Telaah

Puasa ala Rojali dan Rohana: Jangan Hanya Datang, tapi Beramal!

136
×

Puasa ala Rojali dan Rohana: Jangan Hanya Datang, tapi Beramal!

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Istilah “rombongan jarang beli” dan “rombongan hanya nanya” ternyata bisa menjadi refleksi spiritual di bulan Ramadan: jangan hanya hadir, tetapi isi dengan salat, tilawah, dan sedekah.

Oleh Mahfudz Efendi, S.Pd.Gr., M.M. ; Guru SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas Gresik

Tagar.co – Ramadan selalu menghadirkan pelajaran sederhana, tetapi sarat makna. Saat sahur, manusia diajarkan untuk bersyukur atas nikmat Allah Swt. Ketika menjalani puasa, hamba Allah ditempa untuk bersabar.

Sementara pada waktu berbuka, manusia belajar tentang nikmatnya menunggu—sebuah latihan sunyi yang menumbuhkan kedewasaan rohani.

Baca juga: Surah Al-Kausar: Jawaban Langit di Tengah Luka Kehilangan

Di tengah perjalanan Ramadan ini, kita juga diingatkan tentang keutamaan malam-malam terakhir yang penuh kemuliaan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa menghidupkan malam Lailatulqadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Karena itu, sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah Swt. atas limpahan karunia dan nikmat-Nya. Kita telah melewati puasa hingga hari ke-22.

Inilah saatnya mengencangkan kembali semangat ibadah dan usaha untuk berburu malam kemuliaan, Lailatulqadar, dengan penuh harap akan rida Allah Swt. dan dengan izin-Nya.

Rojali dan Rohana

Dalam konteks inilah muncul istilah Rojali dan Rohana yang sering kita dengar di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Menutup Ramadan dengan Momentum Paling Istimewa

Namun, dalam kultum ini, Rojali dan Rohana bukanlah nama orang, apalagi pasangan suami-istri. Keduanya hanyalah akronim yang cukup populer di masyarakat.

Rojali merupakan singkatan dari rombongan jarang beli, sedangkan Rohana adalah akronim dari rombongan hanya nanya.

Istilah ini sebenarnya merupakan satire atau kritik sosial terhadap kebiasaan sebagian masyarakat yang datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk berjalan-jalan, melihat-lihat berbagai produk, tetapi tidak membeli apa pun.

Para pengamat ekonomi menyebut fenomena Rojali–Rohana ini setidaknya dipengaruhi oleh dua hal.

Pertama, kondisi ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka memilih hidup hemat dan tidak membeli sesuatu kecuali benar-benar dibutuhkan.

Kedua, berkembangnya bisnis daring. Banyak orang datang ke toko hanya untuk melihat barang secara langsung, membandingkan harga atau kualitas produk, lalu membelinya secara online dengan harga yang lebih murah.

Bahkan, tidak jarang setelah melakukan survei tersebut mereka akhirnya tidak membeli sama sekali.

Lalu, apa hubungannya fenomena Rojali–Rohana dengan puasa Ramadan?

Secara langsung sebenarnya tidak ada. Namun, istilah tersebut dapat menjadi metafora untuk menggambarkan perilaku manusia dalam menjalani Ramadan.

Sebagaimana diketahui, Ramadan adalah bulan puasa, bulan ketika kaum beriman diwajibkan menahan diri dari makan dan minum. Ramadan juga dikenal sebagai bulan sedekah, saat umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagi kepada sesama.

Baca Juga:  Bekal Menyambut Ramadan: Pesan Guru Besar UINSA

Ia juga disebut bulan ampunan, karena Allah membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya seluas-luasnya bagi hamba-Nya.

Bulan Al-Quran

Ramadan juga dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Sebutan ini memiliki dua makna penting. Pertama, secara historis Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 di Gua Hira pada tahun 610 Masehi, yang sekaligus menandai pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai rasul.

Kedua, Ramadan menjadi bulan ketika kaum muslimin memperbanyak membaca, mengkaji, dan mentadabburi Al-Qur’an.

Dengan demikian, Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan.

Namun, kemuliaan Ramadan tidak akan bermakna jika manusia tidak mengisinya dengan amal dan ibadah. Keutamaan puasa tidak akan diperoleh oleh mereka yang tidak menjalankannya. Pahala sedekah tidak akan diraih oleh mereka yang enggan berbagi. Ampunan Allah hanya diberikan kepada hamba yang memohon ampunan-Nya.

Begitu pula petunjuk Al-Qur’an hanya akan diperoleh oleh mereka yang membaca, memahami, dan mengamalkannya.

Ramadan akan menjadi bulan yang biasa saja bagi manusia yang tidak memanfaatkannya dengan ibadah, seperti salat Tarawih, iktikaf, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal saleh lainnya.

Tiga Golongan

Orang yang menyia-nyiakan Ramadan bahkan disindir dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Jabir Ra. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa ada tiga golongan yang didoakan keburukan oleh Malaikat Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah Saw.

Baca Juga:  Lailatulqadar dan Rahasia Nilai Waktu dalam Al-Qur'an

Pertama, orang yang mendapati bulan Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan hingga Ramadan berlalu.

Kedua, orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup, atau salah satunya, tetapi tidak menjadikannya sebagai jalan menuju surga.

Ketiga, orang yang ketika disebut nama Nabi Muhammad Saw. di hadapannya, ia tidak bersalawat kepadanya.

Dalam hadis lain Rasulullah Saw. juga bersabda: “Barang siapa berpuasa dengan penuh iman dan mengharap rida Allah, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dari Abu Hurairah)

Karena itu, mari kita menjalani puasa dengan cara yang berbeda—bukan menjadi Rojali dan Rohana dalam arti negatif.

Sebaliknya, mari kita balik maknanya. Rojali kita maknai sebagai rombongan salat berjemaah dan mengaji. Sedangkan Rohana kita maknai sebagai rombongan bersedekah dan berderma untuk sesama.

Jika Ramadan kita isi dengan dua hal tersebut—salat berjemaah, tilawah Al-Qur’an, serta memperbanyak sedekah—maka insyaallah Ramadan tidak akan berlalu sia-sia. Justru ia akan menjadi jalan menuju ampunan dan kemuliaan dari Allah Swt. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni