
Perjalanan Isra Mikraj bukanlah cerita tentang keindahan langit atau kedahsyatan alam gaib, melainkan sebuah amanah: perintah salat.
Tagar.co – Di zaman ketika hidup terasa begitu cepat, banyak manusia justru merasa lelah dan kehilangan arah.
Hari-hari dipenuhi aktivitas, target, dan tuntutan, tetapi batin sering tertinggal di belakang. Kita bergerak jauh secara fisik, namun jiwa kerap terasa kosong.
Dalam situasi ini, peristiwa Isra Mikraj hadir bukan sekadar sebagai kisah mukjizat, melainkan cermin perjalanan manusia tentang ke mana seharusnya kita melangkah dan untuk apa kita berjalan.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa. Perjalanan horizontal ini menyimpan pesan sosial. Masjidilaqsa bukan hanya tempat suci, tetapi simbol sejarah, peradaban, dan persaudaraan umat manusia.
Isra mengajarkan bahwa spiritualitas tidak boleh memutus manusia dari realitas sosial. Kedekatan kepada Tuhan seharusnya membuat manusia semakin peduli, adil, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta bumi yang dititipkan kepadanya selaku khalifah.
Iman bukan pelarian dari dunia, melainkan kompas dalam menjalaninya.
Setelah Isra, Nabi melanjutkan Mikraj yakni sebuah perjalanan vertikal menembus lapisan langit hingga Sidratulmuntaha.
Inilah puncak kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Menariknya, puncak dari perjalanan agung ini bukanlah cerita tentang keindahan langit atau kedahsyatan alam gaib, melainkan sebuah amanah: perintah salat.
Seolah Allah menegaskan bahwa kedekatan sejati tidak diukur dari pengalaman luar biasa, tetapi dari kesetiaan menjalani ibadah yang tampak sederhana namun terus-menerus.
Salat adalah buah tangan Isra Mikraj. Di sanalah pesan terpentingnya. Salat bukan sekadar rutinitas, tetapi ruang jeda bagi jiwa.
Ia mengajarkan disiplin waktu, ketundukan hati, dan kesadaran akan tujuan hidup. Dalam salat, manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk mengingat siapa dirinya dan kepada siapa ia akan kembali.
Sayangnya, salat sering dilakukan sebagai kewajiban fisik, belum sepenuhnya menjadi perjalanan batin. Padahal, salat adalah mikraj harian bagi orang beriman. Ia adalah cara paling dekat untuk naik tanpa harus meninggalkan bumi.
Bagi manusia modern, Isra Mikraj menawarkan keseimbangan. Isra mengingatkan agar kita tetap membumi dan peduli. Sementara Mikraj mengajak kita menjaga langit hati agar tidak runtuh oleh kesibukan.
Di dunia yang mengagungkan pencapaian dan kecepatan, Isra Mikraj mengajarkan bahwa naik bukan soal jabatan atau popularitas, melainkan kejernihan hati dan kedekatan dengan Allah.
Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa tahunan untuk dikenang, tetapi perjalanan yang seharusnya terus hidup dalam keseharian.
Setiap hari, kita melakukan Isra saat menjalani kehidupan dunia, dan Mikraj saat menegakkan salat dengan kesadaran.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam: sudahkah perjalanan itu benar-benar mengubah kita? (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












