
Puluhan kepala SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya melangkah bersama menuju Baitullah. Bukan hanya umrah, perjalanan ini menjadi ikhtiar kolektif—menguatkan doa di langit untuk menumbuhkan harapan di bumi pendidikan.
Catatan seri ke-6 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya.
Tagar.co – Ada perjalanan yang tidak berhenti pada jejak langkah, melainkan berdiam lama di relung batin. Perjalanan yang memurnikan niat, menata ulang harap, dan menyatukan doa-doa yang dipanjatkan bersama.
Itulah yang dialami Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya dalam Umrah kebersamaan—sebuah ziarah ruhani yang dirancang bukan semata sebagai ibadah personal, melainkan ikhtiar kolektif demi menguatkan bumi pendidikan yang mereka kelola.
Baca juga: Talbiah di Atas Kereta Cepat Menuju Rumah Allah
Para kepala sekolah memahami betul bahwa memajukan pendidikan tidak cukup dengan kerja keras di bumi. Strategi manajerial, inovasi pembelajaran, dan promosi sekolah adalah ikhtiar yang mesti ditempuh.
Namun, ada satu jalur yang tak boleh terlewat: jalur langit. Doa-doa mustajabah di Tanah Suci diyakini sebagai pengikat niat dan peneguh langkah, agar upaya duniawi beriringan dengan keberkahan Ilahi.
Karena itu, Umrah ini disusun sebagai Leader Inspiration Journey—sebuah perjalanan kepemimpinan yang berangkat dari kebersamaan. Jika umrah adalah hal yang lazim bagi seorang individu, maka melangkah bersama puluhan kepala sekolah adalah peristiwa yang menjelma sejarah. Sukses bersama selalu lebih bermakna daripada sukses sendirian.

Empat hari di Madinah menjadi fase penyiapan jiwa. Di kota Nabi, rombongan mengendapkan rindu dan menguatkan niat, sebelum kemudian bergerak menuju Makkah. Pada hari kelima, Sabtu, 17 Januari 2026, rombongan tiba pukul 13.30 waktu setempat. Usai salat Zuhur, tanpa menunda, langkah-langkah penuh harap mengarah ke Masjidilharam.
Kebersamaan dijaga dengan perencanaan matang. Di tengah lautan jemaah, formasi disusun: para kepala sekolah laki-laki yang bertubuh besar berada di barisan depan dan sisi luar; jemaah yang lebih sepuh dan sebagian ibu-ibu berada di tengah.
Tujuh putaran tawaf dilalui dengan barisan yang tetap utuh. Rasa letih tak jarang datang—kaki pegal, napas tertahan—namun tak seorang pun ditinggalkan. Tangan saling memapah, kata-kata saling menguatkan.
“Ayo Bu Jum, semangat ya Bu. kurang dua putaran lagi selesai. Insyaallah bisa,” ucap Choirotur Rosyidah, memberi daya pada Siti Jumailiyah, Kepala SD Muhammadiyah 8 Surabaya.
Sixtynna, Kepala MIM 27 Surabaya, merangkul pundak temannya, “Masih kuat ya Bu, tinggal satu putaran lagi. Kita selesai bersama.”

Dari tawaf, kebersamaan berlanjut pada sai—dari Bukit Safa ke Marwah. Langkah demi langkah dijalani dengan ritme yang sama, hingga tahalul menandai rampungnya rangkaian umrah. Di titik itu, syukur mengalir tanpa dikomando. “Alhamdulillah” bergema, bercampur haru dan air mata bahagia.
“Alhamdulillah, Umrah kali ini saya bisa selesai dengan baik dan lancar. Saya sangat bahagia. Kebahagiaan ini tidak bisa diukur dengan materi,” tutur Jatim, M.A., Kepala SD Muhammadiyah 29 Surabaya.
Inilah wajah kepemimpinan yang dirawat K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya: selalu bersama dalam langkah, saling hadir di saat lelah, dan saling menguatkan dalam perjuangan.
Mereka percaya, sukses sejati bukan soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mampu berjalan dan sampai bersama. Dari Tanah Suci, mereka menjemput langit—untuk menguatkan bumi pendidikan yang mereka cintai. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












