
Fajar bukan sekadar pergantian waktu, melainkan undangan Ilahi untuk memulai hari dengan hati yang jernih dan penuh syukur. Dari doa bangun tidur hingga salat subuh yang khusyuk, pagi menjadi fondasi spiritual yang meneguhkan fokus, ketenangan, dan produktivitas sepanjang hari.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Judul artikel di atas mengingatkan kita kepada syair lagu Morning Has Broken (Fajar Menyingsing) dari Cat Stevens, seorang mualaf Muslim Inggris yang saat ini menekuni dunia dakwah. Pada lirik lagunya tertulis, “Praise every morning, God’s recreation of the new day. Morning has broken like the first morning” (Pujilah setiap pagi, ciptaan Tuhan akan hari yang baru. Fajar menyingsing telah tiba seperti pagi pertama).
Baca juga: Bukan Azab, Bukan Pula Harapan: Memaknai Musibah dalam Islam
Memulai aktivitas pagi dengan energi syukur berarti mengawali hari melalui rutinitas batin seperti doa, sujud dalam keheningan, atau rasa syukur, bukan langsung pada pekerjaan fisik. Ini adalah praktik membangun ketenangan jiwa, fokus, dan perlindungan spiritual untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hidup seharian. Berikut adalah beberapa aspek utama dari memulai aktivitas dengan energi spiritual:
Memulai Aktivitas Pagi dengan Rasa Syukur
Adalah tindakan apresiasi terhadap kebaikan, kesehatan, dan nikmat yang diterima, yang sering kali diwujudkan dalam bentuk doa, pengucapan “alhamdulillah”, atau perasaan damai dalam hati.
Nabi Saw. mengajarkan kepada umatnya agar perasaan syukur selalu dilakukan pada awal sebelum melakukan aktivitas fisik lainnya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Yunus ayat 10:
وَءَاخِرُ دَعْوَىٰهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Dan penutup doa mereka ialah, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.’”
Sebagaimana juga termuat dalam hadis dari Nabi Saw. tentang doa sebelum dan sesudah bangun tidur, yaitu:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ، قَالَ: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوْتُ، وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ (رواه البخاري)
“Adalah Nabi Saw., apabila berbaring ke tempat tidur, beliau membaca, ‘Dengan menyebut nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan mati.’ Dan apabila bangun, beliau membaca, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya juga seluruh makhluk kembali setelah dibangkitkan.’” (Bukhari)
Makna doa dalam hadis ini sangat mendalam sebagai bentuk syukur atas kehidupan baru. Doa ini mengakui bahwa tidur adalah kematian kecil, sedangkan bangun adalah bukti kekuasaan Allah mengembalikan ruh dan memberikan kesempatan kedua untuk beribadah. Memulai syukur dari hal-hal terkecil setelah bangun tidur sebelum memulai kesibukan sehari-hari. (Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, hlm. 838)
Waktu Subuh: Terkabulnya Doa
Waktu fajar dianggap istimewa, tenang, dan jernih, menjadikannya saat terbaik untuk ibadah, berdoa, dan mengatur niat. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 78:
وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“…dan laksanakanlah salat subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan oleh para malaikat….”
Salat subuh disebut Qur’anul fajr karena disyariatkannya memperpanjang bacaan Al-Qur’an di dalamnya melebihi biasanya pada salat fardu lainnya. Di samping itu, karena adanya keutamaan membaca Al-Qur’an pada waktu itu yang disaksikan oleh Allah, malaikat malam, dan malaikat siang.
Fokus pada Produktivitas dan Pencapaian Hasil
Memulai hari dengan ketenangan batin, tidak terburu-buru, bekerja dengan terencana, serta fokus pada produktivitas dan hasil yang lebih tinggi dan optimal. Sebagaimana Nabi Saw. bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional.” (Thabrani dan Baihaqi)
Penutup
Secara singkat, ini adalah cara menyiapkan jiwa agar siap menghadapi beban pekerjaan hari itu dengan pikiran yang tenang dan jernih. Dengan bersyukur, seseorang membalas kebaikan Allah Ta’ala dan mempersiapkan diri dengan mental yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan hari tersebut. Wallahualam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












