
Melalui kegiatan Market Day, siswa SD Muhammadiyah 1 Kebomas belajar langsung tentang usaha, keberanian, dan kejujuran dengan menjadi pedagang kecil di lingkungan sekolah.
Tagar.co – Lapangan SD Muhammadiyah 1 (SD Muri) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, mendadak berubah wajah, Kamis (29/1/2026).
Meja-meja kecil berjejer rapi, uang kembalian berpindah tangan, dan suara anak-anak saling menawarkan dagangan mengisi udara pagi. Bukan pasar sungguhan, melainkan ruang belajar yang sengaja dibuat hidup melalui kegiatan Market Day.
Baca juga: Dinosaurus di Layar Chromebook, Cara SD Muri Mengajarkan Koding
Sejak pukul 07.15 WIB, siswa-siswi tampak sibuk menata lapak masing-masing. Kegiatan ini melibatkan seluruh jenjang, mulai kelas 1 hingga kelas 6. Setiap kelas mengirimkan 10 siswa sebagai perwakilan untuk terjun langsung sebagai penjual.
Mereka tidak sekadar menunggu pembeli datang. Setiap siswa memiliki target menjual minimal 10 produk—bukan sebagai tekanan, melainkan sarana melatih keberanian, tanggung jawab, dan kejujuran sejak dini.
Ketika dagangan belum juga habis, wajah-wajah kecil itu tak lantas menyerah. Mereka turun dari balik meja, menyusuri lapangan, menghampiri teman, guru, hingga warga sekolah yang melintas.
“Bu, mau beli es cokelat? Dinginnya pas.”
“Pak, kebabnya masih hangat.”
Strategi jemput bola dilakukan secara alami—tanpa paksaan, tanpa rasa malu. Di titik itulah pembelajaran sesungguhnya berlangsung.
Anak-anak belajar berbicara sopan, menghitung uang, memberi kembalian, hingga menerima penolakan dengan senyum. Mereka belajar bahwa rezeki perlu diupayakan, bukan sekadar ditunggu.

Salah satu siswa kelas 4 AR Fahruddin, Adeffa Karima Tsalisa, mengaku sempat gugup saat pertama kali menawarkan dagangan.
“Awalnya malu dan takut nggak ada yang beli,” katanya. “Tapi lama-lama berani. Kalau belum habis, saya coba keliling lagi.”
Rasa lelahnya terbayar ketika dagangannya habis terjual.
“Senang sekali rasanya. Jadi tahu kalau usaha itu harus dicoba terus,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Pengalaman serupa dirasakan Ayana Rizki Cahyaning Massa, siswa kelas 2 KH Ibrahim. Meski masih terbata-bata saat berbicara, ia tetap memberanikan diri menawarkan jajanan kepada guru.
“Tadi deg-degan,” ucapnya polos. “Tapi pas ada yang beli, senang banget.”
Market Day bukan sekadar aktivitas jual beli. Di balik hiruk-pikuk transaksi, terselip nilai kemandirian, kerja keras, komunikasi, keberanian, dan kepercayaan diri—semuanya dikemas dalam suasana menyenangkan khas dunia anak.
Guru-guru tak hanya mengawasi, tetapi ikut menjadi pembeli, penyemangat, sekaligus pendamping proses belajar.
Guru kelas, Dita Rahmania, S.Pd., menilai Market Day sebagai pembelajaran karakter yang efektif.
“Anak-anak belajar langsung dari pengalaman nyata,” tuturnya. “Mereka belajar jujur saat menghitung uang, berani berbicara, dan bertanggung jawab atas barang yang mereka jual.”
Menurutnya, pembelajaran semacam ini sulit diperoleh jika hanya disampaikan melalui buku.
“Di lapangan, mereka belajar kehidupan. Dan itu jauh lebih membekas,” lanjutnya.
Koordinator kegiatan Market Day, Bellah Iasyah Meylindah, menyebut kegiatan ini dirancang agar siswa memahami makna usaha sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik,” ujarnya, “tetapi juga kuat mentalnya, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah.”
Ia berharap pengalaman sederhana ini menjadi bekal karakter bagi siswa di masa depan.
Pagi itu, lapangan SD Muri tak sekadar dipenuhi jajanan dan transaksi. Ia dipenuhi tawa, keberanian, dan proses tumbuh anak-anak yang sedang belajar tentang hidup—tentang mencoba, gagal, bangkit, lalu mencoba lagi.
Di antara meja kecil dan uang kembalian yang dihitung dengan jari mungil, tersimpan pelajaran besar: pendidikan sejati bukan hanya tentang nilai di rapor, melainkan tentang bagaimana anak belajar mengenali diri dan dunia.
Dan pada pagi itu, di lapangan sekolah, lahirlah pedagang-pedagang kecil—yang kelak bisa tumbuh menjadi pribadi besar, karena sejak dini mereka diajarkan satu hal penting: percaya pada usaha sendiri. (#)
Jurnalis Abdul Rokhim Ashari Penyunting Mohammad Nurfatoni












