
Pesan Isra Mikraj di zaman ketika segalanya ingin serba cepat: tidak semua yang cepat itu membawa ketenangan hati.
Oleh Abdul Rokhim Ashari, Guru IT SD Muhammadiyah 1 Kebomas Gresik Jawa Timur.
Tagar.co – Setiap kali Isra Mikraj diperingati, ingatan umat Islam selalu kembali pada satu peristiwa yang melampaui nalar.
Dalam satu malam, Nabi Muhammad Saw diperjalankan dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratulmuntaha.
Sebuah perjalanan yang sulit dijelaskan dengan logika manusia. Allah membuka kisah perjalanan ini dalam surah Al-Isra:1.
سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ ١
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat itu diawali dengan tasbih—penyucian Allah. Manusia diingatkan: jangan buru-buru mengukur segala sesuatu dengan akal semata.
Kita hidup di zaman yang sangat berbeda, tetapi dengan kegelisahan yang serupa. Hari ini, dunia bergerak cepat. Informasi datang tanpa diundang, membanjiri layar ponsel kita sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali.
Dalam hitungan detik, berita dari belahan dunia lain sudah sampai di genggaman. Teknologi informasi menjanjikan efisiensi, kecepatan, dan kemudahan.
Namun, di tengah kecepatan itu, manusia justru sering kehilangan makna.
Pesan Isra Mikraj memberi pelajaran yang terasa paradoks, tapi justru di situlah hikmahnya. Perjalanan paling cepat dalam sejarah umat manusia tidak berakhir pada kekaguman teknologi, melainkan pada perintah salat.
Dalam riwayat hadis sahih, kewajiban salat diterima Rasulullah Saw secara langsung, tanpa perantara. Lima waktu sehari—ritme yang memaksa manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Dari langit tertinggi, manusia justru diajak untuk bersujud serendah-rendahnya.
Di sinilah pesan Isra Mikraj terasa sangat kontekstual dengan zaman digital. Ketika teknologi mendorong manusia untuk terus bergerak, Islam justru mengajarkan kapan harus berhenti.
Ketika notifikasi tak pernah tidur, salat datang sebagai jeda yang menyelamatkan kewarasan.
Rasulullah Saw pernah mengingatkan dengan kalimat yang singkat.
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini seperti cermin bagi kehidupan digital kita hari ini. Berapa banyak waktu habis untuk hal yang sekadar ramai, tetapi kosong? Berapa banyak energi terkuras untuk perdebatan yang tak pernah benar-benar mendekatkan kita pada kebaikan?
Nasihat Al-Ghazali
Teknologi informasi, sebagaimana ilmu pada umumnya, tidak pernah netral sepenuhnya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengingatkan bahwa ilmu bisa menjadi jalan menuju keselamatan, tetapi juga bisa menjadi sebab kehancuran jika tidak disertai adab.
Ilmu yang tercerabut dari nilai hanya akan melahirkan kesombongan, bukan kebijaksanaan.
Isra Mikraj juga mengajarkan kerendahan hati di hadapan kemajuan. Pada masanya, peristiwa ini dianggap mustahil. Banyak yang mencibir, meragukan, bahkan menertawakan.
Namun sejarah bergerak pelan-pelan membuktikan bahwa keterbatasan manusia bukanlah batas kebenaran. Hari ini, manusia terbang melintasi langit, menjelajah angkasa, dan berkomunikasi lintas benua tanpa bertatap muka.
Tetapi tetap saja, ada wilayah yang tak bisa ditembus teknologi: ketenangan hati.
Ibn Qayyim al-Jauziyah menulis bahwa hati yang tidak dihidupkan dengan zikir akan tetap merasa kosong, meski tubuhnya sibuk dan pikirannya penuh.
Kalimat ini terasa relevan di era ketika manusia terhubung dengan semua orang, tetapi sering terasing dari dirinya sendiri.
Teknologi informasi semestinya menjadi alat untuk memudahkan manusia berbuat baik, menyebarkan ilmu, dan memperluas kemanfaatan.
Bukan sebaliknya—menjadi mesin yang menggerus empati dan kepekaan. Rasulullah Saw mengingatkan:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika diterjemahkan ke bahasa zaman kini, kemajuan bukan soal seberapa canggih gawai di tangan, melainkan seberapa bijak ia digunakan.
Isra Mikraj akhirnya mengajarkan satu keseimbangan penting: manusia boleh melaju sejauh mungkin, tetapi harus tahu kapan menunduk.
Boleh mengejar dunia, tetapi tidak kehilangan arah ke langit. Boleh hidup di tengah teknologi, tetapi tetap menjaga ruh kemanusiaan.
Di zaman ketika segalanya ingin serba cepat, pesan Isra Mikraj hadir sebagai pengingat: tidak semua yang cepat itu membawa kita pulang.
Kadang justru dengan berhenti sejenak, bersujud, dan menata ulang niat, manusia menemukan arah yang paling jujur dalam hidupnya. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












