
Di tengah dapur program besar dan angka-angka laporan, sebuah kenangan tentang ibu dan tungku lama diam-diam menantang pilihan kecil yang bisa menentukan panen hidup seseorang kelak.
Cerpen oleh Nico Perlambang Agung
Tagar.co — Saya hampir menekan tombol “nonaktifkan akun” ketika notifikasi itu muncul: Kenangan tujuh tahun lalu. Foto saya dan emak di depan dapur kayu yang sudah lapuk. Asap tipis naik dari tungku. Emak tersenyum, saya cemberut karena disuruh mengangkat karung beras. Saya batal pensiun dari media sosial. Lagi.
Beberapa hari ini linimasa penuh kabar tentang MBG. Dapur besar. Anggaran besar. Harapan besar. Dan tentu saja—kecurigaan besar.
Saya bekerja di salah satu dapur itu. Jam lima pagi, saya sudah berdiri di depan meja stainless steel. Bau bawang putih, ayam rebus, dan nasi panas bercampur jadi satu. Di luar, truk pengantar bahan berhenti dengan bunyi rem panjang.
“Mas, ayamnya datang kurang dua krat,” kata Roni, bagian logistik.
Saya mengangguk. Saya tahu apa artinya. Biasanya akan ada penyesuaian di laporan. Biasanya ada yang bilang, “Nanti saja beresnya.” Biasanya. Kata itu yang bikin dada saya sesak.
Saya pernah melihat sesuatu seperti ini dulu. Bukan di dapur besar dengan spanduk program pemerintah. Tapi di rumah kecil berdinding papan.
Waktu saya SMA, seorang perempuan pernah datang ke rumah. Ia berteriak-teriak memanggil nama emak. Tetangga keluar. Saya ingin tanah terbuka dan menelan saya.
“Ibu nggak ada,” kata saya waktu itu, dengan suara yang tidak setegar yang saya kira. Perempuan itu datang menagih utang.
Bertahun-tahun kemudian, ia datang lagi. Kali ini tidak berteriak. Tidak marah. Ia datang untuk berutang. Saya yang sudah merasa dewasa waktu itu langsung protes ketika emak memberinya uang.
“Lho, Mak. Kok njenengan wenehi?”
Emak tidak menjawab cepat. Ia hanya melipat uang itu, memasukkannya ke tangan perempuan itu, lalu berkata pelan, “Mak nglakoni apik ben mbalike neng anak-anake mak. Ora kanggo mak dewe.”
Saya tidak sepenuhnya paham waktu itu. Sekarang, di dapur MBG yang jauh lebih besar dari dapur kayu emak, kalimat itu seperti ikut berdiri di samping saya.
“Mas, mau kita kurangin saja porsinya sedikit. Biar nutup,” Roni berbisik.
Baca Juga: Mi Sahur Pukul 02.10
Saya melihat nasi yang sudah ditanak. Lauk yang sedang ditumis. Daftar jumlah anak di papan tulis. Angka-angka itu bukan sekadar angka. Di baliknya ada wajah-wajah yang belum tentu tahu apa itu markup. Mereka cuma tahu lapar atau kenyang.
Saya menarik napas. “Kita beli lagi yang kurang,” kata saya. “Saya yang urus.”
Roni menatap saya lama. “Kalau nanti ditanya soal anggaran?”
Saya terdiam sesaat. Lalu saya ingat emak. Dapur itu bukan tempat mencari untung. Itu tempat menanam. “Ya jawab saja sesuai belanja,” kata saya akhirnya.
Siang hari, saat truk distribusi berangkat, saya berdiri sebentar di depan dapur. Bau nasi hangat menguar keluar. Tiba-tiba saya rindu rumah.
Setiap kali pulang kampung, emak selalu bertanya hal yang sama. “Wes mangan durung?”
Walau sudah makan di luar, saya hampir selalu menjawab, “Durung.”
Atau, “Wes, tapi sak ithik.”
Lalu makan lagi. Diet saya sering gagal di rumah. Tapi ada sesuatu yang selalu terasa lunas setiap kali duduk di depan masakan emak. Mungkin bukan soal rasa. Mungkin soal niat.
Sore itu laporan keuangan tetap harus saya kirim. Angkanya sedikit berbeda dari rencana awal. Tidak ada yang dikurangi. Tidak ada yang disiasati.
Saya tahu pilihan seperti ini mungkin tidak membuat saya kaya. Tapi entah kenapa dada saya terasa lebih ringan.
Di grup internal, seseorang mengirim pesan singkat: “Mas, nanti kalau begini terus, kita yang repot.”
Saya menatap layar cukup lama sebelum membalas. “Repot sebentar nggak apa-apa. Jangan sampai panennya yang repot.”
Saya tidak tahu apakah mereka paham maksud saya. Malamnya, sebelum tidur, saya membuka lagi foto lama itu. Emak berdiri di depan tungku. Rambutnya belum seputih sekarang.
Saya baru sadar satu hal. Dapur emak tidak pernah kosong. Bukan karena bahan makanannya selalu cukup. Tapi karena niatnya tidak pernah kurang. Dan mungkin, apa pun yang saya dapat hari ini bukan murni hasil kerja saya. Mungkin itu panen dari sesuatu yang dulu ditanam di dapur kecil itu.
Saya tidak jadi menonaktifkan media sosial malam itu. Tapi setidaknya, hari ini saya mematikan satu hal: keinginan untuk menanam yang bukan-bukan. Karena saya percaya, entah cepat atau lambat, Tuhan tidak pernah salah alamat dalam mengirim panen. (#)
Penyunting Sayyidah Nuriyah












