Telaah

Sahur, Madrasah Sunyi Penempa Sabar dan Ikhlas

75
×

Sahur, Madrasah Sunyi Penempa Sabar dan Ikhlas

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Di balik sunyinya dini hari, sahur bukan sekadar mengisi energi, tetapi menjadi latihan halus untuk menumbuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan dalam menjalani ibadah puasa.

Oleh Hanif Asyhar, M.Pd., .; Trainer Spiritual Healthy Parenting dan Konsultan Pengembang Pendidikan

Tagar.co – Sahur bukan sekadar makan di dini hari untuk persiapan puasa seharian. Lebih dari sekadar energi fisik, sahur merupakan ibadah sunah yang sangat dianjurkan, mengandung keberkahan, serta menjadi salah satu sarana utama dalam menempa jiwa, khususnya dalam hal kesabaran dan keikhlasan.

Di sepertiga malam terakhir, saat nikmatnya tidur masih terasa, seorang muslim diajarkan untuk bangun, melawan rasa kantuk, serta memaksakan diri untuk bergegas bangkit dari tempat tidur. Di sinilah pelajaran tentang kesabaran dimulai.

Baca juga: Keteladanan Orang Tua, Kunci Membangun Kebiasaan Baik Anak

Melatuh Kesabaran

Kegiatan makan sahur yang dilaksanakan setiap dini hari itu dapat melatih kesabaran diri, di antaranya:

1. Sabar melawan hawa nafsu. Bangun dari tidur saat mata masih terasa berat merupakan salah satu ujian disiplin dan kontrol diri. Karena kita dipaksa untuk bangun sesuai waktu yang telah ditentukan, hal ini dapat melatih kedisiplinan sekaligus mengontrol diri untuk belajar lebih sabar dalam menjalaninya.

Baca Juga:  Saat Ramadan Menyatukan: Dari Takjil hingga Tarawih

2. Sabar menyiapkan hidangan. Bagi orang yang menyiapkan sendiri hidangannya, waktu sahur menuntut kesabaran ekstra dalam menyiapkannya sebelum fajar tiba, guna memastikan tubuh mendapatkan energi yang cukup untuk melaksanakan puasa pada hari itu.

3. Sabar menahan diri. Sahur mengajarkan kita untuk sabar dalam menaati aturan waktu: makan saat dianjurkan (diakhirkan) dan berhenti tepat waktu sebelum azan Subuh berkumandang.

Mengajarkan Keikhlasan

Di sisi lain, sahur juga merupakan bentuk keikhlasan yang mendalam karena kita melakukannya bukan untuk dilihat orang lain, melainkan sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt. serta mengikuti sunah Nabi Muhammad Saw. Di antaranya:

1. Ikhlas menerima perintah. Aktivitas makan di waktu dini hari merupakan hal yang tidak biasa sehingga menuntut hati yang ikhlas menerima syariat agar puasa menjadi lebih sehat dan berenergi.

2. Kualitas di tengah keterbatasan. Meskipun hanya dengan seteguk air, sahur tetap dianjurkan. Hal ini mengajarkan bahwa nilai keikhlasan tidak bergantung pada seberapa mewah dan banyak hidangan yang disiapkan, melainkan pada ketulusan dalam menjalankannya.

Baca Juga:  Muhasabah Akhir Ramadan

3. Waktu mustajab yang diikhlaskan. Waktu sahur merupakan waktu yang penuh keberkahan dan mustajab untuk berdoa serta beristigfar. Memaksimalkan waktu ini dengan ibadah—bukan sekadar makan—adalah bentuk keikhlasan yang tinggi.

Dengan sahur yang diniatkan sebagai ibadah, kita berharap mendapatkan keberkahan, baik secara fisik agar kuat menjalankan puasa maupun secara ruhani agar kualitas puasa semakin meningkat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni