Feature

Saya Menemukan Islam pada Orang-Orang Muhammadiyah

32
×

Saya Menemukan Islam pada Orang-Orang Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, saat memberikan pidato secara daring dalam Perayaan Milad Ke-113 Muhammadiyah yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Gedung Muhammadiyah Jalan Keto Menanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (29/11/25).

Prof. Robert W. Hefner dan Prof. Mitsuo Nakamura menyoroti Muhammadiyah sebagai model Islam modern. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, memberikan pidato inspiratif, Sabtu (29/11/25).

Tagar.co — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, memberikan pidato inspiratif secara daring dalam Perayaan Milad Ke-113 Muhammadiyah yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Gedung Muhammadiyah Jalan Keto Menanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (29/11/25).

Pidato dibuka dengan ucapan salam dan puji syukur kepada Allah, sekaligus selawat kepada Nabi Muhammad Saw. Prof. Haedar juga menyampaikan penghormatan kepada seluruh hadirin, termasuk Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.

Baca juga: Marsinah Dapat Penghargaan Khusus dari Muhammadiyah Jatim

Menurut Haedar, Abdul Mu’ti, sebagai contoh nyata kader Muhammadiyah yang menempati posisi strategis. Ia menjelaskan bahwa kehadiran Abdul Mu’ti bukan sekadar simbol jabatan, tetapi mewakili sinergi antara organisasi dan negara dalam memajukan pendidikan, memperkuat amal usaha Muhammadiyah, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan masyarakat luas.

“Keberhasilan Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah mampu mengintegrasikan profesionalisme, amanah, dan nilai-nilai perserikatan dalam menjalankan tugas publik,” uajrnya.

Baca Juga:  PWM Jatim Angkat 'Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan' pada Kajian Ramadan 1447 di Unmuh Jember

Prof. Haedar kemudian menjelaskan ketidakhadirannya secara fisik karena jadwal padat. Ia baru tiba dari Perlis, Malaysia, dan akan melanjutkan perjalanan ke Saudi Arabia, sehingga tidak dapat hadir langsung di Gedung Muhammadiyah Jawa Timur. Meski demikian, ia yakin Abdul Mu’ti dapat mewakili pimpinan PP Muhammadiyah dalam acara ini.

Pandangan Dua Akademisi Internasional

Selanjutnya, Prof. Haedar menyoroti apresiasi publik yang terus mengalir kepada Muhammadiyah, baik di dalam negeri maupun internasional.

“Alhamdulillah, Muhammadiyah banyak memperoleh apresiasi dari berbagai pihak. Jika kita mengikuti perkembangan di media sosial, termasuk berbagai podcast yang hadir di ruang publik, penilaian terhadap Muhammadiyah cukup positif dan mencerminkan kepercayaan publik yang tinggi terhadap organisasi ini,” ungkapnya.

Belakangan, lanjutnya, Muhammadiyah bahkan memperoleh pengakuan sebagai satu-satunya organisasi keagamaan dari Indonesia yang termasuk dalam empat besar umat beragama dengan aset signifikan.

Dalam pidatonya, Prof. Haedar menyinggung dua tokoh akademisi internasional yang memberi pengakuan penting terhadap Muhammadiyah. Pertama, Prof. Robert W. Hefner, yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah adalah satu-satunya role model Islam yang mampu menerjemahkan ajaran Islam ke dalam realitas kehidupan modern.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Kedua, Prof. Haedar juga mengutip pernyataan Prof. Mitsuo Nakamura saat beberapa waktu lama berkunjung ke Kantor PP Muhammadiyah dan Suara Muhammadiyah. Haedar mengungkapkan, Nakamura yang telah lama meneliti Muhammadiyah dan Islam di Indonesia itu mengatakanSaya memukan Islam pada diri orang-orang Muhammadiyah dan pada organisasi Muhammadiyah.” 

“Maka ketika kepercayaan pandangan positif ini hadir di ruang publik, tentu kita tasyakur binikmatillah. Kita bersyukur kepada Allah bahwa itu semua karena anugerah Allah, berkah Allah dan rahmat-Nya bagi kita yang selalu berjuang di jalan-Nya,” ucapnya sambil mengutip Surah Al-Ankabut 69 dan Muhammad 47.

Tetapi pada saat yang sama, kata Haedar, kita juga menyadari bahwa semua pencapaian ini tidak lepas dari kesungguhan dan kesabaran seluruh pimpinan, kader, dan anggota perserikatan: mulai dari pusat, wilayah, daerah, cabang, ranting, hingga jemaah. Termasuk di cabang-cabang istimewa.

“Kiprah saudara-saudara dari amal usaha juga luar biasa. Mereka secara konsisten memberikan kontribusi, sesuai kapasitasnya, untuk memajukan perserikatan. Sebagai wujud rasa syukur sekaligus dalam rangka merayakan dan menyiarkan milad ke-113, kita mengakui bahwa keberhasilan ini lahir dari kerja nyata seluruh elemen Muhammadiyah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Ekoteologi Muhammadiyah: Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Dua Kutub Ekstrem

Muhasabah

Namun, Haedar juga menekankan pentingnya evaluasi dan koreksi diri. Ia mengingatkan bahwa banyak lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial lain mulai berkembang, sehingga Muhammadiyah perlu terus memperbaharui diri. Terutama lembaga-lembaga di wilayah pedesaan dan kawasan terpencil harus dibantu agar tidak tertinggal.

Prof. Haedar menyoroti fenomena “keberhasilan semu” yang muncul akibat penampilan di media sosial atau kunjungan simbolis tanpa membawa perubahan nyata. Ia mengingatkan agar Muhammadiyah mentransformasikan persepsi publik menjadi realitas di lapangan, menjaga agar organisasi benar-benar terpercaya, profesional, dan dinamis.

Ia menekankan bahwa Muhammadiyah lahir sebagai gerakan reformasi dan modernisasi. Oleh karena itu, seluruh lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial harus terus diperbarui, dengan fokus pada kesungguhan dan kerja nyata, bukan sekadar formalitas atau citra di media.

Pidato Prof. Haedar ditutup dengan pesan penting bagi seluruh kader dan pimpinan: tetap bergerak dinamis, hindari zona nyaman, tingkatkan kualitas kepemimpinan, dan selalu berorientasi pada kemajuan persyarikatan. (#)

Jurnalis Sugiran Penyunting Mohammad Nurfatoni