Opini

Saat Rapor Dibuka, Hati Orang Tua Diuji

43
×

Saat Rapor Dibuka, Hati Orang Tua Diuji

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Rapor anak bukan sekadar angka, melainkan cermin kedewasaan orang tua dalam menyikapi amanah pendidikan dengan cinta dan kesabaran.

Oleh Angga Adi Prasetya, M.Pd Gr.; Guru SD Muhammadiyah 1 Kota Malang, Jawa Timur.

Tagar.co – Ada momen tahunan yang sering terasa sederhana, namun sesungguhnya sarat ujian batin: saat orang tua menerima rapor anaknya. Selembar kertas itu seolah diam, tetapi mampu menggetarkan hati, memancing senyum, bahkan kadang melahirkan kata-kata yang tak semestinya terucap.

Padahal, rapor bukanlah vonis masa depan. Ia hanyalah peta perjalanan, bukan garis akhir.

Baca juga: Di Balik Angka Rapor: Pergulatan Hati Guru di Akhir Semester

Di hadapan rapor, sejatinya bukan hanya anak yang sedang dinilai, tetapi kedewasaan jiwa orang tua. Apakah kita menyambutnya dengan syukur, atau justru dengan amarah? Dengan pelukan, atau dengan perbandingan?

Para ulama salaf sejak dahulu telah mengingatkan bahwa mendidik anak bukan sekadar soal hasil, melainkan soal adab dan hati. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Man ahmala ta‘līma waladihi mā yanfa‘uhu wa tarakahu sudan faqad asā’a ilaihi ghāyatal isā’ah.

“Barang siapa menyia-nyiakan pendidikan anaknya dan membiarkannya tanpa arahan, maka sungguh ia telah berbuat buruk kepadanya dengan keburukan yang paling besar.”

Baca Juga:  Mimpi yang Dikubur, Takdir yang Menumbuhkan

Namun, keburukan itu bukan hanya dalam bentuk abai, tetapi juga dalam kata-kata yang melukai fitrah anak. Sering kali, tanpa sadar, selembar rapor menjadi alasan kita melupakan bahwa anak adalah amanah, bukan ambisi.

Jika hari ini angka-angka itu tampak membanggakan, ucapkanlah: Alhamdulillāhilladzī bini‘matihī tatimmuṣ-ṣāliḥāt. “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.”

Dan jika nilainya belum sesuai harapan, tetaplah berucap: Alhamdulillāhi ‘alā kulli ḥāl. “Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”

Sebab setiap anak memiliki waktu kemenangan yang berbeda, dan setiap usaha yang jujur lebih berharga daripada hasil yang instan. Imam Al-Ghazali rahimahullah menasihatkan:
Anak itu laksana permata yang suci. Orang tuanyalah yang akan membentuknya.

Maka, jadikan rumah sebagai tempat paling aman untuk pulang, bukan ruang pengadilan yang penuh tekanan. Jadikan rapor sebagai pintu dialog, bukan palu penghukuman.

Peluklah anak hari ini. Tatap matanya. Katakan bahwa Anda bangga bukan hanya pada hasil, tetapi pada kejujuran, ikhtiar, dan keberaniannya berproses.

Baca Juga:  Lelah tanpa Bekerja: Jebakan Scroll di Era Digital

Karena kelak, yang paling kita rindukan bukan angka-angka di rapor, melainkan doa anak saleh yang mengalir untuk orang tuanya.

Semoga Allah membimbing kita menjadi orang tua yang sabar, yang mendidik dengan cinta, dan dipertemukan kembali dengan anak-anak kita dalam rida dan surga-Nya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni