Feature

The Jungle of Mumtaz: Nuansa Rimba di Jantung Sekolah sebagai Ruang Belajar

82
×

The Jungle of Mumtaz: Nuansa Rimba di Jantung Sekolah sebagai Ruang Belajar

Sebarkan artikel ini
SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman menghadirkan konsep unik melalui pengenalan satwa, cosplay guru, dan sesi parenting psikologis guna memetakan bakat serta minat ratusan siswa baru.
The Jungle of Mumtaz: SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman hadirkan satwa edukatif, cosplay guru, dan parenting di Kegiatan PBM. (Tagar.co/Heni Dwi Utami)

SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman menghadirkan konsep unik melalui pengenalan satwa, cosplay guru, dan sesi parenting psikologis guna memetakan bakat serta minat ratusan siswa baru.

Tagar.co — Suasana SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman (SD Mumtaz) mendadak berubah menjadi hutan belantara yang asri, Sabtu, 7 Februari 2026. Bukan hutan biasa, melainkan wahana edukasi bertajuk “The Jungle of Mumtaz”.

Sekolah menggelar kegiatan Pemetaan Bakat dan Minat (PBM) Tahun Pelajaran 2026/2027 dengan konsep petualangan alam yang sangat kental. Dekorasi tanaman hijau merambat di setiap sudut, menyambut langkah kaki ratusan siswa baru yang datang dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

Kegembiraan anak-anak pecah saat mereka melihat berbagai satwa edukatif yang hadir di lingkungan sekolah. Pengelola menghadirkan kucing yang menggemaskan, hamster lincah, iguana, burung hantu yang tenang, hingga aneka jenis reptil seperti tokek eksotis dan ular piton berukuran besar.

Para siswa tidak hanya menonton dari jauh; mereka memberanikan diri berinteraksi langsung, berfoto, hingga mengelus kulit bersisik para reptil tersebut di bawah pengawasan ahli. Aktivitas ini bertujuan menumbuhkan empati serta kecintaan anak terhadap makhluk hidup sejak dini.

Kejutan tidak berhenti pada hewan asli. Guru-guru SD Mumtaz pun mencuri perhatian dengan mengenakan cosplay berbagai karakter hewan. Pendekatan emosional ini mereka lakukan agar siswa merasa nyaman dan tidak tegang saat menjalani hari-hari awal di lingkungan sekolah yang baru. Ketua SPMB sekaligus Ketua Panitia PBM, Riyanto, S.Pd., menegaskan, pihak sekolah ingin memberikan kesan pertama yang mendalam bagi para peserta didik.

Baca Juga:  Kreativitas Siswa ICP Spemdalas Tumpah Ruah di Acara Sparkling Show

“Kami mengangkat tema ini untuk membangun atmosfer petualangan, keseruan, serta pengalaman nyata bagi anak. Kami ingin sejak awal mereka mencintai dan peduli terhadap alam,” jelas Riyanto dengan semangat.

SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman menghadirkan konsep unik melalui pengenalan satwa, cosplay guru, dan sesi parenting psikologis guna memetakan bakat serta minat ratusan siswa baru.
Intan Larasati, M.Psi., Psikolog, memberikan parenting pengenalan potensi anak sebagai bekal masa depan di PBM SD Mumtaz. (Tagar.co/Heni Dwi Utami)

Menyelami Psikologi dan Potensi Anak

Sembari anak-anak asyik berpetualang di “hutan”, para orang tua dan wali murid mengikuti agenda yang tidak kalah krusial di ruang pertemuan. SD Mumtaz menghadirkan sesi parenting khusus yang menghadirkan pakar psikologi, Intan Larasati, M.Psi.

Fokus pembahasannya sangat mendalam: mengenali potensi unik anak sebagai bekal menghadapi masa depan yang kian kompetitif. Intan mengingatkan, setiap anak memiliki “permata” tersembunyi yang tidak selalu muncul ke permukaan secara instan atau seragam.

Dalam pemaparannya, Intan mengajak orang tua mengubah sudut pandang dalam mendidik buah hati. Ia menekankan agar orang tua tidak memandang anak sebagai aset yang memikul beban tuntutan orang tua. “Sebaliknya, orang tua harus memandang anak sebagai individu berdaulat yang memerlukan pemahaman, penerimaan, dan pendampingan sesuai tahap perkembangan psikologisnya. Hal ini menjadi fondasi penting agar anak tumbuh dengan kesehatan mental yang terjaga,” imbuhnya.

Baca Juga:  Ngopi sambil Sinkronisasi Odskop dan Simkopdes, KDMP Blitar Perkuat Transparansi

Intan juga mengupas tuntas tantangan besar di era digital. Paparan informasi yang terlalu cepat kini memicu perubahan perilaku sosial, tekanan psikologis, hingga penurunan rasa empati pada anak-anak. Oleh karena itu, ia menyarankan orang tua untuk membangun komunikasi yang hangat dan konsisten. Penghargaan terhadap usaha sekecil apa pun jauh lebih berharga daripada sekadar menuntut hasil akhir yang sempurna.

“Anak yang merasa orang tuanya mencintai tanpa syarat, menghargai usahanya, dan mendukung lingkungannya akan tumbuh lebih percaya diri dan siap belajar,” ungkap Intan.

Pesan ini menjadi pengingat bagi para orang tua bahwa kesiapan mental dan emosional jauh lebih utama daripada tuntutan akademik saat anak menginjak bangku sekolah dasar. Orang tua perlu melatih kemandirian dan motorik anak tanpa memberikan paksaan yang membebani batin mereka.

SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman menghadirkan konsep unik melalui pengenalan satwa, cosplay guru, dan sesi parenting psikologis guna memetakan bakat serta minat ratusan siswa baru.
Penelusuran bakat dan minat siswa SD Mumtaz. (Tagar.co/Heni Dwi Utami)

Sinergi Menuju Pendidikan Holistik

Kegiatan PBM kali ini melibatkan total 240 peserta didik, yang terdiri atas 224 siswa baru serta 16 siswa susulan dan mutasi. Sementara tim psikolog rekanan sekolah memimpin tes PBM bagi siswa, tim internal sekolah melaksanakan tes baca, tulis, dan hitung (calistung) secara persuasif. Di sisi lain, sekolah memaparkan sosialisasi program kepada orang tua sebagai bentuk sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan keluarga.

Baca Juga:  Ketika Mars Muhammadiyah dan Mars NU Dibahas di Kajian Ramadan Muhammadiyah Dukun

Data yang terkumpul dari proses pemetaan ini tidak akan berakhir di atas kertas saja. Pihak sekolah berkomitmen menjadikan hasil tes tersebut sebagai kompas dalam menentukan metode pembelajaran yang paling tepat bagi setiap individu. Riyanto menjelaskan, identifikasi sejak dini sangat membantu guru dalam memaksimalkan potensi setiap anak secara optimal di kelas nantinya.

“Melalui PBM ini, kami berharap sekolah mampu mewadahi, mengidentifikasi, dan memaksimalkan potensi peserta didik secara optimal. Data pemetaan yang kami peroleh menjadi dasar penting dalam proses pembelajaran ke depan,” pungkas Riyanto menutup penjelasannya.

Langkah ini membuktikan, SD Mumtaz serius dalam menerapkan pendidikan yang tidak hanya mengejar angka, tetapi juga memanusiakan manusia. Dengan memadukan aspek akademik, petualangan alam, dan sentuhan psikologis, “The Jungle of Mumtaz” sukses menjadi pintu gerbang yang manis bagi siswa baru. (#)

Jurnalis Heni Dwi Utami  Penyunting Sayyidah Nuriyah