Cerpen

Tambal Ban, Tambal Iman

74
×

Tambal Ban, Tambal Iman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di balik kompresor tua dan tangan berlumur oli, Mbah Junaidi menambal lebih dari sekadar ban—ia menambal penyesalan hidup dan menitipkan nasihat bagi generasi muda.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Tangan tua yang belepotan oli itu terus bergerak, mencoba menghidupkan kembali motor penggerak kompresor angin yang sejak tadi mogok. Sesekali terdengar helaan napas panjang dari dada renta itu.

Mbah Junaidi menggeser duduknya di atas bangku kayu usang, menyesuaikan posisi agar lebih nyaman menjangkau baut-baut kecil yang mulai berkarat.

Baca juga: Harga Cukur dan Harga Syukur

“Waduh… kenapa ini belum juga bisa menyala,” gerutunya pelan.

Dengan kunci pas di tangan, ia kembali menekuni mesin. Tangannya yang keriput namun terlatih memutar baut.

“Krek… krek… krek… nah, coba kita hidupkan lagi,” gumamnya.

Ia menarik napas, lalu berdoa pelan.

“Bismillah…”

Tali starter ditarik kuat. Sekali. Dua kali.

“Dug… dug… dug…”

Mesin itu akhirnya menyala, berisik memecah pagi.

Meski usianya sudah 71 tahun, kelincahannya menggeser choke ke posisi terbuka tak perlu diragukan. Wajahnya tersenyum lega.

“Alhamdulillah, sudah hidup. Jangan rewel lagi ya, Nak,” bisiknya lembut pada mesin tua itu, seolah berbicara pada teman seperjuangan.

Ia kembali duduk di selasar. Kaos biru lusuh, celana abu-abu strip hitam selutut, sandal hitam yang mulai menipis, serta topi flat cap yang setia menempel di kepala menjadi ciri khasnya. Matanya memandang lalu lalang kendaraan yang lewat. Sesekali topinya dilepas dan dikibas-kibaskan ke wajahnya yang penuh kerut.

Baca Juga:  Subuh Ketiga yang Diam-Diam Mencairkan Hati

Lalu terdengar suara yang selalu dinantikannya.

“Tin… tin…”

Suara klakson itu seperti panggilan rezeki.

“Mbah, tolong cek ban motor saya,” ujar seorang anak muda yang turun dari motor RX-King hitam strip abu-abu.

“Iya, Mas. Siap,” jawab Mbah Jun cepat sambil tersenyum.

Ia melangkah meski sedikit sempoyongan.

“Mas, duduk dulu di bangku panjang itu.”

Besi pengungkit diambil. Dengan cekatan ia mulai membuka ban.

“Kletek… kletek… tek… tek…”

“Kamu orang mana, Mas?” tanyanya ramah.

“Saya dari Gang Lima, Mbah. Masa tidak kenal saya?” sahut anak muda itu.

“Lho, memangnya kamu siapa?”

“Saya Adi, anak tunggalnya Haji Marpuah, juragan pindang itu, lho.”

Mbah Jun tersenyum lebar.

“Oalah… anaknya Pak Haji Marpuah toh. Pantas saja.”

Adi tertawa kecil. Ia duduk santai di bangku panjang, merokok sambil memainkan gadget terbarunya.

Setelah diperiksa, ban dalam itu ternyata tertembus dua paku karatan.

“Mas Adi, ini bocor dua. Saya tambal ya?”

“Iya, Mbah,” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Baca Juga:  Janji di Tengah Gelombang

Mbah Jun menyalakan api pemanas kecil. Potongan karet ditempelkan pada ban dalam. Sambil menunggu panas menyatukan tambalan, ia mendekati Adi.

“Mas Adi,” ucapnya pelan, “dulu mbah juga anak orang paling kaya di Desa Kunci.”

Jempol Adi yang semula lincah di layar mulai melambat.

“Sawah ibu saya luas sekali. Sapinya seratus dua puluh ekor. Belum lagi kambing dan ternak lainnya.”

Matanya menerawang jauh.

“Tapi waktu muda saya hidup foya-foya. Mabuk, judi, macam-macam kenakalan. Ibu saya tidak pernah mengajarkan susahnya hidup. Sampai akhirnya orang tua saya tertipu orang. Harta kami habis.”

Suaranya mulai bergetar.

“Saya diusir dari rumah. Sampai sekarang hidupnya begini… mengembara.”

Adi kini benar-benar berhenti bermain gadget. Rokok di tangannya dibiarkan memanjang abunya.

“Saya tidak menyalahkan siapa-siapa,” lanjut Mbah Jun lirih.
“Semua ini salah saya sendiri. Saya tidak bisa menjaga amanah orang tua.”

Pagi terasa lebih sunyi. Hanya suara kompresor yang sesekali mendesah.

“Saya tidak ingin anak muda mengalami hal yang sama.”

Ia bangkit.

“Tunggu sebentar ya, saya pasangkan ban motormu.”

Dengan terampil ia memasang kembali ban dalam, memompa hingga keras sempurna.

“Mas Adi,” katanya tegas namun lembut, “jangan seperti saya, ya.”

Baca Juga:  Astrea Tua yang Tak Mau Pensiun

Adi menunduk.

“Kamu ingin hidup berkecukupan, kan?”

“Iya, Mbah.”

“Kalau begitu, belajarlah kerja keras seperti orang tuamu. Bersikap santun kepada siapa pun. Jangan lupa salat, puasa, mengaji. Supaya hidupmu berkah.”

Adi mengangguk pelan. Kali ini tanpa senyum santai.

“Iya, Mbah. Terima kasih.”

“Berapa, Mbah?”

“Dua puluh dua ribu.”

Adi mengeluarkan uang tiga puluh ribu.

“Kembaliannya tidak usah, Mbah.”

Mbah Jun tertegun.

“Lho, Mas…”

“Anggap saja sedekah Ramadan.”

Mata tua itu kembali berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nak.”

Motor menderu pergi. Namun sebelum benar-benar menjauh, Adi berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Mbah Jun yang masih berdiri di tepi jalan.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ditegur tanpa dimarahi. Dinasihati tanpa direndahkan.

Mbah Jun kembali duduk di selasar. Kompresor tua itu masih berdengung pelan. Ia menengadah ke langit yang biru cerah.

“Ya Allah… terima kasih sudah memberiku kesempatan,” bisiknya.

Sawah, sapi, dan segala kemewahan masa lalu memang telah lama hilang. Namun pagi itu ia masih diberi napas, masih diberi tenaga untuk bekerja, dan—barangkali—masih diberi kesempatan menambal sesuatu yang lebih penting dari sekadar ban bocor.

Di bawah topi kodoknya yang sederhana, Mbah Junaidi tersenyum haru. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…