
Universitas Muhammadiyah Surabaya memperkuat transformasi kurikulum adaptif melalui Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2024 guna mencetak lulusan kompeten yang memberikan kontribusi nyata serta dampak positif bagi masyarakat luas.
Tagar.co — Suasana ruang pertemuan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) tampak lebih hidup pada Rabu, 12 Februari 2026. Puluhan pimpinan universitas, Wakil Dekan 1 Bagian Akademik, hingga ketua program studi berkumpul dengan satu tujuan besar: membedah masa depan pendidikan tinggi melalui Sosialisasi Naskah Akademik bertajuk “Penyusunan dan Implementasi Kurikulum Adaptasi Permendiktisaintek Nomor 39 dan Kampus Berdampak.”
Langkah strategis ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan upaya Umsura dalam memperkuat transformasi kurikulum agar tetap adaptif dan regulatif. Panitia mengemas acara secara apik, mulai dari registrasi yang tertib hingga laporan Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) yang menekankan pentingnya konsolidasi kurikulum di seluruh program studi.
Wakil Rektor I Umsura, Dr. dr. Muhammad Anas, Sp.OG, membuka sesi dengan narasi yang menggugah. Ia menegaskan, perubahan ini adalah momentum emas untuk memperkuat mutu akademik kampus.
“Penyesuaian kurikulum bukan sekadar memenuhi regulasi nasional, tetapi merupakan bagian dari transformasi akademik. Kurikulum harus mampu menjawab kebutuhan zaman, memperkuat kompetensi lulusan, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Anas dengan nada optimis di hadapan para dosen.
Pesan tersebut jelas: Umsura tidak ingin hanya menjadi menara gading. Kampus ini harus menjadi mesin penggerak perubahan yang hasilnya terasa langsung oleh publik. Oleh karena itu, penyelarasan dengan Permendiktisaintek Nomor 39 menjadi harga mati untuk memastikan standar kualitas lulusan tetap berada di jalur yang benar.
Baca Juga: PPL Terbimbing hingga Mandiri, Umsura Menyiapkan Guru PPG Profesional

Bedah Strategi Outcome-Based Education
Memasuki sesi inti, diskusi beralih pada hal-hal teknis yang mendalam namun tetap progresif. Para peserta membedah Naskah Akademik dan Template Kurikulum baru. Fokus utamanya adalah penguatan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan rekonstruksi struktur kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Kepala LP3 Umsura, Prof. Dr. Dra. Sujinah, M.Pd, tampil memaparkan detail implementasi kurikulum adaptif ini. Menurutnya, perubahan harus berangkat dari fondasi dokumen akademik yang kokoh agar tidak kehilangan arah di tengah jalan.
“Naskah akademik menjadi fondasi utama dalam penyusunan kurikulum. Setiap program studi perlu memastikan bahwa CPL, struktur mata kuliah, hingga Rencana Pembelajaran Semester (RPS) tersusun secara selaras dan terukur,” jelas Sujinah dengan lugas.
Tak hanya soal regulasi pusat, Umsura tetap menyuntikkan karakter khas persyarikatan. Integrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam RPS menjadi poin krusial yang dibahas. Hal ini memastikan bahwa kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan tetap beriringan dengan nilai-nilai moral dan spiritual.
Selain itu, panitia membagikan panduan teknis mengenai moda pembelajaran yang fleksibel, mulai dari luring, daring, hingga hybrid. Peserta juga mendapatkan contoh templat dan modul pembelajaran sebagai referensi konkret untuk mereka terapkan di tingkat program studi masing-masing.
Diskusi interaktif yang menyusul pemaparan tersebut mencerminkan antusiasme tinggi. Para ketua program studi aktif bertanya tentang cara menyelaraskan kebijakan nasional dengan keunggulan spesifik prodi mereka. Semangat kolektif ini membuktikan bahwa Umsura siap bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga inovatif dan berkelanjutan. (#)
Jurnalis Shoffan Shoffa Penyunting Sayyidah Nuriyah












