sebagai representasi suara masyarakat dan pelajar. Mahasiswa tidak hanya menjadi kelompok akademik, tetapi juga agen mobilisasi sosial yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat secara kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para pimpinan organisasi mahasiswa agar menjaga integritas dan tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan pribadi maupun materi.
“Ketua BEM maupun pimpinan organisasi mahasiswa jangan sampai ada yang mudah dibeli dengan uang ataupun jabatan. Integritas harus tetap dijaga agar gerakan mahasiswa tetap independen dan berpihak pada kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Selain integritas, ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan organisasi mahasiswa.
“Setiap gerakan mahasiswa harus menjaga nilai kejujuran dan transparansi, terutama dalam pengelolaan dana kegiatan. Persoalan keuangan sering kali menjadi pemicu konflik internal di kalangan organisasi mahasiswa,” jelasnya.
Adaptasi Gerakan Mahasiswa
Narasumber lainnya, Koordinator Aliansi BEM Surabaya periode 2022–2023 sekaligus Presiden Mahasiswa, M. Aqyas Sholeh, menyoroti pentingnya adaptasi gerakan mahasiswa di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurutnya, mahasiswa saat ini hidup dalam era yang berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga gerakan mahasiswa perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Mahasiswa hari ini hidup di era yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kehidupan mahasiswa juga banyak berlangsung di ruang digital dan media sosial. Karena itu, gerakan mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai kritisnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan dalam memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga dapat terlibat dalam berbagai ruang dialog untuk menawarkan gagasan dan solusi.
“Mahasiswa tidak hanya berperan dalam ruang demokrasi melalui kritik terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga dapat masuk ke berbagai ruang dialog untuk memberikan gagasan, apresiasi, serta menyampaikan persoalan yang terjadi di daerah,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Aqyas juga menyampaikan harapannya kepada Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya, Nasrawi, agar aliansi tersebut tetap menjadi kekuatan moral yang berpihak pada masyarakat.
“Kami berharap Aliansi BEM Surabaya tetap berada di barisan yang selalu menolong masyarakat dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Surabaya,” tambahnya.
Sarasehan yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas antar mahasiswa lintas kampus. Melalui forum semacam ini, mahasiswa berupaya menjaga peran strategisnya sebagai agen perubahan yang terus mengawal kepentingan masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi, integritas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, gerakan mahasiswa diharapkan tetap menjadi kekuatan moral yang berkontribusi dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber. (#)
Jurnalis Nur Amalia Fitri | Penyunting Mohammad Nurfatoni












