Opini

Berani Berdiri di Dunia yang Gemar Menyerah

76
×

Berani Berdiri di Dunia yang Gemar Menyerah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ketika banyak orang memilih nyaman dan diam, keberanian untuk tetap berdiri menjadi penentu arah perubahan, menanam nilai, dan menyiapkan generasi yang lebih kuat dari hari ini.

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Dalam perjalanan hidup, tidak semua keberanian akan disebut keberanian. Di hadapan orang-orang yang terbiasa bersembunyi di balik ketakutan, sikap berani justru sering dicap sebagai kenekatan.

Bukan karena langkah itu keliru, melainkan karena keberanian tersebut mengusik rasa aman palsu yang selama ini mereka rawat. Keberanian memang tidak selalu nyaman, terutama bagi mereka yang lebih memilih hidup tanpa risiko.

Baca juga: Letih dalam Taat, Damai di Tengah Riuh Zaman

Hal serupa terjadi pada kedermawanan. Di mata orang bakhil, orang dermawan tampak boros. Berbagi dinilai sebagai pemborosan, bukan kebajikan. Padahal yang sesungguhnya miskin bukanlah mereka yang memberi, melainkan mereka yang hatinya kekurangan empati.

Di sinilah kita belajar bahwa perspektif manusia sering kali dibentuk oleh karakter, bukan oleh nilai kebenaran.

Baca Juga:  Menang di Akhir Ramadan

Kepercayaan diri pun kerap bernasib sama. Di mata orang minder, percaya diri dianggap sombong. Padahal, percaya diri adalah ekspresi syukur: mengakui potensi yang dianugerahkan Tuhan, lalu mengolahnya untuk kebaikan. Sombong merendahkan orang lain, sementara percaya diri justru menguatkan diri agar mampu menguatkan sesama.

Begitu pula dengan semangat perubahan. Di mata orang malas, setiap gerakan dianggap provokatif. Ajakan untuk bergerak dipandang sebagai gangguan terhadap kenyamanan. Padahal dunia tidak pernah berubah oleh mereka yang hanya duduk dan mengeluh. Sejarah selalu ditulis oleh orang-orang yang mau melangkah, meski langkah itu mengguncang zona nyaman.

Kejujuran juga sering menuai salah paham. Di hadapan mereka yang gemar basa-basi, berterus terang terasa lancang. Kejujuran memang pahit karena membongkar ilusi. Namun tanpa kejujuran, relasi menjadi rapuh dan arah hidup menjadi kabur. Berterus terang bukanlah soal kurang sopan, melainkan keberanian untuk menghormati kebenaran.

Lebih ironis lagi, di hadapan mereka yang terlalu nyaman “kesirep”—tertidur dalam keasyikan rutinitas—ajakan untuk bangkit justru dianggap ancaman. Seolah bergerak maju adalah sesuatu yang berbahaya. Padahal stagnasi adalah bahaya yang paling sunyi. Ia tidak berisik, tetapi perlahan mematikan potensi.

Baca Juga:  Mengapa Lailatulqadar Dirahasiakan?

Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya sederhana, meski tidak selalu mudah: tetaplah tegak. Bangkit. Bergerak. Bukan untuk mencari tepuk tangan, bukan pula demi pengakuan. Kita bergerak karena kita sedang menyiapkan teladan bagi generasi yang akan melanjutkan perjalanan ini.

Sejarah membuktikan, yang mengenang kita kelak bukanlah mereka yang mencemooh langkah kita, melainkan orang-orang yang sejalan dan seperjuangan. Bahkan jika kita merasa tidak memiliki pengikut, masih ada warisan yang jauh lebih berharga: anak-cucu yang hidup dengan nilai yang kita tanamkan.

Mungkin nama kita tak tercatat dengan megah, tetapi prinsip hidup kita tumbuh dalam karakter mereka. Dan itulah keabadian yang sejati.

Di sinilah perspektif jangka panjang menjadi kunci. Ada pepatah bijak yang relevan:

Jika kita merencanakan satu tahun, tanamlah padi.
Jika kita merencanakan sepuluh tahun, tanamlah pohon.
Namun jika kita merencanakan seratus tahun, tanamlah generasi yang baik.

Generasi tidak dibentuk oleh ceramah panjang semata, melainkan oleh keteladanan yang nyata. Anak muda—termasuk Generasi Z—belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar. Mereka meniru keberanian yang konsisten, kedermawanan yang tulus, kepercayaan diri yang rendah hati, kejujuran yang tegas, serta semangat bangkit yang menular.

Baca Juga:  Merawat Nikmat, Menemukan Bahagia

Karena itu, meski dunia sering salah paham, jangan buru-buru menyerah. Bisa jadi apa yang hari ini dicemooh, esok hari justru menjadi pijakan bagi banyak orang. Tetaplah berjalan di jalur nilai, bukan di jalur validasi. Sebab perubahan besar tidak lahir dari kerumunan yang nyaman, melainkan dari segelintir orang yang berani tetap tegak ketika yang lain memilih duduk.

Dan mungkin, dari keberanian itulah, lahir generasi yang lebih baik dari kita. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni