
Seringkali, ketika seorang muslimah berbuat salah, yang disalahkan bukan tindakannya, melainkan hijabnya. Bagaimana seharusnya kita menilai dan menasihati dengan bijak?
Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri Pengabdian Akademi Dakwah Indonesia Jatim
Tagar.co – Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menyaksikan pemandangan yang miris: seorang muslimah berbuat salah, tetapi yang disalahkan justru hijabnya.
Seberapa pun buruk perilaku seorang perempuan, hijabnya tidak pernah pantas dijadikan kambing hitam. Jika ingin menilai atau menegur, fokuslah pada perilakunya, bukan kain yang menutupi kepalanya.
Baca juga: Kafilah Dakwah Ramadan ADI Jatim yang Dimulai dari Meja Jualan
Dalam Islam, menutup aurat adalah kewajiban yang jelas bagi setiap muslimah. Allah berfirman dalam An-Nur ayat 31: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka…”
Dan dalam Al-Ahzab ayat 59: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka…”
Ayat-ayat ini menegaskan: hijab adalah perintah Allah, bukan sekadar simbol kesalehan atau tolak ukur kesempurnaan seseorang. Berhijab bukan berarti seorang muslimah tak pernah salah, tak punya dosa, atau sudah sempurna akhlaknya. Ia berhijab karena menaati perintah Tuhannya, meski tetap manusia biasa yang bisa tergelincir.
Namun kenyataannya, ketika seorang muslimah berbuat salah, yang disorot seringkali bukan hanya tindakannya, tetapi juga penampilannya. Ucapan seperti:
“Buat apa pakai kerudung, kalau masih begitu?”
“Buat apa pakai cadar, tapi masih salah?”
“Buat apa pakai gamis, kelakuannya begitu?”
Kalimat-kalimat semacam ini tidak hanya melukai hati, tetapi juga menggoyahkan iman. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya merasa tidak pantas mengenakan hijab karena dosanya. Mereka merasa gagal, malu, dan kehilangan keberanian untuk kembali mendekat kepada Allah.
Kasus di Dunia Hiburan
Fenomena ini kian nyata dalam dunia hiburan belakangan ini. Ketika beberapa muslimah tersandung isu perselingkuhan atau perceraian, publik tidak hanya menilai kesalahannya, tetapi juga hijabnya. Hingga ada yang memilih melepas hijab, seolah berkata dalam hati, “Sudah terlanjur, sekalian saja.”
Amat disayangkan. Seharusnya, saat itu yang ia dapatkan adalah dukungan untuk memperbaiki diri, bukan tekanan yang menjauhkan dari ketaatan yang tengah diperjuangkan.
Saya sendiri pernah merasakan pahitnya dicela karena apa yang saya kenakan dan dosa yang saya perbuat. Betapa celaan itu menggoyahkan iman, menggerus kepercayaan diri, dan hampir membuat saya menyerah. Pada titik itu, saya memahami betapa berharganya sikap lembut dalam menasihati.
Islam mengajarkan kita berdakwah bil hikmah wal mauizatil hasanah—dengan hikmah dan nasihat yang baik. Bukan dengan mencela, menghina, atau merendahkan.
Mencela dosa orang lain tidak membuat kita lebih baik. Bahkan, tanpa disadari, bisa menumbuhkan kesombongan di hati. Maka sebelum menunjuk kesalahan orang lain, tanyakan pada diri sendiri: apakah niat kita memperbaiki atau menghakimi?
Akhirnya, hijab bukan simbol kesempurnaan. Hijab adalah langkah ibadah, perjalanan taat yang kadang naik turun. Dan kita—sebagai sesama saudari seiman—seharusnya menjadi pundak yang menguatkan, bukan beban yang mendorong menjauh dari ketaatan.
Semoga kita dapat melihat dengan bijak, menasihati dengan lembut, dan berhenti menyalahkan hijab atas kesalahan manusianya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












