Telaah

Doa Berbuka, Dahsyat Maknanya

70
×

Doa Berbuka, Dahsyat Maknanya

Sebarkan artikel ini
Doa berbuka
Ilustrasi

Doa berbuka menunjukkan betapa berharganya nikmat basah di kerongkongan setelah kehausan. Inilah rasa syukur yang suka dianggap biasa.

Oleh Moh. As Syakir Hasbullah, guru SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro

Tagar.co – Ada satu detik yang sangat khas di bulan Ramadan: detik ketika teguk pertama air melewati kerongkongan setelah seharian berpuasa.

Tidak lama, tidak dramatis, tetapi terasa sampai ke dalam. Seolah tubuh menghela napas panjang yang sejak siang tertahan.

Pada saat itulah Nabi mengajarkan sebuah doa yang sangat jujur pada pengalaman manusia:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insyaallah.”

Doa ini tidak berbicara tentang langit yang jauh atau ganjaran yang abstrak. Ia dimulai dari tubuh: haus yang hilang, kerongkongan yang basah kembali. Seakan-akan Islam mengajak kita menyadari bahwa rahmat Allah sering terasa pertama kali di wilayah yang paling sederhana dari diri kita.

Sepanjang hari berpuasa, yang paling nyata sebenarnya bukan lapar, melainkan dahaga. Tenggorokan terasa kering, menelan ludah sendiri pun berat.

Baca Juga:  Menyiapkan Puasa dengan Ilmu: Kajian Fikih Ramadan Wali Murid SD Al-Islam Cerme

Dari situ kita belajar sesuatu yang sering luput: betapa berharganya nikmat basah di kerongkongan. Selama ini ia ada tanpa terasa, tetapi ketika hilang, barulah nilainya tampak.

Karena itu, ketika air menyentuh kerongkongan saat berbuka, doa ini menjadi seperti pengakuan yang spontan: ya Allah, dahaga ini Engkau hilangkan, kerongkongan ini Engkau basahi kembali. Dan sebagaimana Engkau selesaikan rasa haus ini, kami berharap Engkau tetapkan pahala puasa kami.

Riwayat tentang praktik Nabi saat berbuka menunjukkan kesederhanaan yang penuh makna.

Nabi menyegerakan berbuka ketika matahari terbenam, dan sering memulainya dengan kurma segar. Jika tidak ada, dengan kurma kering. Jika tidak ada pula, dengan beberapa teguk air.

Para ulama menjelaskan, di situ ada hikmah: sesuatu yang manis dan lembut untuk tubuh yang kosong, dan air yang langsung menghidupkan kembali kerongkongan.

Dalam kesederhanaan itu, ada pelajaran yang dalam. Berbuka bukan tentang banyaknya hidangan, tetapi tentang kembalinya nikmat. Tentang tubuh yang dipulihkan secukupnya, lalu hati yang diingatkan untuk bersyukur.

Baca Juga:  Kemiskinan kok Susah Hilang

Doa ذَهَبَ الظَّمَأُ … terasa sangat selaras dengan praktik ini. Nabi tidak mengajarkan kalimat yang jauh dari pengalaman berbuka, tetapi kalimat yang persis menggambarkan apa yang dirasakan orang yang berpuasa: haus selesai, tenggorokan basah, dan harapan pahala menetap. Tubuh dan iman dipertemukan dalam satu momen.

Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira bahwa saat berbuka adalah waktu yang sangat dekat dengan pengabulan doa. Beliau bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَتُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.

Artinya, detik ketika dahaga hilang itu bukan hanya detik lega fisik, tetapi juga detik kedekatan spiritual.

Seorang hamba baru saja menyelesaikan ibadah menahan diri sepanjang hari, lalu Allah membukakan baginya dua nikmat sekaligus: air yang menghidupkan tubuh dan kesempatan doa yang didekatkan.

Di situlah rahasia doa berbuka terasa. Ia tidak memisahkan tubuh dan jiwa. Islam tidak menafikan rasa haus, justru menjadikannya jalan menuju kesadaran. Dari kerongkongan yang kering, kita belajar kebutuhan. Dari kerongkongan yang basah kembali, kita belajar syukur. Dari syukur itulah doa naik dengan lebih tulus.

Baca Juga:  Rahasia Doa Radhitu Billahi Rabba

Bagi seorang mukmin, berbuka bukan sekadar mengakhiri puasa. Ia adalah momen pengakuan: bahkan seteguk air pun adalah rezeki yang datang tepat waktu dari Allah. Dan bahwa setiap ibadah yang dijalani dengan sabar tidak akan sia-sia di sisiNya.

Maka setiap Magrib di bulan Ramadan, ketika kita mengangkat gelas dan membaca:
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
sebenarnya kita sedang menghayati tiga hal sekaligus: nikmat yang kembali, syukur yang tumbuh, dan harapan pahala yang diteguhkan.

Saat dahaga hilang, kita tidak hanya minum. Kita sedang diingatkan.
Saat kerongkongan basah, kita tidak hanya lega. Kita sedang disyukuri.
Dan saat doa berbuka terucap, kita tidak hanya berharap. Kita sedang didekatkan kepadaNya.

Semoga setiap berbuka kita menjadi bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga pintu doa yang diijabah oleh Allah Subḥānahu wa ta‘ālā. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto