Feature

WC 6 dan Seni Bertahan di Labirin Masjidilharam

93
×

WC 6 dan Seni Bertahan di Labirin Masjidilharam

Sebarkan artikel ini
Bangunan WC 6 (Daurah Miyah) berdiri di antara menara Makkah Royal Clock Tower (kiri) dan Hotel Dar At Tauhid Internasional, nampak kerumunan jama’ah yang berdesakan kembali ke hotel juga datang ke Masjidil Haram (Tagar.co/M. Khoirul Anam)

Bagi jemaah baru, Masjidilharam bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga labirin raksasa. Di tengah arus manusia dunia, WC 6 justru menjadi penanda sederhana yang menyelamatkan banyak langkah pulang.

Catatan seri ke-11 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya

Tagar.co – Bagi jemaah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Masjidilharam, kekaguman sering datang beriringan dengan kebingungan. Masjid terbesar di dunia itu terasa seperti keajaiban—sekaligus labirin suci.

Pintu masuknya banyak, arsitekturnya seragam, arus manusianya tak pernah surut. Sekali lengah, jamaah bisa berputar-putar, kehilangan arah pulang ke hotel, bahkan tercecer dari rombongan.

Baca juga: Belajar Memimpin dari Tanah Suci

Beragam patokan pun dipakai. Ada yang menghafal nomor pintu, ada pula yang menjadikan menara jam raksasa sebagai kompas visual. Namun, di antara semua penanda itu, ada satu yang paling membumi—dekat dengan kebutuhan manusia—dan diam-diam sangat strategis: WC. Dalam bahasa Arab, daurah miyah.

Ya, WC. Jangan buru-buru tersenyum.

Pesan singkat Amang Muazam—ketua rombongan sekaligus Ketua K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya—di grup WhatsApp sempat membuat saya heran.

Baca Juga:  Buka Bersama SD Mumtas, Sinergi Guru dan Orang Tua kian Menguat

“Kalau ke Masjidilharam dan pulang ke hotel, tandanya WC 6 ya! Jangan sampai keliru… WC 6!”

Dalam hati saya bertanya, masa iya toilet jadi penanda utama? Perasaan serupa juga dialami Yunita Puspitasari, Kepala SD Muhammadiyah 26 Surabaya, saat pertama kali menunaikan umrah. Namun, kenyataan di lapangan segera menjawab semua keraguan.

WC 6—dan beberapa WC lainnya—memang berdiri di titik-titik strategis. WC 6 terletak di jalur Jalan Ibrahim Khalil, ruas besar yang nyaris tak pernah sepi oleh arus jemaah dari berbagai penjuru dunia. Di kiri-kanannya, manusia bergerak seperti ombak; di tengahnya, WC 6 berdiri bak mercusuar kecil yang setia.

Rombongan kami bermukim di Al Olayan Golden Hotel. Dari sana, WC 6 berada dekat Pintu 79—salah satu akses favorit menuju pelataran Ka’bah. Beberapa kali saya masuk lewat pintu ini dan, dengan berpakaian ihram, bisa langsung menjejak halaman depan Ka’bah. Praktis. Efektif. Menenangkan.

Sejak saat itu, WC 6 bukan lagi sekadar toilet. Ia beralih fungsi menjadi titik temu, tempat janji, ruang menunggu suami, istri, sahabat, atau anggota rombongan yang terpisah di lautan manusia. “Kita ketemu di WC 6, ya!”—kalimat sederhana yang berulang kali menyelamatkan banyak jamaah.

Baca Juga:  Belajar Memimpin dari Tanah Suci

Area WC ini pun ramah: pelatarannya luas, tersedia tempat duduk, bersih, wangi, dan terawat. Selain untuk wudu dan hajat, WC 6 menjelma ruang sosial mini—tempat melepas lelah sejenak, berbagi cerita, atau sekadar memastikan semua kembali lengkap.

Di Tanah Suci, WC 6 dan WC lainnya bukan lagi fasilitas pendukung belaka. Ia menjadi simbol kebersamaan, persatuan, dan solidaritas jamaah lintas bangsa. Bangunannya mungkin sederhana, tetapi perannya vital—terutama bagi mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Mekkah dan melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Namun, pada akhirnya, satu hal tetap perlu diingat. WC—bahkan WC 6 yang berjasa besar itu—hanyalah bagian kecil dari perjalanan ibadah. Penanda boleh membantu arah, tetapi tujuan sejatinya adalah menjaga fokus, kekhusyukan, dan menguatkan hubungan dengan Allah Swt.

WC boleh jadi penyelamat arah. Ibadah tetap tujuan utama. (#)

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni