
Program Mugres Life di SD Muhammadiyah Gresik Kampus B melatih kemandirian siswa kelas III-V melalui praktik menjahit untuk mengasah motorik halus, kesabaran, hingga karakter peduli.
Tagar.co — Jari-jemari mungil itu tampak sangat fokus memegang jarum dan benang. Sesekali dahi mereka berkerut, mencoba membidik lubang jarum yang amat sempit dengan ujung benang. Pemandangan unik ini mewarnai sudut SD Muhammadiyah Gresik (Mugres) Kampus B pada Jumat, 30 Januari 2026. Alih-alih memegang pena untuk mencatat teori, para siswa justru sibuk mempelajari teknik tusuk jelujur dan cara memperbaiki kancing pakaian yang lepas.
Sekolah rutin menggelar kegiatan bertajuk “Mugres Life” setiap pekan. Program ini merupakan bagian vital dari penguatan keterampilan hidup (life skills) bagi para peserta didik. Kali ini, sekolah menyuguhkan materi menjahit sebagai menu utama untuk siswa kelas III hingga kelas V. Antusiasme terpancar jelas dari wajah anak-anak yang biasanya lebih akrab dengan layar gawai ketimbang peralatan jahit tradisional.
Para guru pengampu mendampingi langsung jalannya kegiatan di lingkungan sekolah. Mereka memulai sesi dengan memperkenalkan dasar-dasar alat dan bahan kepada para murid. Tidak berhenti pada teori, guru langsung mendemonstrasikan teknik menjahit sederhana di depan kelas. Suasana belajar mengajar pun berubah menjadi interaktif dan penuh tawa ketika beberapa siswa saling membantu saat kawan di sebelahnya kesulitan mengikat simpul benang.
Baca Juga: Jalan Sehat Eratkan Silaturahmi SD Mugres Kampus B dengan Wali Siswa
Melatih Fokus Lewat Tusukan Jarum
Kepala Urusan Kurikulum SD Mugres Kampus B, Kiki Rizki Amaliyah, S.Pd., menegaskan, pihak sekolah sengaja memilih kegiatan menjahit karena memiliki segudang manfaat bagi perkembangan anak. Menurutnya, aktivitas ini tidak hanya berorientasi pada hasil jahitan yang rapi, tetapi juga menyentuh aspek kognitif dan afektif siswa secara mendalam.
“Keterampilan menjahit memberikan dampak manfaat untuk mengembangkan motorik halus, kreativitas, dan kesabaran murid. Aktivitas tersebut melatih fokus dan koordinasi mata-tangan, serta menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan melalui perbaikan pakaian baik milik sendiri atau orang lain jika membutuhkan bantuan,” ujar Amel, sapaan akrabnya, saat menjelaskan filosofi program tersebut.
Lebih lanjut Amel menerangkan, pihak sekolah memandang, di era serba instan ini, anak-anak perlu belajar menghargai sebuah proses. Menjahit menuntut ketelitian tinggi; satu kesalahan kecil bisa membuat alur benang menjadi berantakan. Melalui Mugres Life, lanjut Amel, sekolah berharap para siswa memiliki bekal keterampilan yang aplikatif untuk kehidupan sehari-hari sekaligus membangun karakter mandiri sejak usia dini.
Sensasi Baru di Luar Kelas
Kegiatan ini juga menjadi penawar jenuh bagi para murid dari rutinitas pelajaran di dalam ruang kelas yang terkadang monoton. Salah satu peserta, Almirah, siswi kelas V, tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Baginya, memegang jarum dan kain adalah sebuah pengalaman baru yang sangat menantang sekaligus memberikan kepuasan tersendiri saat jahitan mulai terbentuk.
“Seru, bisa menghilangkan kebosanan, dan melatih kesabaran,” ungkap Almirah sambil memamerkan kain hasil jahitannya dengan raut wajah bangga.
Pendekatan praktik langsung seperti ini terbukti membuat murid lebih mudah memahami manfaat dari ilmu yang mereka pelajari. Mereka tidak lagi sekadar membayangkan, tetapi merasakan langsung bagaimana jemari mereka menciptakan sesuatu yang berguna.
SD Mugres Kampus B terus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan holistik yang menyeimbangkan antara prestasi akademik dan kecakapan hidup. Selanjutnya, Mugres Life akan terus berkembang dengan berbagai kegiatan kreatif dan edukatif yang relevan bagi kebutuhan siswa di era modern. (#)
Jurnalis Diyani Islamiyah Penyunting Sayyidah Nuriyah












